Kisah Harun Al-Rasyid di Bawah Ancaman Dinasti Idrisiyah dan Kekaisaran Carolingian
Selasa, 31 Mei 2022 - 18:25 WIB
loading...
A
A
A
Hal pertama yang dilakukan oleh Shumakh ketika sampai di Maroko, adalah membaiat Idris dan menyatakan kebencian pada Harun Al-Rasyid. Ini dilakukannya untuk menarik simpati dari penguasa Idrisiyah.
Lambat laun, dia pun berhasil masuk dalam lingkaran istana Idris dan menjadi salah satu orang kepercayaannya. Cukup lama Shumakh menunggu waktu yang tepat untuk melakukan eksekusinya secara sempurna.
Baru di tahun 177 H, dia menemukan kesempatan tersebut. Suatu hari dia berhasil memasukkan racun ke minuman Idris yang mengakibatkannya meninggal dunia. Setelah misinya berhasil, Shumakh pun kembali ke Baghdad.
Akan tetapi, meski pun ditinggal mati oleh pendirinya, Dinasti Idrisiyah tetap berdiri. Kelak Idris bin Abdullah digantikan oleh putranya yang lahir dari wanita keturunan Barber. Anak itu juga bernama Idris seperti ayahnya.
Baca juga: Kisah Khalifah Al-Hadi: Menjabat karena Dukungan Harun Al-Rasyid
Putranya ini berhasil memperluas wilayah kekuasaannya hingga berhasil merebut Tunisia. Pada era Harun Al-Rasyid, wilayah terirorial Abbasiyah yang awalnya direbut dari Umayyah, pelan-pelan menyusut.
Kekaisaran Carolingian
Sementara itu, di tempat yang berbeda, tepatnya di daratan Eropa Barat, lahir sebuah imperium baru bernama Kekaisaran Carolingian. Kekaisaran ini didirikan oleh Charles Martel tokoh legendaris Eropa yang mencuat namanya setelah berhasil menghalau penetrasi Bani Umayyah dalam pertempuran di daerah Tours (Prancis sekarang) pada tahun 732 M.
Pertempuran bersejarah ini kemudian dikenal masyarakat barat dengan istilah “Battle of Tours”. Kemenangannya dalam Battle of Tours ini menjadi sumber inspirasi perlawanan bangsa Eropa yang ketika itu sudah pesimis dengan daya tahan mereka menghadapi gempuran kaum Muslimin yang terus berekspansi di selatan (Semenjung Iberia).
Setelah Battle of Tours, tidak terdengar lagi adanya rencana Bani Umayyah di Andalusia untuk meluaskan kekuasaanya di Eropa. Tidak mengherankan bila di kemudian hari, para sejarawan menganggap bahwa kemenangan Charles Martel dalam pertempuran ini tidak hanya menyelamatkan Eropa dari kooptasi kaum Muslimin, tapi juga menyelamatkan agama Kristen dari kepunahan.
Di Eropa, nama Charles Martel melambung menjadi simbol nasionalisme dan agama. Kemenangannya dalam Battle of Tours menjadi sumber legitimasi untuk mendirikan kekuasaan yang lebih besar dari sekadar wilayah tradisional Prancis atau yang lebih dikenal sebagai bangsa Frank.
Dari sinilah lahir kekaisaran Carolingian, yang menjadi dasar berdirinya identitas bangsa Eropa yang kita kenal hari ini. Kekaisaran ini mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan cucu Charles Martel yang bernama Charlemagne. Dia dilantik menjadi raja Carolingian pada 768 M dan wafat pada tahun 814, atau sezaman dengan Harun Al-Rasyid yang memerintah selama 22 tahun, dari tahun 170 H/ 787 M sampai 192 H/ 809M.
Lambat laun, dia pun berhasil masuk dalam lingkaran istana Idris dan menjadi salah satu orang kepercayaannya. Cukup lama Shumakh menunggu waktu yang tepat untuk melakukan eksekusinya secara sempurna.
Baru di tahun 177 H, dia menemukan kesempatan tersebut. Suatu hari dia berhasil memasukkan racun ke minuman Idris yang mengakibatkannya meninggal dunia. Setelah misinya berhasil, Shumakh pun kembali ke Baghdad.
Akan tetapi, meski pun ditinggal mati oleh pendirinya, Dinasti Idrisiyah tetap berdiri. Kelak Idris bin Abdullah digantikan oleh putranya yang lahir dari wanita keturunan Barber. Anak itu juga bernama Idris seperti ayahnya.
Baca juga: Kisah Khalifah Al-Hadi: Menjabat karena Dukungan Harun Al-Rasyid
Putranya ini berhasil memperluas wilayah kekuasaannya hingga berhasil merebut Tunisia. Pada era Harun Al-Rasyid, wilayah terirorial Abbasiyah yang awalnya direbut dari Umayyah, pelan-pelan menyusut.
Kekaisaran Carolingian
Sementara itu, di tempat yang berbeda, tepatnya di daratan Eropa Barat, lahir sebuah imperium baru bernama Kekaisaran Carolingian. Kekaisaran ini didirikan oleh Charles Martel tokoh legendaris Eropa yang mencuat namanya setelah berhasil menghalau penetrasi Bani Umayyah dalam pertempuran di daerah Tours (Prancis sekarang) pada tahun 732 M.
Pertempuran bersejarah ini kemudian dikenal masyarakat barat dengan istilah “Battle of Tours”. Kemenangannya dalam Battle of Tours ini menjadi sumber inspirasi perlawanan bangsa Eropa yang ketika itu sudah pesimis dengan daya tahan mereka menghadapi gempuran kaum Muslimin yang terus berekspansi di selatan (Semenjung Iberia).
Setelah Battle of Tours, tidak terdengar lagi adanya rencana Bani Umayyah di Andalusia untuk meluaskan kekuasaanya di Eropa. Tidak mengherankan bila di kemudian hari, para sejarawan menganggap bahwa kemenangan Charles Martel dalam pertempuran ini tidak hanya menyelamatkan Eropa dari kooptasi kaum Muslimin, tapi juga menyelamatkan agama Kristen dari kepunahan.
Di Eropa, nama Charles Martel melambung menjadi simbol nasionalisme dan agama. Kemenangannya dalam Battle of Tours menjadi sumber legitimasi untuk mendirikan kekuasaan yang lebih besar dari sekadar wilayah tradisional Prancis atau yang lebih dikenal sebagai bangsa Frank.
Dari sinilah lahir kekaisaran Carolingian, yang menjadi dasar berdirinya identitas bangsa Eropa yang kita kenal hari ini. Kekaisaran ini mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan cucu Charles Martel yang bernama Charlemagne. Dia dilantik menjadi raja Carolingian pada 768 M dan wafat pada tahun 814, atau sezaman dengan Harun Al-Rasyid yang memerintah selama 22 tahun, dari tahun 170 H/ 787 M sampai 192 H/ 809M.
Lihat Juga :