Kisah Raden Fatah: Pendiri Kesultanan Islam Demak Kelahiran Palembang

Rabu, 19 Oktober 2022 - 11:32 WIB
loading...
Kisah Raden Fatah: Pendiri...
Raden Fatah adalah pendiri Kesultanan Islam Demak. Foto/Ilustrasi: Ist/mhy
A A A
Raden Fatah atau Patah adalah raja pertama kerajaan Islam Demak . Trah Majapahit ini lahir di Palembang yang menolak suksesi di wilayah Sumatra tersebut. Ada yang menyebut Raden Fatah hanyalah kaum rendahan.

Raden Fatah adalah putra Prabu Brawijaya , Raja Majapahit terakhir. Hanya saja, tentang siapa sesungguhnya raja Majapahit yang dimaksud, ada perbedaan pendapat.

Prof Dr Slamet Muljana dalam buku "Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara" menyebut Brawijaya yang dimaksud adalah Kertabumi, yang berkuasa antara tahun 1474-1478. Secara urutan yang sepakati umumnya sejarawan, Kertabumi memang merupakan raja terakhir Majapahit.

Sedangkan Agus Sunyoto dalam bukunya yang berjudul "Atlas Walisongo; Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah" menganggap bahwa Brawijaya yang dimaksud adalah Kertawijaya, yang dijuluki Brawijaya V dan berkuasa di Majapahit antara tahun 1447-1451.

Menurutnya, sejumlah catatan sejarah mengatakan bahwa Brawijaya tersebut memiliki istri asal negeri Champa yang bernama Darawati. Dengan demikian tidak diragukan lagi, bahwa Brawijaya yang dimaksud, adalah Prabu Kertawijaya.

Sedangkan menurut "Carita Perwaka Caruban Nagari", ibu Raden Fatah adalah seorang selir berketurunan China bernama Siu Ban Ci. Dia adalah putri dari pasangan Tan Go Hwat dengan Siu Te Yo, penduduk Muslim China asal Gresik. Tan Go Hwat adalah seorang saudagar dan juga ulama yang dikenal dengan sebuatan Syeikh Bantong.

Baca juga: Ada yang Bilang Walisongo Keturunan Cina, Benarkah?

Keturunan Rendahan
Tome Pires dalam "Suma Oriental" menegaskan bahwa pendiri Dinasti Demak yang bernama Pate Rodin (Raden Fatan), adalah cucu seorang masyarakat dari keturunan rendah Gresik.

Menurut Agus Sunyoto, asumsi bahwa Raden Fatah adalah keturunan dari orang rendahan bisa jadi karena merujuk pada ketentuan klasifikasi sosial masyarakat Jawa sebelum abad ke 16 Masehi. Ketika itu, kaum pribumi menempati kedudukan paling mulia (wwang yukti) dalam strata sosial masyarakat.

Sedangkan kaum pendatang atau orang-orang asing dianggap sebagai warga negara kelas dua, bahkan sederajat dengan pelayan (wwang kalilan), sebagaimana tercatat dalam Prasasti Sangguran.

Dan, jika penduduk asing itu memeluk agama selain Hindu sebagaimana tatanan sosial kemasyarakatan era Majapahit, digolongkan sebagai kaum Mleccha, yang kedudukannya di bawah golongan Candala, yaitu dua tingkat di bawah golongan Sudra. Dengan demikian bisa dimaklumi jika Tome Pires berasumsi bahwa Raden Fatah adalah keturunan masyarakat rendahan.

Baca juga: Jejak Dakwah Persuasif Walisongo di Nusantara

Arya Damar
Kisah yang cukup masyhur tentang masa kecil Raden Fatah mengatakan, bahwa dia diasuh oleh sosok bernama Arya Damar yang menjabat sebagai Adipati Palembang.

Dikisahkan, bahwa dikarenakan rasa cemburu dari permaisuri terhadap Siu Ban Ci, Prabu Brawijaya memerintahkan Arya Damar untuk membawanya ke negeri Palembang. Ketika itu, Siu Ban Ci sedang mengandung anak dari Brawijaya.

Tentang asal usul Raden Fatah sebagai putra Prabu Brawijaya dengan selir China, Agus Sunyoto mengutip Serat Kandaning Ringgit Purwa pupuh 400-401 langgam Asmaradhana, yang artinya sebagai berikut:

“Arya Damar memenuhi panggilan raja dan saat menghadap, Sri Prabu bersabda, “Wahai Arya Damar, cepat bawalah istriku asal China yang lagi hamil ini ke Palembang. Jika sudah melahirkan anakku, terserah sekehendakmu, Damar.”

Putri China dikisahkan memiliki kapal beserta isinya. Arya Damar buru-buru naik kapal bersama-sama dengan ibunya, Ni Indhang, beserta uwaknya, berlayar dikawal para duruwiksa.

Kala itu, sudah banyak orang beragama Buddha (Hindu-Buddha) yang masuk Islam. Banyak maulana yang datang dari berbagai negeri, tinggal di negeri Jawa mencari penghidupan.

Prabu Brawijaya tahu bahwa istrinya yag hamil telah sampai di Palembang dan melahirkan putra yang tampan, bercahaya seperti bintang, yang dinamai Raden Fatah, yang sangat suka kepada agama. Putri China itu lalu dinikahi oleh Arya Damar. Melahirkan seorang putra yang dinamai Raden Kusen.”

Baca juga: Walisongo Keturunan Nabi Muhammad SAW, Berikut Nasab Lengkapnya

Raden Kusen
Naskah Klenteng Sam Po Kong di Semarang menyebutkan bahwa Jin Bun atau Raden Fatah wafat pada tahun 1518 dalam usia 63 tahun. Itu artinya, waktu kelahiran Raden Fatah, jatuh pada tahun 1455 atau 1456 Masehi.

Setelah Raden Fatah lahir, Arya Damar kemudian menikahi Sui Ban Cin. Dari pernikahan ini kemudian lahirlah seorang putra bernama Raden Kusen, atau bernama Kin San dalam naskah Klenteng Sam Po Kong Semarang.

Dengan demikian, bisa diasumsikan bahwa Raden Fatah sudah menjadi Muslim sejak bayi. Adapun madrasah pertamanya, tidak lain adalah ibunya sendiri. Selanjutnya, urusan pendidikan Raden Fatah sepenuhnya merujuk pada ayah tirinya, yaitu Arya Damar.

Raden Fatah tinggal dan dididik oleh Arya Damar sekitar 15 tahun, yaitu dari tahun 1456 sampai 1471. Dalam kurun waktu tersebut, Raden Fatah tidak hanya belajar ilmu agama, tapi juga ilmu pemerintahan kepada Arya Damar.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Benarkah Islam Agama...
Benarkah Islam Agama Perang? Simak Sejarah Turunnya Perintah Berperang dalam Al-Qur'an
Sejarah Kiswah Kakbah:...
Sejarah Kiswah Kakbah: Dari Beragam Warna hingga Hitam yang Mendunia
Dibangun Lebih dari...
Dibangun Lebih dari Rp1.500 Triliun! 20 Fakta Menakjubkan Masjidil Haram
Jejak Para Singa Allah:...
Jejak Para Singa Allah: Deretan Panglima Perang Terhebat dalam Sejarah Islam
Inilah Penyebab Utama...
Inilah Penyebab Utama Iran Menjadi Negara Syiah
Kisah Runtuhnya Kekaisaran...
Kisah Runtuhnya Kekaisaran Sassaniyah: Transformasi Jati Diri Bangsa Persia di Bawah Islam
Rekomendasi
Penemuan Bawah Laut...
Penemuan Bawah Laut Indonesia Berusia 140.000 Tahun Ungkap Rahasia Manusia Purba
Cacing Predator Berusia...
Cacing Predator Berusia 425 Juta Tahun Bergerak seperti Akordeon Ditemukan
Mesir Temukan Minyak...
Mesir Temukan Minyak Baru di Gurun Barat
Artikel Terkini
Kisah Uwais Al-Qarni,...
Kisah Uwais Al-Qarni, Teladan Berbakti kepada Orang Tua yang Dijamin Doanya Mustajab
10 Ayat Al-Quran tentang...
10 Ayat Al-Qur'an tentang Berbakti kepada Orang Tua, Lengkap dengan Arab, Latin, dan Artinya
10 Cara Berbakti kepada...
10 Cara Berbakti kepada Ibu Menurut Islam, Terinspirasi Momen Haru Timnas Maroko di Piala Dunia 2026
4 Amalan Hari Jumat...
4 Amalan Hari Jumat yang Jarang Diketahui, Pahalanya Dahsyat!
7 Ayat Al-Quran tentang...
7 Ayat Al-Qur'an tentang Akhlak yang Wajib Diketahui Setiap Muslim, Lengkap dengan Penjelasannya
Mengapa Akhlak Begitu...
Mengapa Akhlak Begitu Penting dalam Islam? Ini Penjelasan Lengkap Berdasarkan Hadis
Infografis
Ilmuwan - Ilmuwan Muslimah...
Ilmuwan - Ilmuwan Muslimah Yang Karyanya Mendunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved