3 Hadis Dhaif tentang Negeri Syam dan Perempuan Cantik
Senin, 20 Juni 2022 - 16:29 WIB
loading...
A
A
A
Menurut al-Albani, hadis tersebut tidak ada sumbernya dalam kumpulan hadis marfu'. Barangkali riwayat tersebut termasuk Israiliat.
"Dalam sanadnya terdapat al-Mas'udi yaitu nama Abdur Rahman bin Abdullah yang dikenal lemah atau dha'if," katanya.
Selanjutnya adalah hadis tentang perempuan yang berbunyi:
"Hati-hatilah (jauhilah) olehmu hijaunya kotoran ternak." Beliau ditanya, 'Apa makna hijaunya kotoran ternak?' Rasul menjawab, 'Yaitu wanita cantik yang tumbuh di lingkungan buruk.'"
Al-Albani mengatakan hadis tersebut lemah sekali. Ia diriwayatkan oleh al-Qidha'i dalam musnad asy Syihab I/81 dari sanad al-Waqidi. Juga dimuat dalam Ihya II/38. Ad-Daru Quthni mengatakan, "Hadis ini tunggal dari al-Waqidi dan dia adalah dha'if."
Menurut al-Albani, bahkan dia itu termasuk yang matruk (ditinggalkan riwayatnya), sedangkan Imam Ahmad, Nasa'i, Ibnul Mudayni, dan lainnya menganggapnya dusta.
Menurutnya, hal itu bertentangan dengan kaidah-kaidah yang lazim di kalangan para pakar hadis, misalnya al-Jarhul-Mubinu Muqqaddamun 'alat-Ta'dili (kecaman/kritik yang jelas dan rinci lebih diutamakan daripada pujian atau pengakuan baik).
Baca juga: Kisah Penebar Hadis Palsu di Zaman Imam Ahmad bin Hanbal
"Dalam sanadnya terdapat al-Mas'udi yaitu nama Abdur Rahman bin Abdullah yang dikenal lemah atau dha'if," katanya.
Selanjutnya adalah hadis tentang perempuan yang berbunyi:
"Hati-hatilah (jauhilah) olehmu hijaunya kotoran ternak." Beliau ditanya, 'Apa makna hijaunya kotoran ternak?' Rasul menjawab, 'Yaitu wanita cantik yang tumbuh di lingkungan buruk.'"
Al-Albani mengatakan hadis tersebut lemah sekali. Ia diriwayatkan oleh al-Qidha'i dalam musnad asy Syihab I/81 dari sanad al-Waqidi. Juga dimuat dalam Ihya II/38. Ad-Daru Quthni mengatakan, "Hadis ini tunggal dari al-Waqidi dan dia adalah dha'if."
Menurut al-Albani, bahkan dia itu termasuk yang matruk (ditinggalkan riwayatnya), sedangkan Imam Ahmad, Nasa'i, Ibnul Mudayni, dan lainnya menganggapnya dusta.
Menurutnya, hal itu bertentangan dengan kaidah-kaidah yang lazim di kalangan para pakar hadis, misalnya al-Jarhul-Mubinu Muqqaddamun 'alat-Ta'dili (kecaman/kritik yang jelas dan rinci lebih diutamakan daripada pujian atau pengakuan baik).
Baca juga: Kisah Penebar Hadis Palsu di Zaman Imam Ahmad bin Hanbal
(mhy)
Lihat Juga :