Imam Fakhruddin al-Razi: Terkabulnya Doa Butuh Waktu yang Tepat
Kamis, 25 Agustus 2022 - 14:49 WIB
loading...
A
A
A
"إِنَّ مِنْ عِبَادِي لَمَنْ لَا يُصْلِحُهُ إِلَّا الْغِنَى، وَلَوْ أَفْقَرْتُهُ لَأَفْسَدْتُ عَلَيْهِ دِينَهُ، وَإِنَّ مِنْ عِبَادِي لَمَنْ لَا يُصْلِحُهُ إِلَّا الْفَقْرُ، وَلَوْ أَغْنَيْتُهُ لَأَفْسَدْتُ عَلَيْهِ دِينَهُ"
Sesungguhnya di antara hamba-hamba-Ku terdapat orang yang tidak baik baginya kecuali hanya diberi kekayaan; dan seandainya kujadikan dia fakir, niscaya kefakirannya itu akan merusak agamanya. Dan sesungguhnya di antara hamba-hamba-Ku terdapat orang yang tidak baik baginya kecuali hanya diberi kefakiran; seandainya Kujadikan dia kaya, tentulah kekayaan itu akan merusak agamanya.
Lalu, kenapa ada pelaku maksiat yang rezekinya melimpah dan segala harapannya terwujud?
Baca juga: 4 Hadis Tentang Doa Mustajab
Menurut Imam Fakhruddin al-Razi, sesungguhnya pengabulan doa seorang muslim berlandaskan tasyrif atau memuliakan, sedangkan pengabulan doa orang kafir atau ahli maksiat berlandaskan istijraj atau lanjuran sebagai hukuman bagi mereka.
Istijraj secara etimologi diambil dari kata bahasa Arab da-ra-ja yang artinya naik dari satu tingkatan ke tingkatan selanjutnya (al-Mu’jam al-Lughah al-Arabiyah). Secara sederhana, istijraj dari Allah dapat dipahami sebagai hukuman yang diberikan sedikit demi sedikit dan tidak diberikan langsung.
Orang yang diberikan istijraj mungkin terlihat dipenuhi dengan kenikmatan, namun sesungguhnya itu hanyalah kenikmatan semu yang membuat mereka tenggelam dalam kelalaian.
Pasti akan Dikabulkan
Doa seorang muslim pasti akan dikabulkan oleh Allah SWT terlepas dari seberapa besar dan banyaknya. Hanya saja, pengabulan doa mungkin tidak sepenuhnya sama dengan apa yang diinginkan oleh hamba. Allah akan memberikan atau mengabulkan doa sesuai dengan keperluan hambanya, karena Dia Mahamengetahui dan Mahakuasa. Oleh sebab itu, seorang muslim tidak boleh ragu sedikit pun kepada Allah SWT.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah dengan satu doa, melainkan pasti Allah memberikannya kepadanya, atau Allah menghindarkannya dari kejelekan yang sebanding dengan doanya, selama ia tidak mendoakan dosa atau memutuskan silaturahim.” Lalu seseorang berkata, “Kalau begitu, kita akan memperbanyak doa.” Beliau bersabda, “Allah lebih banyak memberi (dari apa yang kalian minta).” (HR Tirmidzi)
Sesungguhnya di antara hamba-hamba-Ku terdapat orang yang tidak baik baginya kecuali hanya diberi kekayaan; dan seandainya kujadikan dia fakir, niscaya kefakirannya itu akan merusak agamanya. Dan sesungguhnya di antara hamba-hamba-Ku terdapat orang yang tidak baik baginya kecuali hanya diberi kefakiran; seandainya Kujadikan dia kaya, tentulah kekayaan itu akan merusak agamanya.
Lalu, kenapa ada pelaku maksiat yang rezekinya melimpah dan segala harapannya terwujud?
Baca juga: 4 Hadis Tentang Doa Mustajab
Menurut Imam Fakhruddin al-Razi, sesungguhnya pengabulan doa seorang muslim berlandaskan tasyrif atau memuliakan, sedangkan pengabulan doa orang kafir atau ahli maksiat berlandaskan istijraj atau lanjuran sebagai hukuman bagi mereka.
Istijraj secara etimologi diambil dari kata bahasa Arab da-ra-ja yang artinya naik dari satu tingkatan ke tingkatan selanjutnya (al-Mu’jam al-Lughah al-Arabiyah). Secara sederhana, istijraj dari Allah dapat dipahami sebagai hukuman yang diberikan sedikit demi sedikit dan tidak diberikan langsung.
Orang yang diberikan istijraj mungkin terlihat dipenuhi dengan kenikmatan, namun sesungguhnya itu hanyalah kenikmatan semu yang membuat mereka tenggelam dalam kelalaian.
Pasti akan Dikabulkan
Doa seorang muslim pasti akan dikabulkan oleh Allah SWT terlepas dari seberapa besar dan banyaknya. Hanya saja, pengabulan doa mungkin tidak sepenuhnya sama dengan apa yang diinginkan oleh hamba. Allah akan memberikan atau mengabulkan doa sesuai dengan keperluan hambanya, karena Dia Mahamengetahui dan Mahakuasa. Oleh sebab itu, seorang muslim tidak boleh ragu sedikit pun kepada Allah SWT.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah dengan satu doa, melainkan pasti Allah memberikannya kepadanya, atau Allah menghindarkannya dari kejelekan yang sebanding dengan doanya, selama ia tidak mendoakan dosa atau memutuskan silaturahim.” Lalu seseorang berkata, “Kalau begitu, kita akan memperbanyak doa.” Beliau bersabda, “Allah lebih banyak memberi (dari apa yang kalian minta).” (HR Tirmidzi)
Lihat Juga :