Kisah Nabi Muhammad SAW Gelisah Menanti Wahyu yang Sempat Terhenti
Selasa, 19 Juli 2022 - 15:33 WIB
loading...
A
A
A
Matahari Sepenggalah
Mengapa adh-dhuha--yakni "matahari ketika naik sepenggalah"-- yang dipilih berkaitan dengan wahyu-wahyu yang diterima oleh Nabi SAW, atau apakah adh-dhuha ada kaitannya dengan ketidakhadiran wahyu-wahyu Ilahi?
Quraish Shihab mengatakan ketika matahari naik sepenggalah, cahayanya memancar menerangi seluruh penjuru. Cahayanya tidak terlalu terik, sehingga tidak menyebabkan gangguan sedikit pun, bahkan panasnya memberikan kesegaran, kenyamanan, dan kesehatan.
Di sini Allah SWT melambangkan kehadiran wahyu selama ini sebagai kehadiran cahaya matahari yang sinarnya demikian jelas, menyegarkan, dan menyenangkan. Sedangkan ketidakhadiran wahyu dinyatakan dengan kalimat, "Demi malam ketika hening."
Dari kedua hal yang bertolak belakang itu, Allah menafikkan dugaan atau tanggapan yang menyatakan bahwa Muhammad SAW telah ditinggalkan oleh Tuhannya, atau bahkan Tuhan telah membencinya.
Kehadiran malam tidak menjadikan seseorang boleh berkata bahwa matahari tidak akan terbit lagi, karena kenyataan sehari-hari membuktikan kekeliruan ucapan seperti itu. Nah, ketidakhadiran wahyu beberapa saat tidak dapat dijadikan alasan untuk menyatakan bahwa wahyu tidak akan hadir lagi atau Muhammad telah ditinggalkan oleh Tuhannya.
Ketidakhadiran antara lain menjadi isyarat kepada Nabi Muhammad SAW untuk beristirahat, karena "malam" dijadikan Tuhan sebagai waktu "beristirahat."
Baca juga: Keutamaan Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW
Dapat juga dikatakan bahwa ketidakhadiran wahyu justru pada saat Nabi Muhammad menanti-nantikannya, membuktikan bahwa wahyu adalah wewenang Tuhan sendiri.
Walaupun keinginan Nabi SAW meluap-luap menantikan kehadirannya, namun jika Tuhan tidak menghendaki, wahyu tidak akan datang. Ini membuktikan bahwa wahyu bukan merupakan hasil renungan atau bisikan jiwa.
Mengapa adh-dhuha--yakni "matahari ketika naik sepenggalah"-- yang dipilih berkaitan dengan wahyu-wahyu yang diterima oleh Nabi SAW, atau apakah adh-dhuha ada kaitannya dengan ketidakhadiran wahyu-wahyu Ilahi?
Quraish Shihab mengatakan ketika matahari naik sepenggalah, cahayanya memancar menerangi seluruh penjuru. Cahayanya tidak terlalu terik, sehingga tidak menyebabkan gangguan sedikit pun, bahkan panasnya memberikan kesegaran, kenyamanan, dan kesehatan.
Di sini Allah SWT melambangkan kehadiran wahyu selama ini sebagai kehadiran cahaya matahari yang sinarnya demikian jelas, menyegarkan, dan menyenangkan. Sedangkan ketidakhadiran wahyu dinyatakan dengan kalimat, "Demi malam ketika hening."
Dari kedua hal yang bertolak belakang itu, Allah menafikkan dugaan atau tanggapan yang menyatakan bahwa Muhammad SAW telah ditinggalkan oleh Tuhannya, atau bahkan Tuhan telah membencinya.
Kehadiran malam tidak menjadikan seseorang boleh berkata bahwa matahari tidak akan terbit lagi, karena kenyataan sehari-hari membuktikan kekeliruan ucapan seperti itu. Nah, ketidakhadiran wahyu beberapa saat tidak dapat dijadikan alasan untuk menyatakan bahwa wahyu tidak akan hadir lagi atau Muhammad telah ditinggalkan oleh Tuhannya.
Ketidakhadiran antara lain menjadi isyarat kepada Nabi Muhammad SAW untuk beristirahat, karena "malam" dijadikan Tuhan sebagai waktu "beristirahat."
Baca juga: Keutamaan Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW
Dapat juga dikatakan bahwa ketidakhadiran wahyu justru pada saat Nabi Muhammad menanti-nantikannya, membuktikan bahwa wahyu adalah wewenang Tuhan sendiri.
Walaupun keinginan Nabi SAW meluap-luap menantikan kehadirannya, namun jika Tuhan tidak menghendaki, wahyu tidak akan datang. Ini membuktikan bahwa wahyu bukan merupakan hasil renungan atau bisikan jiwa.
(mhy)
Lihat Juga :