4 Sahabat Nabi Muhammad SAW yang Berdakwah ke Yaman

loading...
4 Sahabat Nabi Muhammad SAW yang Berdakwah ke Yaman
4 sahabat Nabi yang berdakwah ke Yaman antara lain adalah Khalid bin Walid, Ali bin Abi Thalib. dan Muazd bin Jabal. Foto/Ilustrasi: Ist
Sahabat Nabi Muhammad SAW yang berdakwah ke Yaman lumayan banyak. Di antara mereka adalah Khalid bin Walid , Ali bin Abi Thalib, Barra bin Azib, dan Muadz bin Jabal .

Muhammad Fethullah Gulen dalam bukunya berjudul "Cahaya Abadi Muhammad SAW Kebanggaan Umat Manusia" menyebut Rasulullah SAW menjalankan dakwah secara baik dan teratur.

Menurut cendekiawan Muslim Turki ini, strategi Rasulullah ketika salah seorang sahabat merasa tidak cocok dengan perjuangan dakwah di satu tempat, atau mendapat kendala dalam berdakwah di satu tempat maka Rasulullah akan mengirimkan sahabat lain untuk menggantikan. "Metode seperti itu ternyata mendatangkan dampak positif bagi dakwah Islam," ujar Fethullah Gulen.

Baca juga: Kisah Yaman Dikuasai Orang Nasrani Pasca Ashabul Ukhdud

Pada mulanya, Khalid bin Walid diutus Rasulullah untuk berdakwah ke Yaman. Nyatanya, penduduk Yaman kurang bisa menerima Khalid. Rasulullah pun mengirim Ali bin Abi Thalib bersama Barra bin Azib.

Menariknya ketika Ali dan Barra hampir tiba di tujuan, orang-orang Yaman sudah keluar menyambut kedatangan mereka. Setelah itu Ali bin Abi Thalib pun mengimami sholat dan setelahnya membacakan surat Rasulullah. Seketika itu juga seluruh penduduk Yaman masuk Islam.

Sedangkan setelah kedatangan Ali, Rasulullah memindahkan Khalid bin Walid untuk berdakwah ke daerah Najran yang pada saat itu didiami kaum Nasrani.

Ali bin Abi Thalib ternyata tepat ditempatkan di Yaman. Sebab Ali memiliki sejarah panjang dengan Rasulullah dan juga karena dia adalah ayah dari Hasan dan Husain serta menjadi puncak silsilah dari semua quthb, para muqarrabun, wali-wali, dan para ashfiya yang akan terus muncul hingga hari kiamat.

Hingga hari ini, kebenaran dan hakikat tetap berada di bawah naungan mereka. "Ali berhasil menaklukkan hati penduduk Yaman dengan kata-katanya yang terkenal mampu meluluhkan siapa pun yang mendengarnya," jelas Gulen.

Hingga kemudian saat peristiwa penaklukan Mekkah terjadi orang-orang Yaman yang telah memeluk Islam datang ke Mekkah untuk bergabung dengan umat Islam lainnya.

Selanjutnya, Muadz bin Jabal juga sempat diutus oleh Nabi Muhammad SAW ke wilayah Yaman. Selain berdakwah, di sana Muadz bin Jabal bertugas sebagai penguasa, hakim agung, sekaligus menjadi pengajar dan pengumpul zakat.

Baca juga: Yaman Pra-Islam: Abrahah dan Pembantaian 20.000 Umat Nasrani

Prof Muhammad Quraish Shihab dalam buku "Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW" menjelaskan, misi Muadz bin Jabal ke Yaman diiringi dengan surat-surat kepercayaan dari Nabi Muhammad. Yang salah satunya berisi: “Inniy bu’itstu lakum khaira ahliy,”. Yang artinya: “Aku mengutus kepadamu, wahai penduduk Yaman, keluargaku yang terbaik.”

Sebelum Muadz berangkat ke Yaman pun, Nabi seolah tengah menguji kelayakan kepadanya dengan beberapa pertanyaan.

Nabi berkata kepada Muadz: “Kaifa tashna’u idza uridha laka qadhaa-un?”. Yang artinya: “Bagaimana engkau bersikap jika diajukan kepadamu permintaan menetapkan hukum?”.

Muadz pun menjawab: “Aqdhiy fi kitabillah,”. Yang artinya: “Aku memutuskan berdasarkan Kitabullah,”.

Nabi bertanya lagi: “Fa in lam yakun fi kitabillah?”. Yan artinya: “Kalau engkau tak temukan dalam Kitabullah?”.

Muadz menjawab: “Bisunnati Rasulillah,”. Yang artinya: “Dengan sunah Rasulullah.”

Nabi kembali bertanya: “Fa in lam yakun fi sunnati Rasulillah?”

Muadz dengan tegas menjawab: “Ajtahidu bira’yi wala aluw,”. Yang artinya: “Aku mencurahkan daya sekuat mungkin/berijtihad.”
halaman ke-1
preload video