Kisah WS Rendra Masuk Islam setelah Pementasan Sholawat Barzanji

loading...
Kisah WS Rendra Masuk Islam setelah Pementasan Sholawat Barzanji
WS Rendra terlahir dalam keluarga Katolik, memutuskan memeluk Islam setelah pementasan Shalawat Barzanji. Foto/Ilustrasi: Ist
WS Rendra (7 November 1935-6 Agustus 2009) memeluk Islam setelah pementasan Sholawat Barzanji pada tahun 1970. Padahal si "Burung Merak" ini sebelumnya berpandangan buruk terhadap Agama Tauhid ini.

Rendra mengenal Kitab Barzanji dari sahabatnya, Syu’bah Asa, yang menerjemahkan kitab tersebut. Dari syair-syair tersebut Rendra mengenal penggambaran sosok Nabi Muhammad SAW . Dari sinilah hidayah itu datang.

Baca juga: Kisah Perjalanan Muhammad Ali Menjadi Seorang Mualaf

Muhammad Idris Mas’udi dalam tulisannya berjudul "Berjanjen" di buku "Ensiklopedi Islam Nusantara: Edisi Budaya" yang diterbitkan Kementrian Agama RI menjelaskan pementasan Shalawat Barzanji beranjak dari naskah terjemahan Syubah Asa yang sebenarnya merupakan sequel dari Kasidah Barzanji yang pernah menghebohkan jagad perteateran nasional pada tahun 1970.

Sekuel ini kali pertama dimainkan di Taman Ismail Marzuki Jakarta, yang pada waktu itu berhasil menyedot penonton paling banyak sepanjang sejarah pertunjukan teater di Indonesia.

Kala itu, Rendra belum masuk Islam. Dia masih dalam fase agnostik dan sempat masuk ke berbagai agama lainnya, di antaranya adalah Hindu dan Buddha .

Rendra sudi mementaskan hal yang islami ini karena tertarik akan syair-syair yang tertuang di dalam Kitab Barzanji. Rendra menyimak bahwasanya Nabi Muhammad hidupnya sangat sederhana, menyukai anak-anak, dan senang bergaul. “Boleh, kan, bila saya ikut terharu? Dan ikut numpang kagum pada Muhammad?” ujar Rendra dalam sebuah wawancara dengan Majalah Ummat, No. 01, 1994.

Baca juga: Ini Agama Suami Maudy Ayunda sebelum Mualaf

Keluarga Katolik
Nama lengkapnya adalah Willibrordus Surendra Broto Rendra dan terkenal sebagai WS Rendra. Penyair, dramawan, pemeran dan sutradara teater ini dilahirkan di sebuah lingkungan keluarga Katolik yang taat.

Ayah Rendra bernama R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan ibunya bernama Raden Ayu Catharina Ismadillah.

Kedua orang tuanya adalah pelaku seni. Ayahnya adalah seorang pendrama, dan juga guru bahasa Jawa dan bahasa Indonesia di sekolah Katolik di Solo, ibunya adalah seorang penari Serimpi yang sering manggung untuk keraton Solo.

Pada mulanya, Rendra sendiri mengakui memiliki pandangan yang buruk terhadap Islam. “Gambaran tentang orang Islam dalam benak saya memang buruk sekali: mereka tak ramah, tak cukup kreatif, dan sebagainya,” katanya.

Rendra mengaku sering mengejek Islam. “Mana itu seniman Islam? Islam kan tak punya Beethoven, tak punya Mozart, Picasso?” ujar Rendra kepada Syu’bah Asa yang muslim. Kala itu Syu’bah Asa tinggal serumah dengan Rendra. Syu’bah lebih sering diam saja.

Baca juga: Mualaf, Begini Respon Marcell Siahaan Dipanggil Antum

Syair Syaraful ‘Anam dan al-Barzanji
Rendra menjelaskan ketertarikan dirinya pada Islam bermula pada syair-syair Syaraful ‘Anam dan al-Barzanji yang diterjemahkan Syu’bah. Syair-syair ini adalah kasidah puji-pujian terhadap Nabi Muhammad. Di situ, Nabi Muhammad digambarkan menambal gamisnya sendiri; jika berjalan dengan sahabat-sahabatnya beliau berjalan paling belakang; beliau juga amat menyukai anak-anak.

Dan, jika tangan seorang sahabat berbau wangi, orang akan berkata, “Tangan ini pasti baru disentuh Nabi.”

"Bukankah ini berarti Nabi suka bergaul? Saya amat terharu membaca syair-syair itu, dan saya berpikir, 'Boleh kan, bila saya ikut terharu dan ikut numpang kagum pada Muhammad?'” ujarnya.

Pada saat Rendra memutuskan Bengkel Teater akan mementaskan Barzanji ia pergi ke masjid-masjid, bahkan tiduran di masjid. Ia memperhatikan orang-orang yang sholat, dan seorang teman Rendra menjelaskan artinya. "Jadi saya mendapatkan obyek pengamatan yang menarik. Inilah yang kemudian saya ekspresikan dalam teater, yang dipentaskan di Teater Terbuka Pusat Kesenian Jakarta, 23-24 Juni 1970," tuturnya.

Kala itu, kata Rendra ia masih belum tertarik untuk masuk Islam. "Saya takut jika daya cipta saya lalu mati!" ujarnya.

Gambaran buruk bahwa orang-orang Islam itu tidak ramah memang terbukti. Pementasan Kasidah Barzanji itu sukses. Tapi, seusai pementasan, seorang anggota keamanan memanggil Rendra dan menunjukkan tumpukan batu-bata yang disembunyikan di bawah panggung.
halaman ke-1
preload video