Pengetahuan Tentang Tuhan (2-Habis): Enam Penyebab Kejahilan

Jum'at, 26 Juni 2020 - 11:47 WIB
loading...
A A A
Cinta adalah benih kebahagiaan, dan cinta kepada Allah ditumbuhkan dan dikembangkan oleh ibadah. Ibadan dan zikir yang terus-menerus seperti itu mengisyaratkan suatu tingkat tertentu dari keprihatinan dan pengekangan nafsu-nafsu badaniah.

Hal ini tidak berarti bahwa seseorang diharapkan untuk sama sekali memusnahkan nafsu-nafsu badaniah itu, karena jika demikian halnya, maka ras manusia akan musnah. Tetapi batasan-batasan yang ketat mesti dikenakan pada usaha pemuasannya.

Dan karena manusia bukan hakim yang terbaik dalam kasusnya sendiri, maka untuk menetapkan batasan-batasan apa yang harus dikenakan itu sebaiknya ia konsultasikan masalah tersebut kepada pembimbing-pembimbing ruhaniah.

Baca juga: Kimia Kebahagiaan Al-Ghazali: Pemeriksaan Diri dan Zikir Kepada Allah (2)

Pembimbing-pembimbing ruhaniah seperti itu adalah para nabi. Hukum-hukum yang telah mereka tetapkan berdasar wahyu Tuhan menentukan batasan-batasan yang mesti ditaati dalam persoalan-persoalan ini.

Orang yang melanggar batas-batas ini berarti "telah menganiaya dirinya sendiri", sebagaimana tertulis di dalam al-Qur'an. Meskipun pernyataan al-Qur'an ini telah jelas, masih ada juga orang-orang yang, karena kejahilannya tentang Allah, melanggar batas-batas tersebut. Menurut Imam Ghazali, kejahilan ini bisa disebabkan karena berbagai sebab.

Pertama, ada orang yang gagal menemukan Allah lewat pengamatan, lantas menyimpulkan bahwa Allah itu tidak ada dan bahwa dunia yang penuh keajaiban-keajaiban ini menciptakan dirinya sendiri atau ada dari keabadian.

Mereka bagaikan seseorang yang melihat suatu huruf yang tertulis dengan indah kemudian menduga bahwa tulisan itu tertulis dengan sendirinya tanpa ada penulisnya, atau memang sudah selalu ada.

Baca juga: Kimia Kebahagiaan Al-Ghazali: Pemeriksaan Diri dan Zikir Kepada Allah (1)

Orang-orang dengan cara berpikir semacam ini sudah terlalu jauh tersesat sehingga berdebat dengan mereka akan sedikit sekali manfaatnya. Orang-orang seperti itu mirip seorang ahli fisika dan astronomi yang kita sebut di atas.

Kedua, sejumlah orang yang, akibat kejahilan tentang sifat jiwa yang sebenarnya, menolak doktrin kehidupan akhirat, tempat manusia akan diminta pertanggungjawabannya dan diberi balasan baik atau dihukum.

Mereka anggap diri mereka sendiri sebagai tidak lebih baik daripada hewan-hewan atau sayur-sayuran, dan sama-sama bisa musnah.

Baca juga: Kimia Kebahagiaan Al-Ghazali: Pemeriksaan Diri dan Zikir Kepada Allah (2)

Ketiga, di lain pihak, ada orang yang percaya pada Allah dan kehidupan akhirat, tapi hanya dengan iman yang lemah. Mereka berkata kepada diri mereka sendiri. "Allah itu Maha Besar dan tidak tergantung pada kita; kita beribadah atau tidak merupakan masalah yang sama sekali tidak penting bagi Dia."

Mereka berpikir seperti orang sakit yang ketika oleh dokter diberi peraturan pengobatan tertentu kemudian berkata: "Yah, saya ikuti atau tidak, apa urusannya dengan dokter itu."

Tentunya hal ini tidak berakibat apa-apa terhadap dokter tersebut, tetapi pasien itu bisa merusak dirinya sendiri akibat ketidaktaatannya. Sebagaimana pastinya penyakit jasad yang tak terobati berakhir dengan kematian jasad, begitu pula penyakit jiwa yang tak tersembuhkan akan berakhir dengan kepedihan di masa datang.

Baca juga: Kimia Kebahagiaan Al-Ghazali: Pemeriksaan Diri dan Zikir Kepada Allah (3)

Sesuai dengan kata-kata al-Qur'an: "Orang-orang yang akan diselamatkan hanyalah yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih."

Keempat, adalah orang-orang kafir yang berkata: "Syariah mengajarkan kepada kita untuk menahan amarah, nafsu dan kemunafikan. Hal ini jelas tidak mungkin dilaksanakan, mengingat manusia diciptakan dengan kualitas-kualitas bawaan seperti ini di dalam dirinya. Sama saja dengan kamu meminta agar kami jelmakan yang hitam menjadi putih."
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kisah Sahabat Nabi :...
Kisah Sahabat Nabi : Wafat Seorang Diri dan Kelak Dibangkitkan Sendirian
Nasihat Penuh Hikmah...
Nasihat Penuh Hikmah Tabi'in Hasan Al-Bashri kepada Pejabat Tinggi
Kisah Tabiin Hasan al-Bashri...
Kisah Tabiin Hasan al-Bashri dan Doanya Agar Terhindar dari Penguasa Zalim
Kisah Tabiin Ibnu Sirin:...
Kisah Tabiin Ibnu Sirin: Pelopor Ilmu Interpretasi Mimpi dalam Islam
Kisah Tabiin Ar-Rabi...
Kisah Tabi'in Ar-Rabi bin Khutsaim dan Nasihatnya yang Menyentuh Hati
Kisah Khalifah Umar...
Kisah Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang Zuhud, Khulafaur Rasyidin Kelima
Rekomendasi
10 Penemuan Nikola Tesla...
10 Penemuan Nikola Tesla Paling Hebat, Mulai Motor Induksi Listrik Hingga Radar
Es Antartika Tiba-tiba...
Es Antartika Tiba-tiba Mencair, Ilmuwan Mulai Panik
Detak Jantung Misterius...
Detak Jantung Misterius dari Dalam Perut Bumi Bakal Membelah Afrika
Artikel Terkini
Lebaran Anak Yatim:...
Lebaran Anak Yatim: Antara Dalil, Tradisi, dan Makna Kepedulian Sosial
Kenapa Hari Asyura Dijuluki...
Kenapa Hari Asyura Dijuluki Lebaran Anak Yatim? Begini Sejarahnya di Indonesia
Puasa Tasua 9 Muharram:...
Puasa Tasua 9 Muharram: Dalil, dan Bacaan Niat Lengkap
Puasa Tasua dan Asyura,...
Puasa Tasua dan Asyura, Mana yang Lebih Utama?
Di Dua Waktu Istimewa...
Di Dua Waktu Istimewa Ini, Malaikat Pengawas Saling Bertemu
Kisah Nabi Daud Bertobat...
Kisah Nabi Daud Bertobat 40 Hari 40 Malam, Diampuni Allah pada 10 Muharram
Infografis
10 Ilmuwan Muslim yang...
10 Ilmuwan Muslim yang Mengubah Wajah Ilmu Pengetahuan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved