3 Kisah Nasib Buruk Mereka yang Menghina Hadis Nabi Muhammad SAW
Sabtu, 18 Juni 2022 - 17:18 WIB
loading...
Para penghina hadis Nabi bernasib buruk sebagaimana dikisahkan sejumlah ulama. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Berikut ini adalah tiga kisah nasib buruk mereka yang menghina hadis Rasulullah SAW yang dihimpun Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi dalam bukunya berjudul "Aneh dan Lucu".
Kisah pertama disampaikan oleh Imam Dzahabi dari al-Qadhi Abu Thayyib. "Suatu kali, kami pernah ta’lim (pengajian) di Masjid Jami’ al-Manshur lalu tiba-tiba datang seorang pemuda dari Khurasan menanyakan perihal masalah ‘al-Musharrah’ serta meminta dalilnya sekaligus.
Baca juga: 4 Hadis Palsu tentang Dunia Menurut Syaikh Al-Albani
Pertanyaan pemuda itu pun dijawab dengan membawakan hadis Abu Hurairah ra tentangnya. Pemuda itu mengatakan dengan nada mencela, ‘Abu Hurairah tidak diterima haditsnya!’
Belum selesai ucapannya, kemudian ada ular besar yang menjatuhinya dari atap masjid. Melihat ular itu, para jamaah berlarian ketakutan. Ular tersebut terus mengejar pemuda tadi yang juga sedang berlari. Dikatakan kepadanya, ‘Taubatlah! Taubatlah!’ Pemuda itu mengatakan, ‘Saya bertaubat.’ Akhirnya, ular itu pun hilang tiada membawa bekas.”
Imam Dzahabi berkomentar, “Sanadnya para tokoh imam. Abu Hurairah Radhiallahu’anhu merupakan sosok sahabat yang sangat kuat hafalannya terhadap hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara huruf per huruf dan beliau telah menyampaikan hadis tentang ‘al-Musharrah’ secara lafalnya. Maka wajib bagi kita untuk mengamalkannya. Inilah pokok masalah.”
Baca juga: Kisah Penebar Hadis Palsu di Zaman Imam Ahmad bin Hanbal
Selanjutnya, kisah kedua disampaikan oleh Imam Muhammad bin Isma’il. Dalam kitabnya, Syarh Shahih Muslim beliau berkata:, “Saya mendengar dalam sebagian hikayat bahwa ada sebagian ahli bid’ah ketika mendengar sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنَ اللَّيْلِ فَلَا يَغْمِسْ يَدَهُ فِي الإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَإِنَّهُ لَا يَدْرِى أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ
‘Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya maka janganlah dia memasukkan tangannya ke bejana sehingga dia mencucinya terlebih dahulu, sebab dia tidak tahu di mana tangannya bermalam.’ (HR Muslim: 103)
Kisah pertama disampaikan oleh Imam Dzahabi dari al-Qadhi Abu Thayyib. "Suatu kali, kami pernah ta’lim (pengajian) di Masjid Jami’ al-Manshur lalu tiba-tiba datang seorang pemuda dari Khurasan menanyakan perihal masalah ‘al-Musharrah’ serta meminta dalilnya sekaligus.
Baca juga: 4 Hadis Palsu tentang Dunia Menurut Syaikh Al-Albani
Pertanyaan pemuda itu pun dijawab dengan membawakan hadis Abu Hurairah ra tentangnya. Pemuda itu mengatakan dengan nada mencela, ‘Abu Hurairah tidak diterima haditsnya!’
Belum selesai ucapannya, kemudian ada ular besar yang menjatuhinya dari atap masjid. Melihat ular itu, para jamaah berlarian ketakutan. Ular tersebut terus mengejar pemuda tadi yang juga sedang berlari. Dikatakan kepadanya, ‘Taubatlah! Taubatlah!’ Pemuda itu mengatakan, ‘Saya bertaubat.’ Akhirnya, ular itu pun hilang tiada membawa bekas.”
Imam Dzahabi berkomentar, “Sanadnya para tokoh imam. Abu Hurairah Radhiallahu’anhu merupakan sosok sahabat yang sangat kuat hafalannya terhadap hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara huruf per huruf dan beliau telah menyampaikan hadis tentang ‘al-Musharrah’ secara lafalnya. Maka wajib bagi kita untuk mengamalkannya. Inilah pokok masalah.”
Baca juga: Kisah Penebar Hadis Palsu di Zaman Imam Ahmad bin Hanbal
Selanjutnya, kisah kedua disampaikan oleh Imam Muhammad bin Isma’il. Dalam kitabnya, Syarh Shahih Muslim beliau berkata:, “Saya mendengar dalam sebagian hikayat bahwa ada sebagian ahli bid’ah ketika mendengar sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنَ اللَّيْلِ فَلَا يَغْمِسْ يَدَهُ فِي الإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَإِنَّهُ لَا يَدْرِى أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ
‘Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya maka janganlah dia memasukkan tangannya ke bejana sehingga dia mencucinya terlebih dahulu, sebab dia tidak tahu di mana tangannya bermalam.’ (HR Muslim: 103)
Lihat Juga :