3 Kisah Nasib Buruk Mereka yang Menghina Hadis Nabi Muhammad SAW

loading...
3 Kisah Nasib Buruk Mereka yang Menghina Hadis Nabi Muhammad SAW
Para penghina hadis Nabi bernasib buruk sebagaimana dikisahkan sejumlah ulama. Foto/Ilustrasi: Ist
Berikut ini adalah tiga kisah nasib buruk mereka yang menghina hadis Rasulullah SAW yang dihimpun Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi dalam bukunya berjudul "Aneh dan Lucu".

Kisah pertama disampaikan oleh Imam Dzahabi dari al-Qadhi Abu Thayyib. "Suatu kali, kami pernah ta’lim (pengajian) di Masjid Jami’ al-Manshur lalu tiba-tiba datang seorang pemuda dari Khurasan menanyakan perihal masalah ‘al-Musharrah’ serta meminta dalilnya sekaligus.

Baca juga: 4 Hadis Palsu tentang Dunia Menurut Syaikh Al-Albani

Pertanyaan pemuda itu pun dijawab dengan membawakan hadis Abu Hurairah ra tentangnya. Pemuda itu mengatakan dengan nada mencela, ‘Abu Hurairah tidak diterima haditsnya!’

Belum selesai ucapannya, kemudian ada ular besar yang menjatuhinya dari atap masjid. Melihat ular itu, para jamaah berlarian ketakutan. Ular tersebut terus mengejar pemuda tadi yang juga sedang berlari. Dikatakan kepadanya, ‘Taubatlah! Taubatlah!’ Pemuda itu mengatakan, ‘Saya bertaubat.’ Akhirnya, ular itu pun hilang tiada membawa bekas.”

Imam Dzahabi berkomentar, “Sanadnya para tokoh imam. Abu Hurairah Radhiallahu’anhu merupakan sosok sahabat yang sangat kuat hafalannya terhadap hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara huruf per huruf dan beliau telah menyampaikan hadis tentang ‘al-Musharrah’ secara lafalnya. Maka wajib bagi kita untuk mengamalkannya. Inilah pokok masalah.”

Baca juga: Kisah Penebar Hadis Palsu di Zaman Imam Ahmad bin Hanbal

Selanjutnya, kisah kedua disampaikan oleh Imam Muhammad bin Isma’il. Dalam kitabnya, Syarh Shahih Muslim beliau berkata:, “Saya mendengar dalam sebagian hikayat bahwa ada sebagian ahli bid’ah ketika mendengar sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنَ اللَّيْلِ فَلَا يَغْمِسْ يَدَهُ فِي الإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَإِنَّهُ لَا يَدْرِى أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ

‘Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya maka janganlah dia memasukkan tangannya ke bejana sehingga dia mencucinya terlebih dahulu, sebab dia tidak tahu di mana tangannya bermalam.’ (HR Muslim: 103)

Ahli bid’ah itu dengan nada mencela berkomentar, ‘Saya tahu kok di mana tanganku bermalam, ya di atas kasur!’ Maka tatkala (terbangun) di pagi hari, ternyata dia memasukkan tangannya ke duburnya hingga sampai siku-sikunya!”

Imam at-Taimi mengomentari kisah di atas, “Maka hendaknya seorang takut dari merendahkan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lihatlah kesudahan mereka yang sangat mengenaskan di atas.”

Imam Nawawi berkata setelah membawakan kisah di atas, “Mirip dengan kasus ini adalah apa yang fakta terjadi pada zaman kita sekarang ini dan beritanya mutawatir serta telah shahih menurut para hakim bahwa ada seorang yang beraqidah jelek dari kota Bushra pada awal tahun 665 H."

Baca juga: Hadis-hadis Tentang Dianjurkannya Tersenyum

Dia punya seorang anak yang saleh. Suatu hari, anaknya datang dari gurunya yang saleh membawa siwak. Ayahnya mengatakan dengan nada mengejek, “Gurumu memberimu apa?” Jawab sang anak, “Siwak ini.” Lalu sang ayah mengambil siwak tersebut dan meletakkan di duburnya sebagai penghinaan.

Selang beberapa hari, ayah tersebut mengeluarkan dari duburnya sejenis ikan. Lalu setelah itu atau selang dua hari berikutnya orang itu meninggal dunia.

Kisah ketiga, disampaikan Abu Yahya Zakaria as-Saji. Beliau berkata, “Pernah kami berjalan di kampung kota Bashrah menuju rumah sebagian ahli hadis. Kami pun tergesa-gesa berjalan cepat menuju rumahnya. Dalam rombongan kami ada seorang yang tertuduh agamanya berkomentar dengan nada mengejek, ‘Angkatlah kaki kalian dari sayap para malaikat, janganlah kalian memecahkannya!’ Ternyata, dia seketika itu juga tidak bisa berjalan, dia tetap di tempatnya sampai kedua kakinya kering dan jatuh.”

Kisah semisal juga diceritakan oleh ad-Dainawari dari Ahmad bin Syu’aib, Abu Dawud as-Sijistani berkata, “Suatu saat ketika kami belajar kepada seorang ahli hadis, ketika guru kami menyampaikan hadits Nabi SAW: ‘Para malaikat meletakkan sayapnya untuk para penuntut ilmu.’

Di dalam majelis ada seorang Mu’tazilah yang melecehkan hadis ini seraya mengatakan, ‘Demi Allah, besok saya akan mengenakan sandal yang berpaku lalu akan kuinjakkan ke sayap para malaikat!’ Dia pun melakukannya, dan kedua kakinya langsung keras sehingga dimakan oleh rayap.”

Baca juga: Hadis-hadis Tentang Doa Mustajab
(mhy)
preload video