Perlunya Memahami Esensi Silaturahmi untuk Jaga Kerukunan Kebangsaan
Selasa, 17 Mei 2022 - 15:37 WIB
loading...
A
A
A
"Dengan itu masyarakat Indonesia menguatkan imunitasnya dari gagasan-gagasan yang merusak kemanusiaan dan persatuan," ujarnya.
KH Dian Nafi yang juga Ketua Pembina Yayasan Perdamaian Lintas Agama dan Golongan ini, bahkan menilai bahwa tradisi mudik yang identik dengan momen Lebaran, memiliki fungsi psikososial untuk memulihkan kesegaran mental guna memperbaiki penghidupan.
"Silaturahmi sudah menjadi kebutuhan masyarakat. Saling menyapa dan berkunjung. Dan mudik, bermanfaat untuk menapak kembali sejarah para pendahulu, meneguhkan kearifan tempat kelahiran, membangun kohesi sosial, pemerataan pendapatan keluarga dan pemantauan publik atas hasil-hasil pembangunan," jelas pria kelahiran Sragen, 4 April 1964 ini.
Tidak hanya itu, dirinya juga turut menanggapi terkait fenomena generasi muda yang kini terkesan enggan melestarikan dan bahkan cenderung melupakan tradisi silataurahmi yang sudah mengakar di masyarakat sejak dahulu kala.
"Generasi muda terkadang asyik dengan habitus dan gawai yang ada pada diri mereka. Di situlah muncul tantangan di kalangan orang tua dan pendidik untuk memperhatikan segi-segi relevansi di dalam muatan pendidikan dalam pengasuhan bagi anak-anak," jelasnya.
Ia menilai, keengganan generasi muda untuk bersilaturahmi sejatinya bukanlah merupakan gejala esensial dalam kehidupan bermasyarakat, melainkan suatu trend yang terbatas waktu. Dirinya bahkan memandang bahwa di kalangan sebagian generasi muda, bersilaturahmi merupakan kegembiraan kreatif yang bisa mereka abadikan di dalam vlog dan rekaman fotografis dan videografis.
"Persepsi generasi muda terhadap kehidupan tradisional tidak harus selalu dilihat dalam kerangka baik dan buruk. Itu muncul sebagai realitas dan dinamika. sebagai konsekuensi logis atas penguasaan ilmu pengetahuan dan wawasan baru oleh kalangan generasi muda," tegasnya.
Oleh karenanya, pria yang kerap terlibat dalam konferensi perdamaian di beberapa negara ini, menilai setidaknya ada empat harmoni yang perlu dijadikan pembekalan terhadap generasi muda termasuk sejarah perjuangan bangsa di masa lalu.
"Pertama, harmoni alamiah, yaitu generasi muda berhak dan butuh untuk mengeksplorasi lingkungan alamiahnya. ini penting untuk menamkan kecintaan kepada bumi pertiwi dan wawasan kedaulatan teritorial Indonesia," ucapnya.
Yang kedua, harmoni sosial, yang memuat di dalamnya ihwal kerukuan di antara sesama warga bangsa yang merupakan modalitas hidup yang dinamis, yang menggerakkan rumah tangga alam (ekologi) Indonesia dan rumah tangga manusia (ekonomi).
KH Dian Nafi yang juga Ketua Pembina Yayasan Perdamaian Lintas Agama dan Golongan ini, bahkan menilai bahwa tradisi mudik yang identik dengan momen Lebaran, memiliki fungsi psikososial untuk memulihkan kesegaran mental guna memperbaiki penghidupan.
"Silaturahmi sudah menjadi kebutuhan masyarakat. Saling menyapa dan berkunjung. Dan mudik, bermanfaat untuk menapak kembali sejarah para pendahulu, meneguhkan kearifan tempat kelahiran, membangun kohesi sosial, pemerataan pendapatan keluarga dan pemantauan publik atas hasil-hasil pembangunan," jelas pria kelahiran Sragen, 4 April 1964 ini.
Tidak hanya itu, dirinya juga turut menanggapi terkait fenomena generasi muda yang kini terkesan enggan melestarikan dan bahkan cenderung melupakan tradisi silataurahmi yang sudah mengakar di masyarakat sejak dahulu kala.
"Generasi muda terkadang asyik dengan habitus dan gawai yang ada pada diri mereka. Di situlah muncul tantangan di kalangan orang tua dan pendidik untuk memperhatikan segi-segi relevansi di dalam muatan pendidikan dalam pengasuhan bagi anak-anak," jelasnya.
Ia menilai, keengganan generasi muda untuk bersilaturahmi sejatinya bukanlah merupakan gejala esensial dalam kehidupan bermasyarakat, melainkan suatu trend yang terbatas waktu. Dirinya bahkan memandang bahwa di kalangan sebagian generasi muda, bersilaturahmi merupakan kegembiraan kreatif yang bisa mereka abadikan di dalam vlog dan rekaman fotografis dan videografis.
"Persepsi generasi muda terhadap kehidupan tradisional tidak harus selalu dilihat dalam kerangka baik dan buruk. Itu muncul sebagai realitas dan dinamika. sebagai konsekuensi logis atas penguasaan ilmu pengetahuan dan wawasan baru oleh kalangan generasi muda," tegasnya.
Oleh karenanya, pria yang kerap terlibat dalam konferensi perdamaian di beberapa negara ini, menilai setidaknya ada empat harmoni yang perlu dijadikan pembekalan terhadap generasi muda termasuk sejarah perjuangan bangsa di masa lalu.
"Pertama, harmoni alamiah, yaitu generasi muda berhak dan butuh untuk mengeksplorasi lingkungan alamiahnya. ini penting untuk menamkan kecintaan kepada bumi pertiwi dan wawasan kedaulatan teritorial Indonesia," ucapnya.
Yang kedua, harmoni sosial, yang memuat di dalamnya ihwal kerukuan di antara sesama warga bangsa yang merupakan modalitas hidup yang dinamis, yang menggerakkan rumah tangga alam (ekologi) Indonesia dan rumah tangga manusia (ekonomi).
Lihat Juga :