Imam Fakhruddin al-Razi: Terkabulnya Doa Butuh Waktu yang Tepat
Kamis, 25 Agustus 2022 - 14:49 WIB
loading...
Salah satu penyebab belum dikabulkannya doa seseorang adalah belum tiba waktu yang tepat. Foto/Ilustrasi: Dok SINDOnews
A
A
A
Imam Fakhruddin al-Razi mengatakan bahwa salah satu penyebab belum dikabulkannya doa seseorang adalah belum tiba waktu yang tepat. Boleh jadi juga si hamba belum siap untuk menerimanya, sehingga dapat berujung pada hal-hal yang tidak semestinya dilakukan.
"Artinya, doa seorang hamba mungkin belum dikabulkan karena berkaitan dengan ketidaksiapan dirinya sebagaimana tertuang dalam Surah Assyura ayat 27," jelas Imam Fakhruddin al-Razi dalam kitabnya berjudul "Mafatih al-Ghaib".
Allah SWT berfirman:
وَلَوْ بَسَطَ اللّٰهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهٖ لَبَغَوْا فِى الْاَرْضِ وَلٰكِنْ يُّنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَاۤءُ ۗاِنَّهٗ بِعِبَادِهٖ خَبِيْرٌۢ بَصِيْرٌ ٢٧
“Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahateliti terhadap (keadaan) hamba-hamba-Nya, Maha Melihat.” ( QS Assyura : 27)
Baca juga: Hadis-hadis Tentang Doa Mustajab
Ayat tersebut menginformasikan bahwa belum dikabulkannya doa atau belum dilimpahkannya rezeki kepada seorang muslim yang berdoa kepada Allah adalah demi kebaikan dirinya sendiri.
Allah SWT menunggu waktu yang tepat untuk mengabulkan segala doa agar tidak menyebabkan seorang hamba lalai dan tersesat. Di akhir ayat tersebut ditegaskan Allah Mahateliti dan Mahamengetahui (keperluan) hamba-Nya.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya juga menjelaskan bahwa Allah SWT memberi mereka sebagian dari rezeki yang dikehendaki-Nya untuk kebaikan mereka sendiri, Dia Maha Mengetahui tentang hal tersebut. "Untuk itu Dia menjadikan kaya orang yang berhak menjadi kaya, dan menjadikan fakir orang yang berhak menjadi fakir," ujarnya.
Ibnu Katsir lalu mengutip hadis qudsi bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Artinya, doa seorang hamba mungkin belum dikabulkan karena berkaitan dengan ketidaksiapan dirinya sebagaimana tertuang dalam Surah Assyura ayat 27," jelas Imam Fakhruddin al-Razi dalam kitabnya berjudul "Mafatih al-Ghaib".
Allah SWT berfirman:
وَلَوْ بَسَطَ اللّٰهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهٖ لَبَغَوْا فِى الْاَرْضِ وَلٰكِنْ يُّنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَاۤءُ ۗاِنَّهٗ بِعِبَادِهٖ خَبِيْرٌۢ بَصِيْرٌ ٢٧
“Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahateliti terhadap (keadaan) hamba-hamba-Nya, Maha Melihat.” ( QS Assyura : 27)
Baca juga: Hadis-hadis Tentang Doa Mustajab
Ayat tersebut menginformasikan bahwa belum dikabulkannya doa atau belum dilimpahkannya rezeki kepada seorang muslim yang berdoa kepada Allah adalah demi kebaikan dirinya sendiri.
Allah SWT menunggu waktu yang tepat untuk mengabulkan segala doa agar tidak menyebabkan seorang hamba lalai dan tersesat. Di akhir ayat tersebut ditegaskan Allah Mahateliti dan Mahamengetahui (keperluan) hamba-Nya.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya juga menjelaskan bahwa Allah SWT memberi mereka sebagian dari rezeki yang dikehendaki-Nya untuk kebaikan mereka sendiri, Dia Maha Mengetahui tentang hal tersebut. "Untuk itu Dia menjadikan kaya orang yang berhak menjadi kaya, dan menjadikan fakir orang yang berhak menjadi fakir," ujarnya.
Ibnu Katsir lalu mengutip hadis qudsi bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Lihat Juga :