Ketika Para Raja Nusantara Berusaha Meraih Gelar Sultan dari Timur Tengah
Kamis, 25 Agustus 2022 - 14:45 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kisah Laksamana Cheng Ho Menyebarkan Islam di Nusantara
Penggunaan Istilah “Dar al-Islam” menurut Azyumardi, cukup meluas dalam tradisi politik Nusantara. Hikayat Raja-Raja Pasai, misalnya, menyebut nama resmi kesultanan Samudera Pasai sebagai “Samudera Dar al-Islam”.
Istilah itu juga digunakan kitab Undang-Undang Pahang untuk menyebut kesultanan Pahang. Sedangkan Al-Raniri, dalam salah satu karyanya, Bustan al-Salathin, juga menyebut penguasa Patani, Paya Tu Naqpa mengambil nama dan gelar Ismail Syah ketika ia masuk Islam.
Istilah “Syah” yang digunakan banyak penguasa Nusantara lainnya yang bertahta di Negeri Patani, diambil dari kata “Dar al-Salam”.
Jadi, Azyumardi melihat bahwa Islam Nusantara masuk salah satu bagian dari dunia Muslim lainnya. Hanya saja, Islam Nusantara merupakan salah satu wilayah peradaban Islam yang memiliki kekhasan sendiri yang berbeda dalam ekspresi sosio-keagamaan dan kultural-keagamaan dengan wilayah-wilayah yang lainnya.40
Dalam buku "Indonesia dalam Arus Sejarah: Kedatangan dan Perkembangan Peradaban Islam", Azyumardi menyebutkan, ekspresi yang berbeda tersebut lebih kepada kesatuan akidah, ibadah, dan muamalah.
Pada level ini kaum muslim Nusantara berada dalam cakupan ajaran-ajaran dasar yang bersifat universal dalam Islam. Jika ada perbedaan tertentu dengan kaum muslim di tempat lain, hal itu lebih pada ranting (furu), sesuai dengan adanya mazhab dan aliran dalam tradisi keagamaan dan pemikiran Islam.
Akan tetapi, lebih daripada sekeaar kesatuan keimanan dan pengalaman ajaran pokok Islam tersebut, kaum Muslim Nusantara juga terintegrasi dalam berbagai jaringan (networks) dengan kaum Muslim di kawasan lain, khususnya semenanjung Arabia.
Jaringan itu mencakup bidang politik, keilmuan, keulamaan, ekonomi dan perdagangan, serta kebudayaan.
Baca juga: Azyumardi Azra: Islam Pemersatu Berbagai Suku di Nusantara
Penggunaan Istilah “Dar al-Islam” menurut Azyumardi, cukup meluas dalam tradisi politik Nusantara. Hikayat Raja-Raja Pasai, misalnya, menyebut nama resmi kesultanan Samudera Pasai sebagai “Samudera Dar al-Islam”.
Istilah itu juga digunakan kitab Undang-Undang Pahang untuk menyebut kesultanan Pahang. Sedangkan Al-Raniri, dalam salah satu karyanya, Bustan al-Salathin, juga menyebut penguasa Patani, Paya Tu Naqpa mengambil nama dan gelar Ismail Syah ketika ia masuk Islam.
Istilah “Syah” yang digunakan banyak penguasa Nusantara lainnya yang bertahta di Negeri Patani, diambil dari kata “Dar al-Salam”.
Jadi, Azyumardi melihat bahwa Islam Nusantara masuk salah satu bagian dari dunia Muslim lainnya. Hanya saja, Islam Nusantara merupakan salah satu wilayah peradaban Islam yang memiliki kekhasan sendiri yang berbeda dalam ekspresi sosio-keagamaan dan kultural-keagamaan dengan wilayah-wilayah yang lainnya.40
Dalam buku "Indonesia dalam Arus Sejarah: Kedatangan dan Perkembangan Peradaban Islam", Azyumardi menyebutkan, ekspresi yang berbeda tersebut lebih kepada kesatuan akidah, ibadah, dan muamalah.
Pada level ini kaum muslim Nusantara berada dalam cakupan ajaran-ajaran dasar yang bersifat universal dalam Islam. Jika ada perbedaan tertentu dengan kaum muslim di tempat lain, hal itu lebih pada ranting (furu), sesuai dengan adanya mazhab dan aliran dalam tradisi keagamaan dan pemikiran Islam.
Akan tetapi, lebih daripada sekeaar kesatuan keimanan dan pengalaman ajaran pokok Islam tersebut, kaum Muslim Nusantara juga terintegrasi dalam berbagai jaringan (networks) dengan kaum Muslim di kawasan lain, khususnya semenanjung Arabia.
Jaringan itu mencakup bidang politik, keilmuan, keulamaan, ekonomi dan perdagangan, serta kebudayaan.
Baca juga: Azyumardi Azra: Islam Pemersatu Berbagai Suku di Nusantara
Lihat Juga :