Penjelasan Ulama tentang Keutamaan Sedekah di Saat Takut Miskin
Selasa, 18 Oktober 2022 - 18:21 WIB
loading...
Sejatinya, semua harta adalah milik Allah Subhanahu wa Taala. Dan ketika Allah Taala menganjurkan sedekah, maka umat Islam tidak boleh lagi menunda-nunda, harus segera dilaksanakan. Foto istimewa
A
A
A
Islam mengajarkan agar jangan menunda-nunda sedekah . Karena sejatinya, semua harta adalah milik Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan ketika Allah Ta'ala menganjurkan sedekah, maka umat Islam tidak boleh lagi menunda-nunda, harus segera dilaksanakan.
Betapa pentingnya sedekah karena sifat harta adalah bisa meringkan beban orang yang kesulitan dan mengangkat derajat orang yang bersedekah. Jadi, sedekah itu memiliki dua keutamaan. Yakni membantu kekurangan dan kebutuhan umat Islam dan menegakkan syariat Islam.
Baca juga: Keutamaan Sedekah dalam Penjelasan Al-Qur'an dan Hadis
Nabi Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda dari Ibnu Umar : "Amal yang paling dicintai Allah Subhanahu wa Ta:ala adalah pekerjaan yang membuat orang mukmin bahagia, dapat mengatasi kesulitan, membayar utang, atau menghilangkan rasa lapar (shahihul jami').
Dalam buku 'Kaifa Tunmi Amwalak' karya Syaikh Faishal Ali al-Bu'dani, beliau menjelaskan, harta adalah titipan Allah Ta'ala kepada hambaNya untuk dilihat bagaimana cara hamba mengolah dan mengelola hartanya. Apakah dia pelit ataukah menjalankan perintah untuk bersedih, berinfaq, atau berzakat.
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa ada seseorang yang menemui Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berkata :
“Wahai Rasulullah, sedekah yang mana yang lebih besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Engkau bersedekah pada saat kamu masih sehat, saat kamu takut menjadi fakir, dan saat kamu berangan-angan menjadi kaya. Dan janganlah engkau menunda-nunda sedekah itu, hingga apabila nyawamu telah sampai di tenggorokan, kamu baru berkata, “Untuk si fulan sekian dan untuk fulan sekian, dan harta itu sudah menjadi hak si fulan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis di atas menunjukkan bahwa dilarang menunda sedekah . Dan bersedekah yang baik adalah ketika pelit dan sehat. Dengan kata lain, sebaik-baiknya sedekah dan berpahala lebih besar.
Yang dimaksud keadaan sehat di sini adalah dalam keadaan tidak tertimpa sakit. Adapun pelit atausyahihyang dimaksud adalah pelit ditambah punya rasa tamak.
Imam Nawawirahimahullahmengatakan bahwa orang pelit itu ketika dalam keadaan sehat. Jika ia berbaik hati bersedekah dalam keadaan sehat seperti itu, maka terbuktilah akan benarnya niatnya dan besarnya pahala yang diperoleh. Hal ini berbeda dengan orang yang bersedekah saat menjelang akhir hayat atau sudah tidak ada harapan lagi untuk hidup, maka sedekah ketika itu masih terasa kurang berbeda halnya ketika sehat. (Syarh Shahih Muslim)
Betapa pentingnya sedekah karena sifat harta adalah bisa meringkan beban orang yang kesulitan dan mengangkat derajat orang yang bersedekah. Jadi, sedekah itu memiliki dua keutamaan. Yakni membantu kekurangan dan kebutuhan umat Islam dan menegakkan syariat Islam.
Baca juga: Keutamaan Sedekah dalam Penjelasan Al-Qur'an dan Hadis
Nabi Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda dari Ibnu Umar : "Amal yang paling dicintai Allah Subhanahu wa Ta:ala adalah pekerjaan yang membuat orang mukmin bahagia, dapat mengatasi kesulitan, membayar utang, atau menghilangkan rasa lapar (shahihul jami').
Dalam buku 'Kaifa Tunmi Amwalak' karya Syaikh Faishal Ali al-Bu'dani, beliau menjelaskan, harta adalah titipan Allah Ta'ala kepada hambaNya untuk dilihat bagaimana cara hamba mengolah dan mengelola hartanya. Apakah dia pelit ataukah menjalankan perintah untuk bersedih, berinfaq, atau berzakat.
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa ada seseorang yang menemui Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berkata :
“Wahai Rasulullah, sedekah yang mana yang lebih besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Engkau bersedekah pada saat kamu masih sehat, saat kamu takut menjadi fakir, dan saat kamu berangan-angan menjadi kaya. Dan janganlah engkau menunda-nunda sedekah itu, hingga apabila nyawamu telah sampai di tenggorokan, kamu baru berkata, “Untuk si fulan sekian dan untuk fulan sekian, dan harta itu sudah menjadi hak si fulan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis di atas menunjukkan bahwa dilarang menunda sedekah . Dan bersedekah yang baik adalah ketika pelit dan sehat. Dengan kata lain, sebaik-baiknya sedekah dan berpahala lebih besar.
Yang dimaksud keadaan sehat di sini adalah dalam keadaan tidak tertimpa sakit. Adapun pelit atausyahihyang dimaksud adalah pelit ditambah punya rasa tamak.
Imam Nawawirahimahullahmengatakan bahwa orang pelit itu ketika dalam keadaan sehat. Jika ia berbaik hati bersedekah dalam keadaan sehat seperti itu, maka terbuktilah akan benarnya niatnya dan besarnya pahala yang diperoleh. Hal ini berbeda dengan orang yang bersedekah saat menjelang akhir hayat atau sudah tidak ada harapan lagi untuk hidup, maka sedekah ketika itu masih terasa kurang berbeda halnya ketika sehat. (Syarh Shahih Muslim)
Lihat Juga :