Azyumardi Azra: Para Sufi Pengembara Sukses Mengislamkan Penduduk Nusantara
Sabtu, 13 Agustus 2022 - 15:55 WIB
loading...
A
A
A
"Makam-makam para wali dihancurkan, organisasi tarekat dihilangkan dan kebebasan bermadzhab pun dibungkam, sehingga terjadi krisis pengajaran di Timur Tengah," ujarnya.
Baca juga: Baca juga: Saat Islamisasi di Samudera Pasai, Gujarat Masih Hindu
Menurut dia, karena memburuknya kondisi pengajaran di Timur Tengah, memungkinkan para guru dan murid sufi yang baik ilmunya untuk mencari ladang pengajaran yang baru. Dengan afiliasi yang terbentuk antara sufi dan pedagang memungkinkan para sufi yang baik keilmuannya memperoleh alat transportasi dari pusat-pusat dunia muslim ke daerah-daerah pinggiran seraya membawa keyakinan dan ajaran Islam yang melampaui batas-batas bahasa sehingga mempercepat ekspansi Islam.
Hal ini, menurut Azyumardi, sesuai dengan berbagai riwayat yang diungkapkan oleh sumber-sumber lokal atau historiografi tradisional yang mengkisahkan kedatangan sejumlah Syaikh, Sayyid, Makhdum dan lain-lain di wilayah mereka dari Timur Tengah atau dunia muslim manapun.
Salah satu contohnya ialah Syaikh Jumadil Kubra, yang pada saat itu berada di Hadramut (Yaman) merasa kaget dan kecewa ketika mengetahui kota Baghdad luluh lantah dan munculnya mufti-mufti.
Syaikh Jumadil kubra merasa model beragama seperti itu bukan alternatif dan bukan pula masa depan Islam. Maka ia meninggalkan negeri Arab, lalu mengembara ke India. Karena tidak betah dan merasa tidak cocok di India, maka ia kembali mengembara, kali ini ia mengembara ke Champa yang pada saat itu menjadi pusat penyebaran Islam.
Di Champa pun ia tidak betah, sehingga memilih mengembara kembali, yang ditujunya adalah Tanah Jawa yang kala itu Kerajaan Majapahit sedang berkuasa.
Baca juga: Perjalanan Syekh Jumadil Kubro Menyebarkan Islam di Majapahit
Setibanya di Tanah Jawa, ia kemudian mendakwahkan agama Islam ke Raja Majapahit, hingga akhirnya wafat di Tanah Bugis, tepatnya di Tosora, ibukota Kerajaan Wajo.
Teori sufi ini, menurut Azyumardi, berhasil membuat antara peristiwa-peristiwa politik dan gelombang konversi kepada Islam. Teori ini juga berhasil membuat korelasi penting antara konversi dengan pembentukan dan perkembangan institusiinstitusi Islam, yang akhirnya membentuk dan menciptakan ciri khas masyarakat tertentu sehingga ia dapat disebut sebagai masyarakat Muslim. Institusi-institusi tersebut ialah madrasah, tarekat sufi, kelompok dagang dan lain-lain.
Baca juga: Baca juga: Saat Islamisasi di Samudera Pasai, Gujarat Masih Hindu
Menurut dia, karena memburuknya kondisi pengajaran di Timur Tengah, memungkinkan para guru dan murid sufi yang baik ilmunya untuk mencari ladang pengajaran yang baru. Dengan afiliasi yang terbentuk antara sufi dan pedagang memungkinkan para sufi yang baik keilmuannya memperoleh alat transportasi dari pusat-pusat dunia muslim ke daerah-daerah pinggiran seraya membawa keyakinan dan ajaran Islam yang melampaui batas-batas bahasa sehingga mempercepat ekspansi Islam.
Hal ini, menurut Azyumardi, sesuai dengan berbagai riwayat yang diungkapkan oleh sumber-sumber lokal atau historiografi tradisional yang mengkisahkan kedatangan sejumlah Syaikh, Sayyid, Makhdum dan lain-lain di wilayah mereka dari Timur Tengah atau dunia muslim manapun.
Salah satu contohnya ialah Syaikh Jumadil Kubra, yang pada saat itu berada di Hadramut (Yaman) merasa kaget dan kecewa ketika mengetahui kota Baghdad luluh lantah dan munculnya mufti-mufti.
Syaikh Jumadil kubra merasa model beragama seperti itu bukan alternatif dan bukan pula masa depan Islam. Maka ia meninggalkan negeri Arab, lalu mengembara ke India. Karena tidak betah dan merasa tidak cocok di India, maka ia kembali mengembara, kali ini ia mengembara ke Champa yang pada saat itu menjadi pusat penyebaran Islam.
Di Champa pun ia tidak betah, sehingga memilih mengembara kembali, yang ditujunya adalah Tanah Jawa yang kala itu Kerajaan Majapahit sedang berkuasa.
Baca juga: Perjalanan Syekh Jumadil Kubro Menyebarkan Islam di Majapahit
Setibanya di Tanah Jawa, ia kemudian mendakwahkan agama Islam ke Raja Majapahit, hingga akhirnya wafat di Tanah Bugis, tepatnya di Tosora, ibukota Kerajaan Wajo.
Teori sufi ini, menurut Azyumardi, berhasil membuat antara peristiwa-peristiwa politik dan gelombang konversi kepada Islam. Teori ini juga berhasil membuat korelasi penting antara konversi dengan pembentukan dan perkembangan institusiinstitusi Islam, yang akhirnya membentuk dan menciptakan ciri khas masyarakat tertentu sehingga ia dapat disebut sebagai masyarakat Muslim. Institusi-institusi tersebut ialah madrasah, tarekat sufi, kelompok dagang dan lain-lain.
Lihat Juga :