Sudah Mabrurkah Haji Anda? Mari Kita Teliti Kembali Niat dan Pakaian Ihram
Senin, 11 Juli 2022 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Suatu hari, datanglah seorang laki-laki ke hadapan Imam Junaid al-Baghdadi, “Dari manakah anda?” tanya Junaid kepadanya.
“Aku baru saja melakukan ibadah haji,” jawabnya.
“Ketika pertama kali melangkahkan kaki meninggalkan rumahmu, apakah engkau juga telah meninggalkan semua dosamu?” tanya Imam Junaid.
“Tidak,” jawab sang lelaki.
“Berarti engkau tidak mengadakan perjalanan," ucap Imam Junaid.
Ali Syari’ati dalam bukunya berjudul "Haji" menasihati bahwa ketika meninggalkan rumah, niatkan menuju rumah umat manusia; meninggalkan hidup untuk memperoleh cinta; meninggalkan keakuan untuk berserah diri kepada Allah; meninggalkan penghambaan untuk memperoleh kemerdekaan; meninggalkan diskriminasi rasial untuk mencapai persamaan, ketulusan dan kebenaran.
"Hadapkan dirimu dan berserah diri hanya kepada Allah dalam segala gerak dan diammu,” ujar tokoh intelektual muslim dari Iran ini.
Baca juga: Sampaikan Selamat Idul Adha, Biden: Eid Mubarak dan Haji Mabrur
Pakaian Ihram
“Ketika engkau mengenakan pakaian ihram di tempat yang telah ditentukan, apakah engkau membuang sifat-sifat manusiawi sebagaimana engkau melepaskan pakaian-pakaian sehari-harimu?” tanya Imam Junaid lagi.
“Tidak.”
“Berarti engkau tidak mengenakan pakaian haji,” ujar Imam Junaid.
Ibadah haji dimulai dengan niat sambil mengenakan pakaian ihram. Ketika
mengenakan pakaian ihram, lepaskan pakaian sehari-hari dan buanglah semua sifat-sifat keangkuhan, kebanggaan dan semua atribut (label) serta simbol-simbol yang melekat yang biasa menghiasi diri.
Nurcholish Madjid dalam buku berjudul "Perjalanan Religius Umrah dan Haji" mengatakan dengan memakai pakaian ihram berarti menanggalkan semua perbedaan serta menghapus segala keangkuhan yang ditimbulkan dari status sosial. Dalam keadaan demikianlah seorang hamba menghadap Tuhan pada saat kematiannya.
“Aku baru saja melakukan ibadah haji,” jawabnya.
“Ketika pertama kali melangkahkan kaki meninggalkan rumahmu, apakah engkau juga telah meninggalkan semua dosamu?” tanya Imam Junaid.
“Tidak,” jawab sang lelaki.
“Berarti engkau tidak mengadakan perjalanan," ucap Imam Junaid.
Ali Syari’ati dalam bukunya berjudul "Haji" menasihati bahwa ketika meninggalkan rumah, niatkan menuju rumah umat manusia; meninggalkan hidup untuk memperoleh cinta; meninggalkan keakuan untuk berserah diri kepada Allah; meninggalkan penghambaan untuk memperoleh kemerdekaan; meninggalkan diskriminasi rasial untuk mencapai persamaan, ketulusan dan kebenaran.
"Hadapkan dirimu dan berserah diri hanya kepada Allah dalam segala gerak dan diammu,” ujar tokoh intelektual muslim dari Iran ini.
Baca juga: Sampaikan Selamat Idul Adha, Biden: Eid Mubarak dan Haji Mabrur
Pakaian Ihram
“Ketika engkau mengenakan pakaian ihram di tempat yang telah ditentukan, apakah engkau membuang sifat-sifat manusiawi sebagaimana engkau melepaskan pakaian-pakaian sehari-harimu?” tanya Imam Junaid lagi.
“Tidak.”
“Berarti engkau tidak mengenakan pakaian haji,” ujar Imam Junaid.
Ibadah haji dimulai dengan niat sambil mengenakan pakaian ihram. Ketika
mengenakan pakaian ihram, lepaskan pakaian sehari-hari dan buanglah semua sifat-sifat keangkuhan, kebanggaan dan semua atribut (label) serta simbol-simbol yang melekat yang biasa menghiasi diri.
Nurcholish Madjid dalam buku berjudul "Perjalanan Religius Umrah dan Haji" mengatakan dengan memakai pakaian ihram berarti menanggalkan semua perbedaan serta menghapus segala keangkuhan yang ditimbulkan dari status sosial. Dalam keadaan demikianlah seorang hamba menghadap Tuhan pada saat kematiannya.
Lihat Juga :