Iblis dan Keledai pun Ikut Naik ke Bahtera Nabi Nuh
Senin, 27 April 2020 - 16:23 WIB
loading...
Menurut sebuah riwayat, hewan yang terakhir masuk ke dalam bahtera adalah keledai.Menurut sebuah riwayat, hewan yang terakhir masuk ke dalam bahtera adalah keledai. Ilustrasi/Ist
A
A
A
Al-Kisa’i (119 H/737- 189 H/809), ulama dibidang Qira'at al-Qur'an, mengatakan, setelah Allah memberi wahyu kepada Nabi Nuh AS bahwa yang mampu memikul kayu itu adalah ‘Auj dari Kufah ke tanah Hirah, suatu perkampungan dekat dengan Baghdad, maka Nabi Nuh mendatangi ‘Auj dan memintanya memikulkan kayu tersebut untuknya. (Baca juga: Raksasa Bernama ‘Auj yang Mengangkut Kayu untuk Kapal Nabi Nuh )
‘Auj berkata, “Aku tidak akan memikulnya kecuali engkau mengenyangkanku dengan roti.” Kebetulan, pada waktu itu Nabi Nuh membawa 3 roti dari kacang. Dia memberikan selembar roti itu kepada ‘Auj dan berkata, “Makanlah roti itu!” Melihat itu, ‘Auj pun tertawa dan berkata, “Seandainya roti ini sebesar gunung itu, ia tidak akan membuatku kenyang, apalagi roti ini hanya selembar.”
Mendengar ucapan ‘Auj, Nabi Nuh memotong selembar roti itu dan memberikan kepadanya dan berkata, “Bacalah bismillahirrahmaanirrahiim kemudian makan potongan roti ini.” ‘Auj pun memakannya dan kemudian dia diberi lembaran roti yang kedua. Lembaran roti yang kedua baru setengah, ‘Auj telah kenyang dan tidak sanggup memakan apa pun. Setelah memakan roti itu, ‘Auj membawa semua kayu tersebut dari Kufah menuju Hirah dalam sekali pemberangkatan.
Setelah kayu-kayu tersebut berada di hadapan Nabi Nuh AS, beliau berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana cara membuat bahtera itu?” Maka, Allah memerintahkan Jibril untuk mengajarkannya bagaimana membuat bahtera.
Setelah diajari cara membuat bahtera, Nabi Nuh mengubah kayu-kayu tersebut menjadi lembaran-lembaran; kemudian dia melekatkan lembaran yang satu pada lembaran yang lainnya dan memakunya dengan paku-paku besi.
Dia buat depannya seperti kepala burung merak, belakangnya seperti ekor ayam, paruhnya seperti paruh rajawali, sayapnya seperti sayap burung garuda, dan wajahnya seperti wajah burung merpati. Dan bahtera itu dia jadikan 3 tingkat. Menurut riwayat lain, 7 tingkat.
Ibnu ‘Abbas RA mengatakan bahwa panjang bahtera itu 1.000 siku, lebarnya 600 siku, dan tingginya 300 siku. Menurut sebuah riwayat, Nabi Nuh AS mengerjakan pembuatan bahtera itu memakan waktu selama 40 tahun. Sewaktu mengerjakannya, kaum Nuh suka mengejeknya dan mereka berkata kepadanya, “Hai Nuh, engkau telah meninggalkan kenabian dan beralih profesi menjadi tukang kayu.”
Al-Kisa’i mengatakan bahwa, ketika malam tiba, kaum Nuh suka membawa api untuk membakar kayu bahtera tersebut, tetapi anehnya api itu tidak pernah mampu membakar kayu. Mereka berkata, “Ini karena sihirnya Nuh.” (Baca juga: Berhala Mewah Raja Duramsyil Berjatuhan karena Suara Nabi Nuh )
Ketika pembuatan bahtera mencapai tahap penyelesaian, Nabi Nuh AS memolesinya dengan ter dan aspal; kemudian Allah memerintahkannya untuk memaku keempat sisinya, dan di setiap tempat ditancapkannya paku digambarkan sebuah mata. Nabi Nuh bertanya, “Wahai Tuhanku, apa kegunaannya?” Allah memberi wahyu kepadanya, “Itulah nama-nama sahabat Muhammad. Mereka adalah ‘Abdullah Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali. Bahtera tidak akan sempurna kecuali dengan melakukan hal itu.”
Perintah Allah tersebut dilaksanakan oleh Nabi Nuh dan pembuatan bahtera pun selesai. Kemudian Allah menjadikan bahtera itu bisa berbicara. Ia berkata dengan keras dan orang-orang mendengarkannya, “Tidak ada tuhan kecuali Allah, Tuhan bagi orang-orang terdahulu dan orang-orang yang terakhir. Aku adalah bahtera. Barangsiapa naik ke atasku, maka dia akan selamat; dan barangsiapa menghindar dariku, dia akan binasa.”
‘Auj berkata, “Aku tidak akan memikulnya kecuali engkau mengenyangkanku dengan roti.” Kebetulan, pada waktu itu Nabi Nuh membawa 3 roti dari kacang. Dia memberikan selembar roti itu kepada ‘Auj dan berkata, “Makanlah roti itu!” Melihat itu, ‘Auj pun tertawa dan berkata, “Seandainya roti ini sebesar gunung itu, ia tidak akan membuatku kenyang, apalagi roti ini hanya selembar.”
Mendengar ucapan ‘Auj, Nabi Nuh memotong selembar roti itu dan memberikan kepadanya dan berkata, “Bacalah bismillahirrahmaanirrahiim kemudian makan potongan roti ini.” ‘Auj pun memakannya dan kemudian dia diberi lembaran roti yang kedua. Lembaran roti yang kedua baru setengah, ‘Auj telah kenyang dan tidak sanggup memakan apa pun. Setelah memakan roti itu, ‘Auj membawa semua kayu tersebut dari Kufah menuju Hirah dalam sekali pemberangkatan.
Setelah kayu-kayu tersebut berada di hadapan Nabi Nuh AS, beliau berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana cara membuat bahtera itu?” Maka, Allah memerintahkan Jibril untuk mengajarkannya bagaimana membuat bahtera.
Setelah diajari cara membuat bahtera, Nabi Nuh mengubah kayu-kayu tersebut menjadi lembaran-lembaran; kemudian dia melekatkan lembaran yang satu pada lembaran yang lainnya dan memakunya dengan paku-paku besi.
Dia buat depannya seperti kepala burung merak, belakangnya seperti ekor ayam, paruhnya seperti paruh rajawali, sayapnya seperti sayap burung garuda, dan wajahnya seperti wajah burung merpati. Dan bahtera itu dia jadikan 3 tingkat. Menurut riwayat lain, 7 tingkat.
Ibnu ‘Abbas RA mengatakan bahwa panjang bahtera itu 1.000 siku, lebarnya 600 siku, dan tingginya 300 siku. Menurut sebuah riwayat, Nabi Nuh AS mengerjakan pembuatan bahtera itu memakan waktu selama 40 tahun. Sewaktu mengerjakannya, kaum Nuh suka mengejeknya dan mereka berkata kepadanya, “Hai Nuh, engkau telah meninggalkan kenabian dan beralih profesi menjadi tukang kayu.”
Al-Kisa’i mengatakan bahwa, ketika malam tiba, kaum Nuh suka membawa api untuk membakar kayu bahtera tersebut, tetapi anehnya api itu tidak pernah mampu membakar kayu. Mereka berkata, “Ini karena sihirnya Nuh.” (Baca juga: Berhala Mewah Raja Duramsyil Berjatuhan karena Suara Nabi Nuh )
Ketika pembuatan bahtera mencapai tahap penyelesaian, Nabi Nuh AS memolesinya dengan ter dan aspal; kemudian Allah memerintahkannya untuk memaku keempat sisinya, dan di setiap tempat ditancapkannya paku digambarkan sebuah mata. Nabi Nuh bertanya, “Wahai Tuhanku, apa kegunaannya?” Allah memberi wahyu kepadanya, “Itulah nama-nama sahabat Muhammad. Mereka adalah ‘Abdullah Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali. Bahtera tidak akan sempurna kecuali dengan melakukan hal itu.”
Perintah Allah tersebut dilaksanakan oleh Nabi Nuh dan pembuatan bahtera pun selesai. Kemudian Allah menjadikan bahtera itu bisa berbicara. Ia berkata dengan keras dan orang-orang mendengarkannya, “Tidak ada tuhan kecuali Allah, Tuhan bagi orang-orang terdahulu dan orang-orang yang terakhir. Aku adalah bahtera. Barangsiapa naik ke atasku, maka dia akan selamat; dan barangsiapa menghindar dariku, dia akan binasa.”
Lihat Juga :