Azyumardi Azra: Para Sufi Pengembara Sukses Mengislamkan Penduduk Nusantara

loading...
Azyumardi Azra: Para Sufi Pengembara Sukses Mengislamkan Penduduk Nusantara
Para sufi pengembara disebut-sebut Azyumardi Azra sebagai ulama yang sukses mengislamkan penduduk Nusantara. Foto/Ilustrasi: Ist
Cendekiawan muslim Azyumardi Azra mengatakan, para sufi pengembaralah yang secara luas menjalankan dakwah Islam. Mereka berhasil mengislamkan penduduk di Nusantara paling tidak semenjak abad ke-13.

"Keberhasilan para sufi ini disebabkan oleh kemampuan mereka menyajikan Islam dalam bentuk yang menarik penekanan kontinuitas Islam dengan kepercayaan dan praktik tradisional daripada perubahan," ujar Azyumardi Azra dalam bukunya berjudul "Islam Nusantara: Jaringan Global dan Lokal".

Baca juga: Teori Gujarat Tentang Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia

Pernyataan Azyumardi ini mendukung teori yang diungkapkan oleh AH Johns. Menurut Azyumardi, teori dari AH Johns lebih masuk akal dan lebih bisa banyak dipakai dibandingkan dengan semua teori yang ada.

John berpendapat berkat otoritas karismatik dan kekuatan magis para sufi pengembara jugalah, sebagian guru sufi dapat mengawini putri-putri bangsawan, dan karena itu memberikan kepada anak-anak mereka gengsi darah bangsawan dan sekaligus aura keilahian atau karisma keagamaan.

Tarekat pada awalnya tidak menjadi sebuah ciri yang dominan di Dunia Muslim, kata John, sampai jatuhnya Baghdad di tangan Mongol pada 656 H/1258 M.

Menurut Azyumardi, Johns juga mencatat bahwa setelah Dinasti Abbasiyyah jatuh, kaum sufi memainkan peranan yang semakin meningkat dalam mempertahankan persatuan dunia muslim untuk mengatasi kecenderungan semakin terpecah-pecahnya Dinasti Abbasiyyah menjadi daerah-daerah yang berbahasa Arab, Persia, dan Turki.

Selama masa inilah tarekat perlahan-lahan menjadi lembaga yang stabil dan penuh disiplin serta mengembangkan afiliasi dengan kelompok pedagang dan perajin di berbagai wilayah muslim urban.

Senada dengan pendapat Azyumardi yang mengutip dari pendapat John, Ahmad Baso dalam bukunya berjudul "Islam Nusantara Ijtihad Jenius & Ijma Ulama Indonesia", juga menerangkan bahwa ketika ambruknya kota Baghdad di tangan bangsa Mongol tahun 1258 memunculkan apatisme terhadap peradaban orang-orang Arab.

Perpustakaan sekolah hancur, sekolah-sekolah bubar. Lebih jauh menurut Ahmad Baso, setelah Baghdad hancur, munculah mufti-mufti yang secara keilmuan buruk, serta propagandis, agama puritan yang memiliki paham keagamaan dangkal dan literatis.

"Makam-makam para wali dihancurkan, organisasi tarekat dihilangkan dan kebebasan bermadzhab pun dibungkam, sehingga terjadi krisis pengajaran di Timur Tengah," ujarnya.

Baca juga: Baca juga: Saat Islamisasi di Samudera Pasai, Gujarat Masih Hindu

Menurut dia, karena memburuknya kondisi pengajaran di Timur Tengah, memungkinkan para guru dan murid sufi yang baik ilmunya untuk mencari ladang pengajaran yang baru. Dengan afiliasi yang terbentuk antara sufi dan pedagang memungkinkan para sufi yang baik keilmuannya memperoleh alat transportasi dari pusat-pusat dunia muslim ke daerah-daerah pinggiran seraya membawa keyakinan dan ajaran Islam yang melampaui batas-batas bahasa sehingga mempercepat ekspansi Islam.

Hal ini, menurut Azyumardi, sesuai dengan berbagai riwayat yang diungkapkan oleh sumber-sumber lokal atau historiografi tradisional yang mengkisahkan kedatangan sejumlah Syaikh, Sayyid, Makhdum dan lain-lain di wilayah mereka dari Timur Tengah atau dunia muslim manapun.

Salah satu contohnya ialah Syaikh Jumadil Kubra, yang pada saat itu berada di Hadramut (Yaman) merasa kaget dan kecewa ketika mengetahui kota Baghdad luluh lantah dan munculnya mufti-mufti.

Syaikh Jumadil kubra merasa model beragama seperti itu bukan alternatif dan bukan pula masa depan Islam. Maka ia meninggalkan negeri Arab, lalu mengembara ke India. Karena tidak betah dan merasa tidak cocok di India, maka ia kembali mengembara, kali ini ia mengembara ke Champa yang pada saat itu menjadi pusat penyebaran Islam.

Di Champa pun ia tidak betah, sehingga memilih mengembara kembali, yang ditujunya adalah Tanah Jawa yang kala itu Kerajaan Majapahit sedang berkuasa.

Baca juga: Perjalanan Syekh Jumadil Kubro Menyebarkan Islam di Majapahit

Setibanya di Tanah Jawa, ia kemudian mendakwahkan agama Islam ke Raja Majapahit, hingga akhirnya wafat di Tanah Bugis, tepatnya di Tosora, ibukota Kerajaan Wajo.

Teori sufi ini, menurut Azyumardi, berhasil membuat antara peristiwa-peristiwa politik dan gelombang konversi kepada Islam. Teori ini juga berhasil membuat korelasi penting antara konversi dengan pembentukan dan perkembangan institusiinstitusi Islam, yang akhirnya membentuk dan menciptakan ciri khas masyarakat tertentu sehingga ia dapat disebut sebagai masyarakat Muslim. Institusi-institusi tersebut ialah madrasah, tarekat sufi, kelompok dagang dan lain-lain.
halaman ke-1
preload video