Kisah Karomah Kiai Rukhiyat saat Menghadapi Belanda sampai DI-TII
Senin, 12 September 2022 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Kisah lain, ketika terjadi Agresi Kedua Belanda pada 1949, pesantren Cipasung merupakan target Belanda untuk dihancurkan. Pada waktu itu, perjuangan KH Rukhiyat melawan penjajah Belanda memang cukup disegani. Pesantrennya pun menjadi pusat komando pejuang di kalangan santri Cipasung.
Ketika waktu sholat ashar tiba, dan Kiai Rukhiyat terlihat sedang melakukan sholat bersama para santrinya, pihak Belanda berusaha membunuhnya dengan melepaskan tembakan ke arahnya. Namun, berkat pertolongan dan perlindungan Allah, tembakan mereka hanya berhasil merobohkan ketiga orang santrinya.
Meski KH Rukhiyat akhirnya ditangkap dan dipenjarakan di Tasikmalaya selama 9 bulan sebagai tahanan politik (agar tidak menggerakkan lagi para gerilyawan di kalangan santri), namun tujuan utama menembak Kiai Rukhiyat tidak kesampaian karena sang kiai tidak mempan peluru.
Karena Kiai Rukhiyat ditangkap, pengajian pesantren pada waktu itu dipegang oleh KH Saiful Millah, dan putera KH Rukhiyat, KH Moh Ilyas Rukhiyat. Dia baru dibebaskan setelah pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda pada 27 Desember 1949.
Demikianlah, karena karomah yang dimiliki oleh Kiai Rukhiyat, usaha pembunuhan Belanda tehadapnya mengalami kegagalan.
Samsul Munir Amin dalam bukunya berjudul "Karomah Para Kiai" menuturkan bahwa suatu kejadian jika sudah dikehendaki Allah, mustahil untuk dihalangi oleh siapa pun. Manusia memang boleh merencanakan sesuatu, termasuk berencana untuk membunuh Kiai Rukhiyat, namun jika Allah tidak menghendaki, hal itu tidak mungkin akan terjadi.
Karomah yang dimiliki oleh Kiai Rukhiyat, yakni tiba-tiba terasa berat ketika diseret oleh para pemberontak DI-TII, sesungguhnya suatu kejadian yang tidak lazim. Menurut Samsul Munir Amin, kejadian yang demikian cukup banyak terjadi dalam komunitas pesantren. Tidak diragukan lagi, para pelakunya adalah orang-orang saleh yang tulus dan suci dalam mengamalkan agama Islam. Pendeknya, mereka adalah orang-orang yang dekat dengan Tuhannya.
Baca juga: Karomah Syaikhona Kholil, Ulama Kharismatik Pulau Madura
Ketika waktu sholat ashar tiba, dan Kiai Rukhiyat terlihat sedang melakukan sholat bersama para santrinya, pihak Belanda berusaha membunuhnya dengan melepaskan tembakan ke arahnya. Namun, berkat pertolongan dan perlindungan Allah, tembakan mereka hanya berhasil merobohkan ketiga orang santrinya.
Meski KH Rukhiyat akhirnya ditangkap dan dipenjarakan di Tasikmalaya selama 9 bulan sebagai tahanan politik (agar tidak menggerakkan lagi para gerilyawan di kalangan santri), namun tujuan utama menembak Kiai Rukhiyat tidak kesampaian karena sang kiai tidak mempan peluru.
Karena Kiai Rukhiyat ditangkap, pengajian pesantren pada waktu itu dipegang oleh KH Saiful Millah, dan putera KH Rukhiyat, KH Moh Ilyas Rukhiyat. Dia baru dibebaskan setelah pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda pada 27 Desember 1949.
Demikianlah, karena karomah yang dimiliki oleh Kiai Rukhiyat, usaha pembunuhan Belanda tehadapnya mengalami kegagalan.
Samsul Munir Amin dalam bukunya berjudul "Karomah Para Kiai" menuturkan bahwa suatu kejadian jika sudah dikehendaki Allah, mustahil untuk dihalangi oleh siapa pun. Manusia memang boleh merencanakan sesuatu, termasuk berencana untuk membunuh Kiai Rukhiyat, namun jika Allah tidak menghendaki, hal itu tidak mungkin akan terjadi.
Karomah yang dimiliki oleh Kiai Rukhiyat, yakni tiba-tiba terasa berat ketika diseret oleh para pemberontak DI-TII, sesungguhnya suatu kejadian yang tidak lazim. Menurut Samsul Munir Amin, kejadian yang demikian cukup banyak terjadi dalam komunitas pesantren. Tidak diragukan lagi, para pelakunya adalah orang-orang saleh yang tulus dan suci dalam mengamalkan agama Islam. Pendeknya, mereka adalah orang-orang yang dekat dengan Tuhannya.
Baca juga: Karomah Syaikhona Kholil, Ulama Kharismatik Pulau Madura
(mhy)
Lihat Juga :