Tiga Sisi Syukur Menurut Al-Quran, Apa Saja?
Rabu, 03 Agustus 2022 - 18:41 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Ketika Takdir Menjadi Komoditas Politik Mu'awiyah
Makna-makna dasar tersebut dapat juga diartikan sebagai penyebab dan dampaknya, sehingga kata "syukur" mengisyaratkan "Siapa yang merasa puas dengan yang sedikit, maka ia akan memperoleh banyak, lebat, dan subur."
Ar-Raghib Al-Isfahani salah seorang yang dikenal sebagai pakar bahasa Al-Quran menulis dalam Al-Mufradat fi Gharib Al-Quran, bahwa kata "syukur" mengandung arti "gambaran dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan."
Kata ini, tulis Ar-Raghib, menurut sementara ulama berasal dari kata "syakara" yang berarti "membuka", sehingga ia merupakan lawan dari kata "kafara" (kufur) yang berarti menutup --(salah satu artinya adalah) melupakan nikmat dan menutup-nutupinya.
Quraish Shihab menjelaskan makna yang dikemukakan pakar tersebut dapat diperkuat dengan beberapa ayat Al-Quran yang memperhadapkan kata syukur dengan kata kufur, antara lain dalam QS lbrahim (14) : 7:
"Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku) untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih."
Demikian juga dengan redaksi pengakuan Nabi Sulaiman yang diabadikan Al-Quran: "Ini adalah sebagian anugerah Tuhan-Ku, untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur ( QS An-Naml [27] : 40).
Menurut Quraish, hakikat syukur adalah "menampakkan nikmat," dan hakikat kekufuran adalah menyembunyikannya. Menampakkan nikmat antara lain berarti menggunakannya pada tempat dan sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemberinya, juga menyebut-nyebut nikmat dan pemberinya dengan lidah: "Adapun terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau menyebut-nyebut". ( QS Adh-Dhuha [93] : ll).
Nabi Muhammad SAW pun bersabda, "Allah senang melihat bekas (bukti) nikmat-Nya dalam penampilan hamba-Nya (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi).
Baca juga: Takdir dalam Bahasa Al-Qur'an, Semua Makhluk Ditetapkan Takdirnya
Makna-makna dasar tersebut dapat juga diartikan sebagai penyebab dan dampaknya, sehingga kata "syukur" mengisyaratkan "Siapa yang merasa puas dengan yang sedikit, maka ia akan memperoleh banyak, lebat, dan subur."
Ar-Raghib Al-Isfahani salah seorang yang dikenal sebagai pakar bahasa Al-Quran menulis dalam Al-Mufradat fi Gharib Al-Quran, bahwa kata "syukur" mengandung arti "gambaran dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan."
Kata ini, tulis Ar-Raghib, menurut sementara ulama berasal dari kata "syakara" yang berarti "membuka", sehingga ia merupakan lawan dari kata "kafara" (kufur) yang berarti menutup --(salah satu artinya adalah) melupakan nikmat dan menutup-nutupinya.
Quraish Shihab menjelaskan makna yang dikemukakan pakar tersebut dapat diperkuat dengan beberapa ayat Al-Quran yang memperhadapkan kata syukur dengan kata kufur, antara lain dalam QS lbrahim (14) : 7:
"Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku) untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih."
Demikian juga dengan redaksi pengakuan Nabi Sulaiman yang diabadikan Al-Quran: "Ini adalah sebagian anugerah Tuhan-Ku, untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur ( QS An-Naml [27] : 40).
Menurut Quraish, hakikat syukur adalah "menampakkan nikmat," dan hakikat kekufuran adalah menyembunyikannya. Menampakkan nikmat antara lain berarti menggunakannya pada tempat dan sesuai dengan yang dikehendaki oleh pemberinya, juga menyebut-nyebut nikmat dan pemberinya dengan lidah: "Adapun terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau menyebut-nyebut". ( QS Adh-Dhuha [93] : ll).
Nabi Muhammad SAW pun bersabda, "Allah senang melihat bekas (bukti) nikmat-Nya dalam penampilan hamba-Nya (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi).
Baca juga: Takdir dalam Bahasa Al-Qur'an, Semua Makhluk Ditetapkan Takdirnya
Lihat Juga :