Pesan Imam Al Ghazali: Biarkan Anak Bermain dan Berkembang Sesuai Fitrahnya
Senin, 12 September 2022 - 17:06 WIB
loading...
A
A
A
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah."(QS Ar Rum : 30)
Dalam diri setiap manusia setidaknya ada empat fitrah yang telah ditanamkan, yakni fitrah zaman dan tempat, fitrah belajar, fitrah kemanusiaan, dan fitrah keimanan. Menjadi keputusan guru dan orang tualah apakah fitrah yang dimiliki anak-anak ini dikembangkan atau tidak.
Sementara esensi pendidikan adalah merawat dan menumbuhkembangkan fitrah anak ini. Dari sisi fitrah kemanusiaan, anak juga punya rasa ingin dihargai dan memiliki perasaan yang halus. Karena itu, harus berhati-hati dalam berbicara kepada anak, bahkan sejak di dalam kandungan.
Untuk fitrah zaman dan tempat, Allah SWT menghadirkan makhluknya sesuai dengan kondisi dan zaman yang ada. Maka dari itu, tidak bisa anak-anak yang lahir di zaman penuh teknologi dididik dengan gaya 70-an hingga 90-an dimana tidak ada gawai atau teknologi. "Meniadakan anak-anak dari televisi atau gawai itu tidak mungkin. Yang mungkin adalah mengedukasi penggunanya. Disesuaikan, tidak mungkin juga anak bayi diberi ponsel," ujar Ketua Umum Indonesia Emas (IE) Rahmat Saripudin Syehani.
Adalah fitrah anak untuk belajar. Sejak usia 100 hari di dalam kandungan, sel-sel otak meningkat secara drastis. Hingga anak berusia tiga bulan setelah dilahirkan, sel-sel ini semakin berkembang bahkan melebihi kapasitasnya.
Baru setelah itu beberapa sel otak mengalami kehancuran menyesuaikan dengan kemampuan otak. Sel-sel otak anak ini bisa berkembang dengan belajar. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengembangkan anak dalam hal pelajaran dan pendidikan. Pengembangan ini bisa dilakukan dari berbagai sisi, namun bermain adalah salah satu bentuk belajar anak yang paling nyata.
Baca juga: Pentingnya Mendidik Anak Berorientasi Akhirat
Wallahu A'lam
Dalam diri setiap manusia setidaknya ada empat fitrah yang telah ditanamkan, yakni fitrah zaman dan tempat, fitrah belajar, fitrah kemanusiaan, dan fitrah keimanan. Menjadi keputusan guru dan orang tualah apakah fitrah yang dimiliki anak-anak ini dikembangkan atau tidak.
Sementara esensi pendidikan adalah merawat dan menumbuhkembangkan fitrah anak ini. Dari sisi fitrah kemanusiaan, anak juga punya rasa ingin dihargai dan memiliki perasaan yang halus. Karena itu, harus berhati-hati dalam berbicara kepada anak, bahkan sejak di dalam kandungan.
Untuk fitrah zaman dan tempat, Allah SWT menghadirkan makhluknya sesuai dengan kondisi dan zaman yang ada. Maka dari itu, tidak bisa anak-anak yang lahir di zaman penuh teknologi dididik dengan gaya 70-an hingga 90-an dimana tidak ada gawai atau teknologi. "Meniadakan anak-anak dari televisi atau gawai itu tidak mungkin. Yang mungkin adalah mengedukasi penggunanya. Disesuaikan, tidak mungkin juga anak bayi diberi ponsel," ujar Ketua Umum Indonesia Emas (IE) Rahmat Saripudin Syehani.
Adalah fitrah anak untuk belajar. Sejak usia 100 hari di dalam kandungan, sel-sel otak meningkat secara drastis. Hingga anak berusia tiga bulan setelah dilahirkan, sel-sel ini semakin berkembang bahkan melebihi kapasitasnya.
Baru setelah itu beberapa sel otak mengalami kehancuran menyesuaikan dengan kemampuan otak. Sel-sel otak anak ini bisa berkembang dengan belajar. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengembangkan anak dalam hal pelajaran dan pendidikan. Pengembangan ini bisa dilakukan dari berbagai sisi, namun bermain adalah salah satu bentuk belajar anak yang paling nyata.
Baca juga: Pentingnya Mendidik Anak Berorientasi Akhirat
Wallahu A'lam
(wid)
Lihat Juga :