3 Tahapan Memperbaiki Diri, Nomor Terakhir Lingkungan Pergaulan Ikut Menentukan
Rabu, 20 Juli 2022 - 17:36 WIB
loading...
A
A
A
Tatkala menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
“Maksudnya, dengan ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih. Sebab, syari’at itu mencakup dua hal: ilmu dan amal. Ilmu yang sesuai dengan syari’at adalah ilmu yang benar dan amal yang sesuai dengan syari’at adalah amal yang diterima” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/360).
Karena kedudukan ilmu inilah, maka wajib bagi seseorang yang akan beramal dan beribadah kepada Allah harus disertai dengan ilmu tentangnya agar bisa diterima ibadahnya. Mengingat tujuan diciptakannya manusia adalah agar beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sementara ibadah tidak akan diterima kecuali didasari dengan ilmu (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam), maka tidak ada alasan baginya untuk tidak menuntut ilmu.
2. Takut kepada Allah Ta’ala
Para ulama mempunyai khasyyah (rasa takut) yang tinggi kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan ini tidak dimiliki oleh selainnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari kalangan para hamba-Nya hanyalah para ulama” (QS. Fatir, 28).
Baca juga: Adab dan Kriteria Pertemanan dalam Islam yang Penting Diketahui
Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala membatasi bahwa hanya para ulama saja yang mempunyai rasa takut kepada-Nya.
3. Memilih teman terbaik
أَيْ: بِالْعِلْمِ النَّافِعِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ فَإِنَّ الشَّرِيْعَةَ تَشْتَمِلُ عَلَى شَيْئَيْنِ: عِلْمٌ وَعَمَلٌ فَالْعِلْمُ الشَّرْعِيُّ صَحِيْحٌ وَالْعَمَلُ الشَّرْعِيُّ مَقْبُوْلٌ
“Maksudnya, dengan ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih. Sebab, syari’at itu mencakup dua hal: ilmu dan amal. Ilmu yang sesuai dengan syari’at adalah ilmu yang benar dan amal yang sesuai dengan syari’at adalah amal yang diterima” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/360).
Karena kedudukan ilmu inilah, maka wajib bagi seseorang yang akan beramal dan beribadah kepada Allah harus disertai dengan ilmu tentangnya agar bisa diterima ibadahnya. Mengingat tujuan diciptakannya manusia adalah agar beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sementara ibadah tidak akan diterima kecuali didasari dengan ilmu (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam), maka tidak ada alasan baginya untuk tidak menuntut ilmu.
2. Takut kepada Allah Ta’ala
Para ulama mempunyai khasyyah (rasa takut) yang tinggi kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan ini tidak dimiliki oleh selainnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari kalangan para hamba-Nya hanyalah para ulama” (QS. Fatir, 28).
Baca juga: Adab dan Kriteria Pertemanan dalam Islam yang Penting Diketahui
Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala membatasi bahwa hanya para ulama saja yang mempunyai rasa takut kepada-Nya.
3. Memilih teman terbaik
Lihat Juga :