Perayaan Maulid Nabi dalam Ayat-Ayat Al-Qur'an Menurut Alwi bin Ahmad

Senin, 03 Oktober 2022 - 05:15 WIB
loading...
A A A
Senada dengan hal tersebut, Ibn Abd al-Barr dalam Jami’ Bayan al-‘Ilm wa Fadhluhu mengutip kalam Imam Abu Hanifah tentang kisah para ulama, “kisah-kisah ulama dan kebaikan-kebaikan mereka itu lebih aku sukai daripada fikih, sebab kisah-kisah mereka merupakan adab dan akhlak yang mesti ditiru oleh suatu kaum.”

Baca juga: Keutamaan Maulid Nabi Muhammad yang Jarang Diketahui Orang

Surat Ibrahim Ayat 5
Selanjutnya, Dr Alwi bin Ahmad Al-Idrus menukil surah Ibrahim ayat 5 berikut:

وَذَكِّرْهُمْ بِاَيّٰىمِ اللّٰهِ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُوْرٍ……

“..dan ingatkanlah mereka tentang hari-hari Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat penyabar lagi banyak bersyukur.”

Apa maksud ‘hari-hari Allah’? Maksud dari hari-hari Allah adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi pada manusia, baik berupa nikmat maupun siksaan yang mereka alami.

Sayyid Quthb dalam Fi Zhilal al-Quran menuturkan, “semua hari adalah hari Allah. Tetapi maksud dari ayat tersebut adalah hari-hari terjadinya peristiwa bagi manusia atau sekelompok golongan, berupa nikmat atau siksaan seperti kisah peringatan Musa kepada kaumnya yang akan diceritakan kemudian. Hari-hari tersebut kemudian disebut dengan ayyam (hari-hari) mereka, seperti halnya hari-hari bagi kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud dan kaum-kaum setelahnya. Inilah yang maksud hari-hari (Allah).”

Jika peristiwa-peristiwa penting yang dialami kaum terdahulu diperintahkan untuk mengingatnya, tidakkah peristiwa lahirnya Nabi Muhammad SAW dan kisah hidup beliau lebih penting dan lebih perlu untuk diingat?

Menukil Syaikh Abd al-Fattah Ali Syihab dalam al-I’lam bi Fatawa Aimmah al-Islam haula Maulidih ‘alahis shalah was salam, beliau menuturkan, “kami, umat Islam, memeringati hari lahir (maulid) kekasih kita, Nabi Muhammad SAW mengikuti ulama salafus salih kami, dengan harapan memperoleh syafa’at beliau SAW untuk kami."

"Kami juga memeringati malam Lailatulqadr sebagai sarana dakwah selain juga memegang teguh al-Quran yang diturunkan pada malam tersebut. Seperti halnya kami memeringati hijrah beliau SAW, sebagai pengingat kepatuhan mutlak dan pengorbanan tinggi yang dilakukan oleh beliau SAW. Seperti halnya juga kami memeringati momen-momen penting dari peperangan dan kemenangan beliau SAW beserta para sahabat dalam menegakkan panji Islam.”

Bukankah semua yang telah disebutkan merupakan ayyamullah (hari-hari Allah) yang mesti umat Islam ingat, supaya apa yang ditinggalkan Allah baik berupa pemberian maupun bencana menjadi sebuah pelajaran berharga bagi kaum muslimin, sehingga mereka dapat menyongsong masa depan berbekal pelajaran yang diberikan Allah melalui hari-hari penting tersebut.

Baca juga: Benarkah Roh Nabi Muhammad SAW Menghadiri Acara Maulid?

Surat Maryam Ayat 33
Dalil keempat tentang Maulid Nabi dalam Al-Quran adalah surah Maryam [19] ayat 33. Allah SWT berfirman:

وَالسَّلٰمُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُّ وَيَوْمَ اَمُوْتُ وَيَوْمَ اُبْعَثُ حَيًّا

“Kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari kelahiranku, hari wafatku, dan hari aku dibangkitkan hidup (kembali).”

Dalam beberapa tempat, al-Quran menyebutkan ayat yang memberi isyarat akan pentingnya hari lahir. Misalnya ayat di atas—Maryam ayat 33—yang berbicara Nabi Isa ‘alaihissalam, dan Maryam ayat 15 yang khusus berbicara Nabi Yahya ‘alaihissalam.

Berkumpulnya dua ayat, yaitu ayat 15 dan 33 dalam satu surah yang sama, Maryam, menunjukkan bahwa hari-hari tersebut; hari kelahiran, hari wafat dan hari kebangkitan adalah sesuatu yang esensial. Supaya umat Muslim dapat memetik pelajaran dari pengutusan dua nabi, Nabi Isa dan Nabi Yahya, tersebut.

Penyebutan Al-Quran tentang tiga ‘hari’ tersebut memberi isyarat tidak langsung mengenai kekhususannya daripada ‘hari’ yang lain. Seperti halnya tiga dalil maulid Nabi dalam Al-Qur'an sebelumnya, coba renungkan lagi ayat di atas dengan menghadirkan Nabi Muhammad SAW sebagai subjek yang berucap. Di sinilah alasan mengenang dan memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, wafatnya dan hari-hari bersejarah lainnya menjadi penting.

Pada hakikatnya, orang pertama yang mentradisikan perayaan hari lahir adalah Nabi Muhammad SAW sendiri dengan mengkhususkan hari lahir beliau dengan ibadah khusus pula, yaitu puasa di hari Senin. Itulah makna perayaan.

Ibn al-Haj (w. 737 H) dalam al-Madkhal ila Tanmiyah al-A’mal menarik istinbath dari riwayat tersebut dengan menyebutkan, “…tetapi, Nabi Muhammad SAW memberi isyarat akan keutamaan bulan ini (Rabiul Awal) dengan sabda beliau SAW ketika ditanya perihal puasa hari Senin yang beliau lakukan. “pada hari itulah aku dilahirkan,” begitu jawaban yang diberikan Nabi Muhammad SAW kepada para sahabat. Dengan demikian, pemuliaan terhadap hari Senin merupakan pemuliaan juga terhadap bulan di mana beliau dilahirkan.”

Masih dalam al-Madkhal, Ibn al-Haj melanjutkan, “maka sudah seharusnya kita memuliakan hari dan bulan tersebut dengan sebenar-benarnya. Keutamaan yang terdapat pada waktu dan tempat tertentu itu ditunjukkan dengan ibadah-ibadah yang dikhususkan di dalamnya. Suatu masa dan tempat tidak menjadi mulia dengan sendirinya. Tetapi ia menjadi mulia karena ada makna spesial di dalamnya. Maka lihatlah pengistimewaan yang Allah lakukan pada hari Senin dan bulan Rabiul Awal tersebut.”

“Tidakkah Anda tahu, bahwa puasa pada hari Senin mengandung keutamaan yang agung? Pada hari itulah Nabi Muhammad Saw dilahirkan. Sudah semestinya bagi seorang Muslim untuk memuliakan, dan mengangungkan bulan ini (Rabiul Awal) dengan sebenar pemuliaan. Caranya dengan ber-ittiba’, mengikuti Nabi Muhammad, seperti halnya mengkhususkan waktu-waktu yang utama dengan memperbanyak amal kebaikan,” ujar Ibn al-Haj.

Baca juga: Maulid Nabi: Kisah Alam Menyambut Lahirnya Rasulullah SAW

Surat al-Hajj Ayat 77
Dalil atau petunjuk ihtifal (perayaan) maulid Nabi berikutnya adalah surah al-Hajj ayat 77. Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ارْكَعُوْا وَاسْجُدُوْا وَاعْبُدُوْا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ۚ

“Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah, sujudlah, sembahlah Tuhanmu, dan lakukanlah kebaikan agar kamu beruntung.”
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Menelusuri Jejak Kehidupan...
Menelusuri Jejak Kehidupan Rasulullah di Museum Biografi Nabi Muhammad di Makkah
Menjadikan Rasulullah...
Menjadikan Rasulullah SAW sebagai Kiblat Ekonomi Umat
Jejak Sejarah Ibadah...
Jejak Sejarah Ibadah Umrah Rasulullah SAW, Hanya 4 Kali Seumur Hidup
Diplomasi Perang ala...
Diplomasi Perang ala Rasulullah SAW: Strategi Cerdas di Balik Kemenangan
Kumpulan Kisah Nabi...
Kumpulan Kisah Nabi SAW di Bulan Ramadan, Dari Terima Wahyu Al Quran hingga Perintah Segerakan Berbuka Puasa
Kisah Hikmah : Berhala...
Kisah Hikmah : Berhala Bisa Bicara dan Menyampaikan Kebenaran Nabi Muhammad SAW
Rekomendasi
Megastruktur Berusia...
Megastruktur Berusia 11.000 Tahun Ditemukan di Bawah Laut Baltik
Awan Berbentuk Tsunami...
Awan Berbentuk Tsunami Gemparkan India
Kerak Bumi Terdeteksi...
Kerak Bumi Terdeteksi Terus-menerus Menurun, Ini Dampaknya
Artikel Terkini
Doa Akhir dan Awal Tahun...
Doa Akhir dan Awal Tahun Baru Islam, Baca sebelum Maghrib Nanti!
Gus Zainul Arifin, Kiai...
Gus Zainul Arifin, Kiai Muda yang Hadirkan Dakwah Modern Tanpa Tinggalkan Tradisi
Selamat Tahun Baru Islam...
Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah, Berikut Keutamaan Muharram
Jelang 1 Muharram, Ulama...
Jelang 1 Muharram, Ulama Anjurkan Minum Susu Putih Sebelum Subuh, Ini Alasannya
Asal-usul Nama Suro...
Asal-usul Nama Suro Asyura? Simak Penjelasannya di Sini!
Benarkah Muharram atau...
Benarkah Muharram atau Suro Bulan Keramat? Begini Pandangan Islam
Infografis
Ini Perintah dalam Al-Quran...
Ini Perintah dalam Al-Quran Kaum Muslim Wajib Membela Palestina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved