Tafsir Surat Al-Kahfi Ayat 27 dan Ketika Kaum Musyrik Memesan Ayat Sesuai Keinginannya
Jum'at, 01 Juli 2022 - 16:51 WIB
loading...
A
A
A
Allah SWT berfirman: Allah menghapus dan menetapkan apa yang Dia kehendaki. Dan di sisi-Nya terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfudh). ( QS ar-Ra'd/13 : 39)
Pergantian ayat oleh Allah dalam Al-Qur'an dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang lebih besar manfaatnya, sebagaimana firman-Nya: "Dan apabila Kami mengganti suatu ayat dengan ayat yang lain, dan Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya". ( QS an-Nahl/16 : 101)
Segala ketentuan atau hukum yang telah ditetapkan Allah haruslah dipatuhi. Jika tidak, pasti akan ada hukuman yang diberikan Allah sesuai dengan apa yang sebelumnya telah diancamkan kepada orang-orang yang melanggar garis-garis yang ditetapkan-Nya. Tak seorang pun yang dapat menjadi pelindung, kecuali Allah SAW karena kekuasaan-Nya meliputi makhluk-Nya. Tak seorangpun yang dapat lolos dari hukuman yang telah ditetapkan-Nya.
Baca juga: Surat Al-Kahfi Ayat 19-20: Kisah Ashabul Kahfi Terbangun dari Tidur Panjang
Menentang
Ibnu ‘Asyur menyampaikan dalam kitab tafsirnya "al-Tahrir wat Tanwir" bahwa salah satu karakter orang musyrik itu hanya menyukai wahyu-wahyu Nabi Muhammad yang memuji-muji kelompok mereka saja.
Saat dikritik mengenai kemusyrikan dan kesesatan, musyrik Mekkah tidak terima dan menentang. Padahal Nabi Muhammad menyampaikan wahyu apa adanya, tak diubah-ubah sesuai kepentingan Nabi pribadi, termasuk cerita mengenai Ashabul Kahfi dan Zulkarnain dalam surat al-Kahfi ini.
Sementara itu, menurut Syekh Mutawalli al-Sya‘rawi, ayat ini bertujuan untuk menguatkan Nabi dari tipu daya musyrik Mekkah. “Kamu itu punya Allah yang selalu menjagamu, tidak akan meninggalkanmu sendirian, dan tak akan membiarkan mereka melakukan tipu daya terhadapmu. Jika mereka mempersulitmu, Allah akan membantu. Akan tetapi, cobaan dan rintangan yang menghalangi dakwahmu itu pasti ada. Jika pertolongan Allah terlambat datang, yakinlah bahwa Allah itu sengaja mempersiapkan bala tentaranya membantumu nanti. Mereka yang beriman hanyalah orang-orang yang kuat dan matang. Cobaan dan rintangan yang dihadapi orang beriman itu sejatinya untuk membersihkan diri mereka agar terus selamat membawa akidah tauhid ini,” jelas Syekh Mutawalli al-Sya‘rawi.
Karena Allah Maha Esa, tak ada yang dapat menandingi-Nya. Oleh karena itu, Allah merdeka dalam menentukan apa yang dikehendaki oleh-Nya. Selain itu, hanya pada-Nya lah, engkau (wahai Muhammad) memohon perlindungan (dari segala macam gangguan dan rintangan dakwah yang dihadapi.
Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim juga menyampaikan bahwa Nabi diperintah untuk menyampaikan semua wahyu pada umatnya, sekalipun berimplikasi pada hal-hal yang tidak menyenangkan bagi Nabi. Oleh karena itu, Nabi diperintahkan untuk pasrah hanya pada Allah, karena tidak ada tempat berlindung kecuali pada Allah semata.
Baca juga: Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 17-18 dan Misteri Gua Ashabul Kahfi
Pergantian ayat oleh Allah dalam Al-Qur'an dimaksudkan untuk mencapai tujuan yang lebih besar manfaatnya, sebagaimana firman-Nya: "Dan apabila Kami mengganti suatu ayat dengan ayat yang lain, dan Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya". ( QS an-Nahl/16 : 101)
Segala ketentuan atau hukum yang telah ditetapkan Allah haruslah dipatuhi. Jika tidak, pasti akan ada hukuman yang diberikan Allah sesuai dengan apa yang sebelumnya telah diancamkan kepada orang-orang yang melanggar garis-garis yang ditetapkan-Nya. Tak seorang pun yang dapat menjadi pelindung, kecuali Allah SAW karena kekuasaan-Nya meliputi makhluk-Nya. Tak seorangpun yang dapat lolos dari hukuman yang telah ditetapkan-Nya.
Baca juga: Surat Al-Kahfi Ayat 19-20: Kisah Ashabul Kahfi Terbangun dari Tidur Panjang
Menentang
Ibnu ‘Asyur menyampaikan dalam kitab tafsirnya "al-Tahrir wat Tanwir" bahwa salah satu karakter orang musyrik itu hanya menyukai wahyu-wahyu Nabi Muhammad yang memuji-muji kelompok mereka saja.
Saat dikritik mengenai kemusyrikan dan kesesatan, musyrik Mekkah tidak terima dan menentang. Padahal Nabi Muhammad menyampaikan wahyu apa adanya, tak diubah-ubah sesuai kepentingan Nabi pribadi, termasuk cerita mengenai Ashabul Kahfi dan Zulkarnain dalam surat al-Kahfi ini.
Sementara itu, menurut Syekh Mutawalli al-Sya‘rawi, ayat ini bertujuan untuk menguatkan Nabi dari tipu daya musyrik Mekkah. “Kamu itu punya Allah yang selalu menjagamu, tidak akan meninggalkanmu sendirian, dan tak akan membiarkan mereka melakukan tipu daya terhadapmu. Jika mereka mempersulitmu, Allah akan membantu. Akan tetapi, cobaan dan rintangan yang menghalangi dakwahmu itu pasti ada. Jika pertolongan Allah terlambat datang, yakinlah bahwa Allah itu sengaja mempersiapkan bala tentaranya membantumu nanti. Mereka yang beriman hanyalah orang-orang yang kuat dan matang. Cobaan dan rintangan yang dihadapi orang beriman itu sejatinya untuk membersihkan diri mereka agar terus selamat membawa akidah tauhid ini,” jelas Syekh Mutawalli al-Sya‘rawi.
Karena Allah Maha Esa, tak ada yang dapat menandingi-Nya. Oleh karena itu, Allah merdeka dalam menentukan apa yang dikehendaki oleh-Nya. Selain itu, hanya pada-Nya lah, engkau (wahai Muhammad) memohon perlindungan (dari segala macam gangguan dan rintangan dakwah yang dihadapi.
Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim juga menyampaikan bahwa Nabi diperintah untuk menyampaikan semua wahyu pada umatnya, sekalipun berimplikasi pada hal-hal yang tidak menyenangkan bagi Nabi. Oleh karena itu, Nabi diperintahkan untuk pasrah hanya pada Allah, karena tidak ada tempat berlindung kecuali pada Allah semata.
Baca juga: Tafsir Surah Al-Kahfi ayat 17-18 dan Misteri Gua Ashabul Kahfi
(mhy)
Lihat Juga :