Puasa Arafah 2022 Tak Perlu Bingung, Ini Patokan Waktunya
Rabu, 06 Juli 2022 - 15:15 WIB
loading...
A
A
A
Artinya: "Hari Arafah dan Asyura -sebagaimana yang disebutkan- adalah salah satu dari musim-musim ibadah. Jika ditinjau dari sisi puasa maka Hari Asyura dan Nisfu Sya'ban dan yang lainnya adalah musim ibadah yang dituntut untuk berpuasa pada musim tersebut. Musim adalah waktu yang terkait dengan suatu hukum syariat. Bukanlah yang dimaksud dengan lafal "Arafah" adalah tempat wukuf, akan tetapi yang dimaksud adalah waktunya, yaitu waktu wukufnya, 9 Dzulhijjah." (Syarh Mukhtashar Al-Khalil, 2/234)
Sejarah Wukuf di Masa Rasulullah
Dalam sejarah, wukuf pada masa Rasulullah SAW baru ada pada Tahun 10 Hijriyah, yaitu pada Haji Wada'. (Tarikh Khalifah bin Khayat, hal. 94, lihat juga Tafsir Ibnu Katsir, 6/378, Tafsir Al Qurthubi, 6/61, Tafsir Ar Razi, 1/1605). Meskipun orang jahiliyah sudah melakukannya sebelumnya.
Sedangkan Puasa Arafah dan Sholat Idul Adha sudah disyariatkan sejak tahun ke-2 Hijriyah. (Bulughul Amani, 6/119, Subulussalam, 1/60, lihat juga Al Fikr Al Sami di Tarikh Al Fiqh Al Islami, 1/178)
Ini menunjukkan patokan Rasulullah SAW dan sahabat saat itu bukan Wukufnya, tetapi tanggal 9 Dzulhijjah-nya. Di tambah lagi dalam sejarah telah mengalami 40 kali haji tidak terlaksana di Tanah Suci baik karena peperangan dan bencana. Tentunya selama 40 kali juga tidak ada wukuf, tapi hari raya dan puasa sunnah tetap berlangsung di negeri lainnya.
"Bagi yang meyakini 9 Dzulhijjah adalah Jumat, mengikuti hasil Hisab Muhammadiyah, maka ini juga dipersilakan. Ini perbedaan ijtihad para pakar atronomi dan ru'yah. Kita berlapang dada atas hal itu," terang Ustaz Farid.
Wallahu A'lam
Baca Juga: Jangan Gagal Paham, Ini Alasan Perbedaan Waktu Idul Adha Indonesia dengan Saudi
Sejarah Wukuf di Masa Rasulullah
Dalam sejarah, wukuf pada masa Rasulullah SAW baru ada pada Tahun 10 Hijriyah, yaitu pada Haji Wada'. (Tarikh Khalifah bin Khayat, hal. 94, lihat juga Tafsir Ibnu Katsir, 6/378, Tafsir Al Qurthubi, 6/61, Tafsir Ar Razi, 1/1605). Meskipun orang jahiliyah sudah melakukannya sebelumnya.
Sedangkan Puasa Arafah dan Sholat Idul Adha sudah disyariatkan sejak tahun ke-2 Hijriyah. (Bulughul Amani, 6/119, Subulussalam, 1/60, lihat juga Al Fikr Al Sami di Tarikh Al Fiqh Al Islami, 1/178)
Ini menunjukkan patokan Rasulullah SAW dan sahabat saat itu bukan Wukufnya, tetapi tanggal 9 Dzulhijjah-nya. Di tambah lagi dalam sejarah telah mengalami 40 kali haji tidak terlaksana di Tanah Suci baik karena peperangan dan bencana. Tentunya selama 40 kali juga tidak ada wukuf, tapi hari raya dan puasa sunnah tetap berlangsung di negeri lainnya.
"Bagi yang meyakini 9 Dzulhijjah adalah Jumat, mengikuti hasil Hisab Muhammadiyah, maka ini juga dipersilakan. Ini perbedaan ijtihad para pakar atronomi dan ru'yah. Kita berlapang dada atas hal itu," terang Ustaz Farid.
Wallahu A'lam
Baca Juga: Jangan Gagal Paham, Ini Alasan Perbedaan Waktu Idul Adha Indonesia dengan Saudi
(rhs)
Lihat Juga :