Zunnun al-Misri Capai Maqam Makrifah karena Kemurahan Tuhan
Sabtu, 08 Oktober 2022 - 13:22 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Harun Nasution, kata makrifat memang mengandung arti pengetahuan. Maka, makrifat dalam tasawuf berarti pengetahuan yang diperoleh langsung dari Tuhan melalui kalbu.
Pengetahuan ini disebut ilm ladunni. Makrifah berbeda dengan 'ilm. 'Ilm ini diperoleh melalui akal. Dalam pendapat al-Ghazali , pengetahuan yang diperoleh melalui kalbu, yaitu makrifah, lebih benar dari pengetahuan yang diperoleh melalui akal, yaitu 'ilm.
Sebelum menempuh jalan tasawuf, al-Ghazali diserang penyakit syak. Tapi, menurut al-Ghazali, setelah mencapai makrifah, keyakinannya untuk memperoleh kebenaran ternyata melalui tasawuf, bukan filsafat.
Baca juga: Pengalaman Sufi: Kisah Rabiah Al-Adawiyah Capai Maqam Mahabbah
Lebih jauh mengenai makrifah dalam literatur tasawuf dijumpai ungkapan berikut:
1. Kalau mata yang terdapat di dalam hati sanubari manusia terbuka, mata kepalanya akan tertutup dan ketika itu yang dilihatnya hanya Allah.
2. Makrifah adalah cermin. Kalau sufi melihat ke cermin itu yang akan dilihatnya hanyalah Allah.
3. Yang dilihat orang arif, baik sewaktu tidur maupun sewaktu bangun hanyalah Allah.
3. Sekiranya makrifah mengambil bentuk materi, cahaya yang disinarkannya gelap. Semua orang yang memandangnya akan mati karena tak tahan melihat kecemerlangan dan keindahannya.
Tetapi sufi yang dapat menangkap cahaya makrifah dengan mata hatinya akan dipenuhi kalbunya dengan rasa cinta yang mendalam kepada Tuhan. Harun Nasution mengatakan tidak mengherankan kalau sufi merasa tidak puas dengan stasion makrifah saja. Ia ingin berada lebih dekat lagi dengan Tuhan. Ia ingin mengalami persatuan dengan Tuhan, yang di dalam istilah tasawuf disebut ittihad.
Baca juga: Jalan Pendekatan Diri kepada Tuhan dan Menjadi Sufi Menurut Harun Nasution
Pengetahuan ini disebut ilm ladunni. Makrifah berbeda dengan 'ilm. 'Ilm ini diperoleh melalui akal. Dalam pendapat al-Ghazali , pengetahuan yang diperoleh melalui kalbu, yaitu makrifah, lebih benar dari pengetahuan yang diperoleh melalui akal, yaitu 'ilm.
Sebelum menempuh jalan tasawuf, al-Ghazali diserang penyakit syak. Tapi, menurut al-Ghazali, setelah mencapai makrifah, keyakinannya untuk memperoleh kebenaran ternyata melalui tasawuf, bukan filsafat.
Baca juga: Pengalaman Sufi: Kisah Rabiah Al-Adawiyah Capai Maqam Mahabbah
Lebih jauh mengenai makrifah dalam literatur tasawuf dijumpai ungkapan berikut:
1. Kalau mata yang terdapat di dalam hati sanubari manusia terbuka, mata kepalanya akan tertutup dan ketika itu yang dilihatnya hanya Allah.
2. Makrifah adalah cermin. Kalau sufi melihat ke cermin itu yang akan dilihatnya hanyalah Allah.
3. Yang dilihat orang arif, baik sewaktu tidur maupun sewaktu bangun hanyalah Allah.
3. Sekiranya makrifah mengambil bentuk materi, cahaya yang disinarkannya gelap. Semua orang yang memandangnya akan mati karena tak tahan melihat kecemerlangan dan keindahannya.
Tetapi sufi yang dapat menangkap cahaya makrifah dengan mata hatinya akan dipenuhi kalbunya dengan rasa cinta yang mendalam kepada Tuhan. Harun Nasution mengatakan tidak mengherankan kalau sufi merasa tidak puas dengan stasion makrifah saja. Ia ingin berada lebih dekat lagi dengan Tuhan. Ia ingin mengalami persatuan dengan Tuhan, yang di dalam istilah tasawuf disebut ittihad.
Baca juga: Jalan Pendekatan Diri kepada Tuhan dan Menjadi Sufi Menurut Harun Nasution
(mhy)
Lihat Juga :