Haji dan Panggilan Kemanusiaan
Kamis, 30 Juni 2022 - 19:33 WIB
loading...
Imam Shamsi Ali, Direktur/Imam Jamaica Muslim Center. Foto/Ist
A
A
A
Imam Shamsi Ali
Imam/Direktur Jamaica Muslim Center,
Presiden Nusantara Foundation
Saat ini umat Islam di seluruh dunia bersiap-siap menyambut datangnya hari-hari penting di bulan haji. Bahkan saat ini pun musim haji yang penuh hiruk pikuk itu telah mulai terasa. Penerbangan jamaah haji dari berbagai negara dunia sudah dilakukan sejak beberapa waktu terakhir.
Haji memang adalah ibadah yang paling menghebohkan. Tentu selain karena merupakan kewajiban sekali se umur hidup. Juga karena Haji itu memerlukan persiapan yang banyak. Apalagi dalam konteks Indonesia yang antreannya di saat suasana tidak normal ini mencapai 99 tahun di beberapa daerah.
Sehingga wajar ketika seseorang terpilih melaksanakan ibadah ini menjadi kebahagiaan sekaligus kehormatan komunal yang besar. Di berbagai daerah diekspresikan dengan berbagai tradisi yang berbeda.
Tapi yang pasti ada satu hal yang menarik dari panggilan menunaikan ibadah haji ini dalam Al-Qur'an. Allah tidak lagi menggunakan kata spesifik "orang-orang beriman," yang biasanya dipahami secara konsensus sebagai panggilan kepada umat Islam.
Ketika Allah memanggil orang-orang beriman untuk menunaikan ibadah haji, justru penggilan itu bersifat kemanusiaan. Panggilan yang bersifat universal, seolah tanpa batas.
Hal ini dapat kita lihat pada ayat-ayat berikut: "Dan kumandangkan kepada 'manusia' untuk menunaikan ibadah haji. Niscaya mereka akan datang kepadamu berjalan kaki atau dengan onta-onta jinak. Mereka datang dari tempat-tempat yang jauh." (QS Al-Haj: 28)
"Dan bagi Allah atas 'manusia' untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah bagi siapa yang mampu melakukannya." (QS. Ali Imran: 97)
Penyebutan "An-Naas" dalam ayat-ayat haji di atas merupakan indikasi jelas akan panggilan universal ini. Sekaligus deklarasi umum bahwa Islam adalah "hudan lin-naas" atau petunjuk universal bagi seluruh manusia.
Panggilan universal kemanusiaan ini juga sekaligus menggarisbawahi persaudaraan universalitas dalam Islam. Bahwa dalam Islam semua manusia itu bersaudara secara asal. Semua berasal dari Adam dan Hawa. Dan Adam berasal dari tanah.
Panggilan universalitas ini juga sekaligus mengingatkan saya tentang rasisme dan tendensi meningginya "White Supremacy" di dunia Barat. Seolah manusia terkotak dan nilainya ada pada ras dan warna kulitnya.
Panggilan kemanusiaan universal juga mengingatkan universalitas "kesetaraan manusia" (human equality) yang pernah dideklarasikan Rasul Allah, Muhammad SAW, di Padang Arafah. Bahkan jauh sebelum Komisi HAM melakukan hal sama hanya diabad lalu.
Secara khusus, amalan-amalan haji pada galibnya berhubungan dengan Nabi Allah Ibrahim. Juga sebuah indikasi bahwa Islam itu adalah dasar dari agama-agama monoteisme. Ibrahimlah pertama kali yang sesungguhnya mengumumkan jika umat monoteis itu bernama "Muslim".
Imam/Direktur Jamaica Muslim Center,
Presiden Nusantara Foundation
Saat ini umat Islam di seluruh dunia bersiap-siap menyambut datangnya hari-hari penting di bulan haji. Bahkan saat ini pun musim haji yang penuh hiruk pikuk itu telah mulai terasa. Penerbangan jamaah haji dari berbagai negara dunia sudah dilakukan sejak beberapa waktu terakhir.
Haji memang adalah ibadah yang paling menghebohkan. Tentu selain karena merupakan kewajiban sekali se umur hidup. Juga karena Haji itu memerlukan persiapan yang banyak. Apalagi dalam konteks Indonesia yang antreannya di saat suasana tidak normal ini mencapai 99 tahun di beberapa daerah.
Sehingga wajar ketika seseorang terpilih melaksanakan ibadah ini menjadi kebahagiaan sekaligus kehormatan komunal yang besar. Di berbagai daerah diekspresikan dengan berbagai tradisi yang berbeda.
Tapi yang pasti ada satu hal yang menarik dari panggilan menunaikan ibadah haji ini dalam Al-Qur'an. Allah tidak lagi menggunakan kata spesifik "orang-orang beriman," yang biasanya dipahami secara konsensus sebagai panggilan kepada umat Islam.
Ketika Allah memanggil orang-orang beriman untuk menunaikan ibadah haji, justru penggilan itu bersifat kemanusiaan. Panggilan yang bersifat universal, seolah tanpa batas.
Hal ini dapat kita lihat pada ayat-ayat berikut: "Dan kumandangkan kepada 'manusia' untuk menunaikan ibadah haji. Niscaya mereka akan datang kepadamu berjalan kaki atau dengan onta-onta jinak. Mereka datang dari tempat-tempat yang jauh." (QS Al-Haj: 28)
"Dan bagi Allah atas 'manusia' untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah bagi siapa yang mampu melakukannya." (QS. Ali Imran: 97)
Penyebutan "An-Naas" dalam ayat-ayat haji di atas merupakan indikasi jelas akan panggilan universal ini. Sekaligus deklarasi umum bahwa Islam adalah "hudan lin-naas" atau petunjuk universal bagi seluruh manusia.
Panggilan universal kemanusiaan ini juga sekaligus menggarisbawahi persaudaraan universalitas dalam Islam. Bahwa dalam Islam semua manusia itu bersaudara secara asal. Semua berasal dari Adam dan Hawa. Dan Adam berasal dari tanah.
Panggilan universalitas ini juga sekaligus mengingatkan saya tentang rasisme dan tendensi meningginya "White Supremacy" di dunia Barat. Seolah manusia terkotak dan nilainya ada pada ras dan warna kulitnya.
Panggilan kemanusiaan universal juga mengingatkan universalitas "kesetaraan manusia" (human equality) yang pernah dideklarasikan Rasul Allah, Muhammad SAW, di Padang Arafah. Bahkan jauh sebelum Komisi HAM melakukan hal sama hanya diabad lalu.
Secara khusus, amalan-amalan haji pada galibnya berhubungan dengan Nabi Allah Ibrahim. Juga sebuah indikasi bahwa Islam itu adalah dasar dari agama-agama monoteisme. Ibrahimlah pertama kali yang sesungguhnya mengumumkan jika umat monoteis itu bernama "Muslim".
Lihat Juga :