Ini Alasan Mengapa 3 Hari Setelah Idul Adha Disebut Hari Tasyrik

loading...
Ini Alasan Mengapa 3 Hari Setelah Idul Adha Disebut Hari Tasyrik
Hari Tasyrik dikenal sebagai hari-hari terlarang untuk berpuasa. Foto/dok nasihat sahabat
Bagi umat Islam, Hari Tasyrik dikenal sebagai hari-hari terlarang untuk berpuasa. Seperti diketahui Hari Tasyrik adalah waktu 3 hari setelah Hari Raya Idul Adha yaitu 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

Dalil larangan berpuasa pada Hari Tasyrik diterangkan dalam Hadis dari Nubaisyah Al-Hudzali, ia berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

Artinya: "Hari-hari Tasyrik adalah hari makan dan minum." (HR Muslim 1141)

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW menyuruh Abdullah ibnu Hudzafah untuk berkeliling di Mina menyampaikan seruan berikut: 'Janganlah kalian melakukan puasa pada hari-hari ini, karena sesungguhnya hari-hari ini adalah hari-hari untuk makan dan minum serta berdzikir kepada Allah". (HR Muslim)

Mengapa Dinamakan Hari Tasyrik?
Dari riwayat di atas dapat disimpulkan bahwa Hari Tasyrik disebut sebagai hari makan dan minum, sehingga tidak diperbolehkan untuk berpuasa di hari-hari tersebut.

Dahulu, masyarakat Arab memanfaatkan Hari Tasyrik untuk menjemur daging. Tasyrik berasal dari akar kata bahasa Arab, yaitu شَرْقٌ (Syarq) yang bermakna timur. Tasyrik artinya menjemur.

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan:"Hari Tasyrik adalah tiga hari setelah Idul Adha (yaitu 11, 12, 13 Dzulhijjah). Disebut Tasyrik karena Tasyrik itu berarti mendendeng atau menjemur daging kurban di terik matahari. Dalam hadis disebutkan, hari Tasyrik adalah hari untuk memperbanyak dzikir yaitu takbir dan lainnya." (Syarh Shahih Muslim, 8: 18)

Baca Juga: Puasa di Hari Tasyrik Haram, Begini Penjelasannya
(rhs)
preload video