Ketika Takdir Menjadi Komoditas Politik Mu'awiyah
Senin, 25 Juli 2022 - 18:45 WIB
loading...
Muawiyah memopulerkan doa untuk memberi kesan bahwa segala sesuatu telah ditentukan Allah, dan tiada usaha manusia sedikit pun. Foto/Ilustrasi : Ist
A
A
A
Tatkala Mu'awiyah bin Abi Sufyan menggantikan Khalifah IV, Ali ibn Abi Thalib (W. 620 H), ia menulis surat kepada salah seorang sahabat Nabi, Al-Mughirah ibn Syu'bah menanyakan, "Apakah doa yang dibaca Nabi setiap selesai sholat?"
Ia memperoleh jawaban bahwa doa beliau adalah: "Tiada Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Wahai Allah tidak ada yang mampu menghalangi apa yang engkau beri, tidak juga ada yang mampu memberi apa yang Engkau halangi, tidak berguna upaya yang bersungguh-sungguh. Semua bersumber dari-Mu" ( HR Bukhari ).
Baca juga: Muawiyah Masuk Islam pada Peristiwa Umrah Qadha'?
M Quraish Shihab dalam bukunya berjudul " Wawasan Al-Quran , Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat" menceritakan bahwa doa ini dipopulerkannya untuk memberi kesan bahwa segala sesuatu telah ditentukan Allah, dan tiada usaha manusia sedikit pun.
Kebijakan mempopulerkan doa ini, dinilai oleh banyak pakar sebagai "bertujuan politis," karena dengan doa itu para penguasa Dinasti Umayah melegitimasi kesewenangan pemerintahan mereka, sebagai kehendak Allah. Begitu tulis Abdul Halim Mahmud mantan Imam Terbesar Al-Azhar Mesir dalam Al-Tafkir Al-Falsafi fi Al-Islam.
Tentu saja, kata Quraish Shihab, pandangan tersebut tidak diterima oleh kebanyakan ulama. Ada yang demikian menggebu menolaknya sehingga secara sadar atau tidak -mengumandangkan pernyataan la qadar (tidak ada takdir).
Manusia bebas melakukan apa saja, bukankah Allah telah menganugerahkan kepada manusia kebebasan memilih dan memilah? Mengapa manusia harus dihukum kalau dia tidak memiliki kebebasan itu? Bukankah Allah sendiri menegaskan: "Siapa yang hendak beriman silakan beriman, siapa yang hendak kufur silakan juga kufur" ( QS Al-Kahf [18] : 29).
Masing-masing bertanggung jawab pada perbuatannya sendiri-sendiri. Namun demikian, Quraish Shihab menjelaskan, pandangan ini juga disanggah. Ini mengurangi kebesaran dan kekuasaan Allah. Bukankah Allah Mahakuasa? Bukankah "Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu lakukan" ( QS Al-Shaffat [37] : 96).
Tidakkah ayat ini berarti bahwa Tuhan menciptakan apa yang kita lakukan? Demikian mereka berargumentasi. Selanjutnya bukankah Al-Quran menegaskan bahwa, "Apa yang kamu kehendaki, (tidak dapat terlaksana) kecuali dengan kehendak Allah jua" ( QS Al-Insan [76] : 30).
Baca juga: Kisah Khalifah Muawiyah Mengganti Sistem Demokratis ke Monarki
Ia memperoleh jawaban bahwa doa beliau adalah: "Tiada Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Wahai Allah tidak ada yang mampu menghalangi apa yang engkau beri, tidak juga ada yang mampu memberi apa yang Engkau halangi, tidak berguna upaya yang bersungguh-sungguh. Semua bersumber dari-Mu" ( HR Bukhari ).
Baca juga: Muawiyah Masuk Islam pada Peristiwa Umrah Qadha'?
M Quraish Shihab dalam bukunya berjudul " Wawasan Al-Quran , Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat" menceritakan bahwa doa ini dipopulerkannya untuk memberi kesan bahwa segala sesuatu telah ditentukan Allah, dan tiada usaha manusia sedikit pun.
Kebijakan mempopulerkan doa ini, dinilai oleh banyak pakar sebagai "bertujuan politis," karena dengan doa itu para penguasa Dinasti Umayah melegitimasi kesewenangan pemerintahan mereka, sebagai kehendak Allah. Begitu tulis Abdul Halim Mahmud mantan Imam Terbesar Al-Azhar Mesir dalam Al-Tafkir Al-Falsafi fi Al-Islam.
Tentu saja, kata Quraish Shihab, pandangan tersebut tidak diterima oleh kebanyakan ulama. Ada yang demikian menggebu menolaknya sehingga secara sadar atau tidak -mengumandangkan pernyataan la qadar (tidak ada takdir).
Manusia bebas melakukan apa saja, bukankah Allah telah menganugerahkan kepada manusia kebebasan memilih dan memilah? Mengapa manusia harus dihukum kalau dia tidak memiliki kebebasan itu? Bukankah Allah sendiri menegaskan: "Siapa yang hendak beriman silakan beriman, siapa yang hendak kufur silakan juga kufur" ( QS Al-Kahf [18] : 29).
Masing-masing bertanggung jawab pada perbuatannya sendiri-sendiri. Namun demikian, Quraish Shihab menjelaskan, pandangan ini juga disanggah. Ini mengurangi kebesaran dan kekuasaan Allah. Bukankah Allah Mahakuasa? Bukankah "Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu lakukan" ( QS Al-Shaffat [37] : 96).
Tidakkah ayat ini berarti bahwa Tuhan menciptakan apa yang kita lakukan? Demikian mereka berargumentasi. Selanjutnya bukankah Al-Quran menegaskan bahwa, "Apa yang kamu kehendaki, (tidak dapat terlaksana) kecuali dengan kehendak Allah jua" ( QS Al-Insan [76] : 30).
Baca juga: Kisah Khalifah Muawiyah Mengganti Sistem Demokratis ke Monarki
Lihat Juga :