Kesultanan Demak Ternyata Bukan Kerajaan Islam Pertama di Jawa, Ini Fakta Sebenarnya

loading...
Baca juga: Syekh Syamsuddin al-Wasil: Pembimbing Rohani Prabu Jayabaya, Penyebar Islam Pertama di Kediri

Arya Wiraraja menolak hal tersebut. Hal ini berkaitan dengan posisinya sebagai Muslim yang punya kewajiban moral mencegah penyebaran sekte agama Tantrayana yang biadab itu.

Sultan Al-Gabah
Mengenai kebiadaban Tantra-Bhairawa, dicatat dalam Kitab Musarar Babon Saka ing Rum bahwa Sultan al-Gabah dari Rum (yang ditafsirkan oleh Agus Sunyoto sebagai Persia) mengirim 20.000 muslim ke Jawa, tetapi hampir seluruhnya tewas dimangsa oleh para pengikut Tantra-Bhairawa yang memiliki ritual minum darah dan memakan daging manusia.

Murka dengan berita itu, Sultan al-Gabah mengirim para ulama sakti, termasuk tokoh yang dikenal dengan sebutan Syekh Subakir, untuk menumpas pengikut Tantra-Bhairawa. Misi itu disebutkan berhasil, dan Syekh Subakir pulang ke Persia membawa kemenangan.

Menurut Agus Sunyoto, sangat mungkin orang-orang muslim Persia yang dikirim oleh Sultan al-Gabah itu berasal dari Lorestan, Persia, yang datang ke Nusantara pada abad ke-9.

Kisah utusan Sultan al-Gabah itu berkaitan dengan Tragedi Pralaya, sebagaimana dicatat oleh prasasti Pucangan (1041 M). Prasasti itu menyebutkan bahwa Aji Wurawari (disebut demikian karena ia seorang raja berkulit merah seperti bunga wurawari) dari Loram (sekarang Leran, Gresik) menyerang Kerajaan Medang yang dipimpin oleh Raja Dharmawangsa di Wwatan.

Baca juga: Syekh Subakir, Tombak Kiai Panjang dan Tumbal Tanah Jawa

Kekuatan Aji Wurawari itu disebutkan oleh prasasti Cane (1021 M) dapat dihancurkan oleh Airlangga (Raja Kerajaan Kahuripan) yang merupakan keponakan sekaligus menantu Raja Dhamawangsa. Namun, sisa-sisa kekuatan tentara Aji Wurawari tetap menyerang sehingga Airlangga melarikan ke Desa Patakan, sebagaimana dikisahkan oleh prasasti Terep (1032 M).

Perselisihan antara orang-orang Lorestan pengikut Aji Wurawari dengan Airlangga dan keturunannya, raja-raja Janggala dan Panjalu, berkaitan dengan fakta dianutnya ajaran Tantra-Bhairawa oleh Raja Dharmawangsa dan Airlangga. Bahkan, ibu Airlangga, Mahendradatta, dikenal sebagai bhairawi (pemimpin sekte Tantra-Bhairawa).

Baca juga: Syekh Subakir Meruqyah Jawa Setelah 6000 Keluarga Muslim Tewas

Buku "Sejarah Lengkap Islam Jawa" karya Husnul Hakim menduga bisa jadi, Sayyidah Fatimah binti Maimun (w. 1082) merupakan tokoh orang-orang Lorestan pengikut Aji Wurawari. Di luar semua itu, demikianlah bahwa perselisihan orang-orang Islam dengan penganut Tantra Bhairawa di Nusantara sudah berlangsung berabad-abad sebelum masa kekuasaan Prabu Kertanegara.

Inilah awal dari kebencian penganut Tantra-Bhairawa terhadap umat Islam. Bahkan, dikisahkan ketika utusan Kaisar Tiongkok dari Dinasti Yuan, Kublai Khan, yaitu Meng Ki yang beragama Islam tiba di Kerajaan Singasari, ia diperlakukan secara kasar.

Utusan itu dipahat keningnya dan dihina-hina. Kemudian, ia kembali ke Tiongkok, dan peristiwa itu membuat Kaisar Kublai Khan marah sehingga kelak ia memberangkatkan tentaranya untuk menghancurkan Kerajaan Singasari tetapi, kala itu Kerajaan Singasari sudah dipimpin oleh Prabu Jayakatwang.

Demikianlah kebencian Prabu Kertanegara terhadap penganut muslim. Ia mengangkat Arya Wiraraja sebagai demung hanya karena alasan tali persaudaraan. Namun, begitu Arya Wiraraja melakukan sedikit kesalahan, ia pun dibuang jauh dari pusat kerajaan, dan ini membuat Prabu Kertanegara senang karena punya alasan untuk menyingkirkan penganut Islam dari istananya.

Prabu Kertanegara marah ketika Arya Wiraraja menolak programnya untuk menyatukan Nusantara sekaligus menguatkan pengaruh Tantra-Bhairawa. Kemarahannya itu muncul karena ia menduga bahwa penolakan Arya Wiraraja tidak murni sekadar pertimbangan politik kekuasaan, tetapi juga dikarenakan oleh persoalan agama.

Baca juga: Dahsyatnya Rajah Aji Kalacakra saat Syekh Subakir Menumbal Tanah Jawa
(mhy)
halaman ke-2
preload video