Azyumardi Azra: Islam Pemersatu Berbagai Suku di Nusantara
Minggu, 21 Agustus 2022 - 15:31 WIB
loading...
Prof Azyumardi Azra: Islam mengatasi perbedaan-perbedaan yang terdapat di antara berbagai suku bangsa dan menjadi supraidentity. Foto/Ilustrasi: Lipi
A
A
A
Faktor pemersatu terpenting di antara berbagai suku bangsa Nusantara adalah Islam. Azyumardi Azra menjelaskan Islam mengatasi perbedaan-perbedaan yang terdapat di antara berbagai suku bangsa dan menjadi supraidentity yang mengatasi batasan-batasan geografis, sentimen etnis, identitas kesukuan, adat istiadat, dan tradisi lokal lainnya.
"Tentu saja, sejauh menyangkut pemahaman dan pengalaman Islam, juga terdapat perbedaan-perbedaan tertentu, khususnya menyangkut masalah furu’iyah," ujar Azyumardi Azradalam bukunya yang berjudul "Indonesia dalam Arus Sejarah: Kedatangan dan Perkembangan Peradaban Islam"
Baca juga: Azyumardi Azra: Para Sufi Pengembara Sukses Mengislamkan Penduduk Nusantara
Menurut Azyumardi Azra, perbedaan di antara masyarakat muslim Nusantara yang mejemuk itu lebih terkait dengan pemahaman terhadap doktrin dan ajaran Islam sesuai dengan rumusan para ulama, bukan dengan identitas suku bangsa.
Kenyataan bahwa Islam merupakan faktor pemersatu mendorong kemunculan faktor pemersatu kedua, yaitu Bahasa Melayu. Bahasa ini sebelum kedatangan Islam digunakan hanya dilingkungan etnis terbatas, yakni suku bangsa Melayu di Palembang, Riau, Deli (Sumatera Timur), dan semenanjung Malaya.
Kedudukan Bahasa Melayu sebagai lingua franca Islam di Nusantara bertambah kuat ketika Bahasa Melayu ditulis dengan aksara Arab. Bersamaan dengan adopsi huruf-huruf Arab, dilakukan pula pengenalan dan penyesuaian tanda-tanda pada aksara Arab tertentu untuk kepentingan bahasa-bahasa lokal di Nusantara sehingga kemudian memunculkan “tulisan jawi”.
Kedudukan bahasa Melayu itu menjadi semakin lebih kuat lagi ketika para ulama menulis banyak karya mereka dengan bahasa melayu berhuruf Jawi tersebut sehingga pada gilirannya tulisan Jawi menjadi alat komunikasi dan dakwah tertulis bagi masyarakat Nusantara-Melayu menggantikan beberapa bentuk tulisan yang berkembang sebelumnya.
Dengan demikian, menurut Azyumardi Azra, Islam menjadi dasar pembentukan tradisi keilmuan dan intelektualitas di Nusantara.
Baca juga: Rakyat Nusantara Memeluk Islam bukan Disebabkan Keyakinan?
Setidaktidaknya sejak abad ke-16 tradisi intelektual itu terlihat semakin solid karena beberapa alasan. Pertama, sejak masa ini mulai meningkat rihlah ‘ilmiyyah, perjalanan menuntut ilmu, yang dilakukan oleh murid-murid dari Nusantara ke Semenanjung Arabia, khususnya Mekkah dan Madinah.
Kedua, sejak masa ini, lebih khusus lagi abad 17 murid-murid Jawi yang kembali ke Nusantara dan menjadi ulama terkemuka di berbagai tempat di Nusantara menghasilkan karya-karya intelektual yang monumental dalam bahasa Melayu dan bahasa-bahasa lokal lainnya.
"Tentu saja, sejauh menyangkut pemahaman dan pengalaman Islam, juga terdapat perbedaan-perbedaan tertentu, khususnya menyangkut masalah furu’iyah," ujar Azyumardi Azradalam bukunya yang berjudul "Indonesia dalam Arus Sejarah: Kedatangan dan Perkembangan Peradaban Islam"
Baca juga: Azyumardi Azra: Para Sufi Pengembara Sukses Mengislamkan Penduduk Nusantara
Menurut Azyumardi Azra, perbedaan di antara masyarakat muslim Nusantara yang mejemuk itu lebih terkait dengan pemahaman terhadap doktrin dan ajaran Islam sesuai dengan rumusan para ulama, bukan dengan identitas suku bangsa.
Kenyataan bahwa Islam merupakan faktor pemersatu mendorong kemunculan faktor pemersatu kedua, yaitu Bahasa Melayu. Bahasa ini sebelum kedatangan Islam digunakan hanya dilingkungan etnis terbatas, yakni suku bangsa Melayu di Palembang, Riau, Deli (Sumatera Timur), dan semenanjung Malaya.
Kedudukan Bahasa Melayu sebagai lingua franca Islam di Nusantara bertambah kuat ketika Bahasa Melayu ditulis dengan aksara Arab. Bersamaan dengan adopsi huruf-huruf Arab, dilakukan pula pengenalan dan penyesuaian tanda-tanda pada aksara Arab tertentu untuk kepentingan bahasa-bahasa lokal di Nusantara sehingga kemudian memunculkan “tulisan jawi”.
Kedudukan bahasa Melayu itu menjadi semakin lebih kuat lagi ketika para ulama menulis banyak karya mereka dengan bahasa melayu berhuruf Jawi tersebut sehingga pada gilirannya tulisan Jawi menjadi alat komunikasi dan dakwah tertulis bagi masyarakat Nusantara-Melayu menggantikan beberapa bentuk tulisan yang berkembang sebelumnya.
Dengan demikian, menurut Azyumardi Azra, Islam menjadi dasar pembentukan tradisi keilmuan dan intelektualitas di Nusantara.
Baca juga: Rakyat Nusantara Memeluk Islam bukan Disebabkan Keyakinan?
Setidaktidaknya sejak abad ke-16 tradisi intelektual itu terlihat semakin solid karena beberapa alasan. Pertama, sejak masa ini mulai meningkat rihlah ‘ilmiyyah, perjalanan menuntut ilmu, yang dilakukan oleh murid-murid dari Nusantara ke Semenanjung Arabia, khususnya Mekkah dan Madinah.
Kedua, sejak masa ini, lebih khusus lagi abad 17 murid-murid Jawi yang kembali ke Nusantara dan menjadi ulama terkemuka di berbagai tempat di Nusantara menghasilkan karya-karya intelektual yang monumental dalam bahasa Melayu dan bahasa-bahasa lokal lainnya.
Lihat Juga :