Kisah WS Rendra Masuk Islam setelah Pementasan Sholawat Barzanji
Rabu, 05 Oktober 2022 - 08:13 WIB
loading...
A
A
A
"Bukankah ini berarti Nabi suka bergaul? Saya amat terharu membaca syair-syair itu, dan saya berpikir, 'Boleh kan, bila saya ikut terharu dan ikut numpang kagum pada Muhammad?'” ujarnya.
Pada saat Rendra memutuskan Bengkel Teater akan mementaskan Barzanji ia pergi ke masjid-masjid, bahkan tiduran di masjid. Ia memperhatikan orang-orang yang sholat, dan seorang teman Rendra menjelaskan artinya. "Jadi saya mendapatkan obyek pengamatan yang menarik. Inilah yang kemudian saya ekspresikan dalam teater, yang dipentaskan di Teater Terbuka Pusat Kesenian Jakarta, 23-24 Juni 1970," tuturnya.
Kala itu, kata Rendra ia masih belum tertarik untuk masuk Islam. "Saya takut jika daya cipta saya lalu mati!" ujarnya.
Gambaran buruk bahwa orang-orang Islam itu tidak ramah memang terbukti. Pementasan Kasidah Barzanji itu sukses. Tapi, seusai pementasan, seorang anggota keamanan memanggil Rendra dan menunjukkan tumpukan batu-bata yang disembunyikan di bawah panggung.
“Mas, lihat itu! Batu-batu itu disiapkan untuk melempari Anda, kalau penonton tidak puas,” katanya.
“Wah … tak mungkin saya masuk Islam. Tak mungkin,” Rendra langsung protes dalam hati. Rendra bahkan berbicara, “Syukurlah kita bukan orang Islam.”
Baca juga: Cerita Paul Pogba Dapat Hidayah hingga Jadi Mualaf
Sepulang dari pementasan itu, Rendra ceritakan soal batu-batu yang disiapkan untuk melemparinya kepada Syu’bah, dan ledekan Rendra kembali meluncur, “Bagaimana orang Islam itu?”
“Sudahlah. Mas, saya sibuk. Besok ujian,” jawab Syu’bah.
Beberapa waktu kemudian Rendra mengajak Syu’bah ke Pantai Parangtritis, melihat senja. Syu’bah menolak, karena dia sedang belajar untuk ujian. Kebetulan ada teman yang datang membawa mobil. Akhirnya dengan beberapa teman, Rendra meluncur ke pantai Parangtritis.
Di Pantai Parangtritis, beberapa saat setelah menatap laut luas pada senja itu, sekonyong-konyong Rendra merasakan badannya diterpa kenikmatan yang luar biasa; kenikmatan badan bersama hembusan angin. Seluruh anggota tubuh terangsang – hingga ke bulu-bulu mata, sampai masuk telinga.
"Luar biasa! Kenikmatan ini melebihi orgasme. Ini adalah nikmat badan, nikmat syaraf, sampai ke ujung-ujung. Saya seperti terkapar, tanpa tahu persis sebabnya. Ini sesuatu yang gaib," tuturnya.
Kenikmatan ini berlangsung beberapa saat. Dan tiba-tiba, tanpa sepenuhnya ia sadari, tangan kirinya telah terlipat di dada; tangan kanan terangkat tegak lurus, telunjuk mengacung ke langit, dan “Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadarasulullah” terlontar dari mulut Rendra!
Beberapa saat kemudian Rendra kebingungan sendiri. “Lho … aku tadi kok … boleh dikatakan aku ini Islam,” pikir Rendra. Tapi kemudian ia tukas sendiri. “Tidak, bukan ‘boleh dikatakan,’ tapi aku ini Islam!”
"Tidak usah diislam-islamkan, saya Islamkan diri saya sendiri. Lalu intelek saya mengambil alih. Ha, untuk menjadi Kristen saja saya harus dibaptis, bahkan untuk komuni saja harus melalui pastur. Tapi sekarang saya mengislamkan diri sendiri. Aku, Islam! begitu saja."
Baca juga: Viral! Kisah Bule Jadi Mualaf Usai Temukan Alquran
Pada saat Rendra memutuskan Bengkel Teater akan mementaskan Barzanji ia pergi ke masjid-masjid, bahkan tiduran di masjid. Ia memperhatikan orang-orang yang sholat, dan seorang teman Rendra menjelaskan artinya. "Jadi saya mendapatkan obyek pengamatan yang menarik. Inilah yang kemudian saya ekspresikan dalam teater, yang dipentaskan di Teater Terbuka Pusat Kesenian Jakarta, 23-24 Juni 1970," tuturnya.
Kala itu, kata Rendra ia masih belum tertarik untuk masuk Islam. "Saya takut jika daya cipta saya lalu mati!" ujarnya.
Gambaran buruk bahwa orang-orang Islam itu tidak ramah memang terbukti. Pementasan Kasidah Barzanji itu sukses. Tapi, seusai pementasan, seorang anggota keamanan memanggil Rendra dan menunjukkan tumpukan batu-bata yang disembunyikan di bawah panggung.
“Mas, lihat itu! Batu-batu itu disiapkan untuk melempari Anda, kalau penonton tidak puas,” katanya.
“Wah … tak mungkin saya masuk Islam. Tak mungkin,” Rendra langsung protes dalam hati. Rendra bahkan berbicara, “Syukurlah kita bukan orang Islam.”
Baca juga: Cerita Paul Pogba Dapat Hidayah hingga Jadi Mualaf
Sepulang dari pementasan itu, Rendra ceritakan soal batu-batu yang disiapkan untuk melemparinya kepada Syu’bah, dan ledekan Rendra kembali meluncur, “Bagaimana orang Islam itu?”
“Sudahlah. Mas, saya sibuk. Besok ujian,” jawab Syu’bah.
Beberapa waktu kemudian Rendra mengajak Syu’bah ke Pantai Parangtritis, melihat senja. Syu’bah menolak, karena dia sedang belajar untuk ujian. Kebetulan ada teman yang datang membawa mobil. Akhirnya dengan beberapa teman, Rendra meluncur ke pantai Parangtritis.
Di Pantai Parangtritis, beberapa saat setelah menatap laut luas pada senja itu, sekonyong-konyong Rendra merasakan badannya diterpa kenikmatan yang luar biasa; kenikmatan badan bersama hembusan angin. Seluruh anggota tubuh terangsang – hingga ke bulu-bulu mata, sampai masuk telinga.
"Luar biasa! Kenikmatan ini melebihi orgasme. Ini adalah nikmat badan, nikmat syaraf, sampai ke ujung-ujung. Saya seperti terkapar, tanpa tahu persis sebabnya. Ini sesuatu yang gaib," tuturnya.
Kenikmatan ini berlangsung beberapa saat. Dan tiba-tiba, tanpa sepenuhnya ia sadari, tangan kirinya telah terlipat di dada; tangan kanan terangkat tegak lurus, telunjuk mengacung ke langit, dan “Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadarasulullah” terlontar dari mulut Rendra!
Beberapa saat kemudian Rendra kebingungan sendiri. “Lho … aku tadi kok … boleh dikatakan aku ini Islam,” pikir Rendra. Tapi kemudian ia tukas sendiri. “Tidak, bukan ‘boleh dikatakan,’ tapi aku ini Islam!”
"Tidak usah diislam-islamkan, saya Islamkan diri saya sendiri. Lalu intelek saya mengambil alih. Ha, untuk menjadi Kristen saja saya harus dibaptis, bahkan untuk komuni saja harus melalui pastur. Tapi sekarang saya mengislamkan diri sendiri. Aku, Islam! begitu saja."
Baca juga: Viral! Kisah Bule Jadi Mualaf Usai Temukan Alquran
Lihat Juga :