Orang Jawa Baru Tertarik Masuk Islam setelah Diperkenalkan selama 750 Tahun

loading...
Namun, pada abad ke-13 itu, tepatnya tahun 1267 M, kerajaan Islam pertama di Nusantara, Samudera Pasai, didirikan oleh seorang laksamana dari Mesir, Nazimuddin al-Kamil, di Desa Beuringin, Kecamatan Samudera, Aceh. Sultan pertamanya adalah Marah Silu dengan gelar Malikus Shaleh (Penguasa yang Shalih).

Lalu, bagaimana Pulau Jawa? Pulau Jawa hingga perempat akhir abad ke-14 masih dihuni oleh muslim Arab dan Persia, serta muslim Tiongkok. Pada abad itu, umat Islam Tiongkok dari Kanton, Yangchou, dan Chanchou secara berbondong-bondong pindah ke Nusantara, tinggal di pantai timur Sumatera dan pantai utara (pantura) Jawa.

Baca juga: Islam Masuk ke Jawa: Kisah Sultan Al-Ghabbah Sampai Ruqyah Syaikh Subakir

Berita itu didapatkan dari catatan Haji Ma Huan, juru tulis Laksamana Cheng Ho. Laksamana Cheng Ho mengadakan ekspedisi sebanyak tujuh kali ke Nusantara, sejak tahun 1405 M hingga 1433 M, dengan salah satu misinya menyebarkan agama Islam.

Dari studi Fr. Hirth dan W. W. Rockhill terhadap catatan Haji Ma Huan yang dibukukan dalam "Chau Ju-Kua: His Work on the Chinese and Arab Trade in the Twelfth and Thirteenth Centuries Entitled Chu-fan-chi", Haji Ma Huan mencatat bahwa pada tahun 1433 M, penduduk Jawa terbagi menjadi tiga golongan besar: komunitas muslim Tiongkok, orang-orang muslim barat (Arab Persia), dan warga pribumi yang masih kafir, memuja roh-roh, dan hidup sangat kotor.

Komunitas-komunitas muslim utamanya terdapat di Tuban, Gresik, dan Surabaya. Adapun komunitas muslim Tiongkok secara khusus berjumlah 1.000 keluarga.

Muslim Jawa
Agus Sunyoto menjelaskan, pada separuh akhir abad ke-14 M itu, sesungguhnya sudah ada penduduk Jawa yang pindah ke agama Islam, tetapi masih dalam volume kecil. Para penganut awalnya adalah beberapa orang keluarga raja dan pejabat tinggi Kerajaan Majapahit. Kita tahu, Kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya pada pertengahan abad ke-14, dengan Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada.

Sejumlah bukti arkeologis menunjukkan bahwa beberapa orang dari keluarga raja dan pejabat tinggi Majapahit telah memeluk Islam. Salah satu bukti arkeologinya adalah situs nisan Islam di Tralaya, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Mojokerto.

Batu-batu nisan Islam Tralaya itu menggunakan angka tahun Saka dan angka-angka Jawa Kuno, bukan Hijriah dan angka-angka Arab. Hal ini menjadi bukti bahwa yang dikubur di makam-makam tersebut adalah muslim Jawa, bukan muslim non-Jawa.

Makam-makam di Tralaya tertua bertarikh 1281 M. Bukti arkeologis berikutnya adalah Masigit Agung (Masjid Agung) yang terletak di dekat pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit, tepatnya di sebelah selatan Lapangan Bubat, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Mojokerto.

Baca juga: Peter Carey: Tak Ada Hubungan Kesultanan Islam di Jawa dengan Turki Utsmani

Menurut laporan dari Tome Pires, masjid itu dibangun oleh muslim pribumi pada abad ke-14. Lapangan Bubat itu biasanya digunakan sebagai taman hiburan dan digelarnya turnamen serta pertunjukan oleh keluarga kerajaan.

Mengenai Masigit Agung ini dicatat pula oleh Kidung Sunda, sebuah kidung yang mencatat peristiwa Perang Bubat antara Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Pajajaran yang terjadi pada abad ke-14, tepatnya tahun 1357 M. Berikut ini isi Kidung Sunda:

Empat dari mereka yang dikirim adalah Patih Sunda, Anepaken, para demung, tumenggung yang berjuluk Penghulu Borang, dan Patih Pitar yang menemaninya. Para prajurit terpilih berjumlah 300 orang berjalan ke arah selatan. Mereka melaju terus tanpa henti hingga ke Masjid Agung.

Sebelum musuh mengetahui, mereka telah bersiap di Lapangan Wulajanggala. Dan, para tentara Majapahit berada di sekitar Pablantikan, Ampel Gading, dan Masjid Agung.

Kesemuanya disiapkan dalam kelompok yang tak terhitung jumlahnya sehingga perkemahan menjadi penuh.

Baca juga: Syekh Subakir, Tombak Kiai Panjang dan Tumbal Tanah Jawa

Menurut Agus Sunyoto, salah seorang anggota keluarga istana Kerajaan Majapahit yang beragama Islam adalah Adipati Surabaya, Aria Lembu Sura. Sebab, nama yang berunsur “Lembu” dapat dipastikan merupakan keluarga Majapahit.

Aria Lembu Sura memiliki dua orang putri yang juga muslimah. Putrinya yang pertama diperistri oleh Raja Majapahit Brawijaya III (Girishawardhana Dyah Suryawikrama/1456-1466), sedangkan putrinya yang lain diperistri oleh Aria Teja, penguasa beragama Islam dari Tuban. Adapun Brawijaya III itu tidak jelas apakah seorang muslim atau nonmuslim.

Selain Aria Lembu Sura, di Surabaya, juga telah dikenal sejumlah nama tokoh muslim, yaitu Ki Ageng Bukul, penguasa wilayah Bukul, Surabaya selatan, dan juga Pangeran Reksa Samodra, seorang Laksamana Laut Majapahit.
halaman ke-2
preload video