Maurice Bucaille Kupas 6 Periode Penciptaan Alam Menurut Al-Quran
Rabu, 19 Oktober 2022 - 16:50 WIB
loading...
A
A
A
Dengan tidak menolak cara interpretasi seperti tersebut, Maurice Bucaille mengatakan, apakah kita tidak dapat menyelidiki lebih dekat dan meneliti arti yang mungkin diberikan oleh al-Qur'an sendiri dan oleh bahasa-bahasa pada waktu tersiarnya al-Quran, yaitu kata yaum (jamaknya ayyam).
"Arti yang paling terpakai daripada "yaum" adalah "hari," tetapi kita harus bersikap lebih teliti. Yang dimaksudkan adalah terangnya waktu siang dan bukan waktu antara terbenamnya matahari sampai terbenamnya lagi," ujar Maurice Bucaille.
Kata jamak "ayyam", kata Maurice Bucaille, dapat berarti beberapa hari akan tetapi juga dapat berarti waktu yang tak terbatas, tetapi lama. Arti kata "ayyam" sebagai periode juga tersebut di tempat lain dalam Quran, surat 32 (Sajdah) ayat 5: "Dalam suatu hari yang panjangnya seribu tahun dari perhitungan kamu."
Dalam ayat lain, surat 70 (Al-Ma'arij) ayat 4, kita dapatkan: "Dalam suatu hari yang panjangnya lima puluh ribu tahun."
Baca juga: Tafsir Al-Fatihah Ayat 4: Peringatan Tentang Hari Pembalasan
Berarti Periode
Maurice Bucaille menjelaskan bahwa kata "'yaum" dapat berarti "periode" yang sangat berbeda dengan "hari" telah menarik perhatian ahli-ahli tafsir kuno yang tentu saja tidak mempunyai pengetahuan tentang tahap-tahap terjadinya alam seperti yang kita miliki sekarang.
Maka Abussu'ud, ahli tafsir abad XVI M tidak dapat menggambarkan hari yang ditetapkan oleh astronomi dalam hubungannya dengan berputarnya bumi dan mengatakan bahwa untuk penciptaan alam diperlukan suatu pembagian waktu, bukan dalam "hari" yang biasa kita pahami, akan tetapi dalam "peristiwa-peristiwa" atau dalam bahasa Arabnya "naubat."
Ahli-ahli Tafsir modern mempergunakan lagi interpretasi tersebut. Yusuf Ali (1934) dalam tafsirnya (bahasa Inggris), selalu mengartikan "hari" dalam ayat-ayat tentang tahap-tahap penciptaan alam, sebagai periode yang panjang, atau "age."
"Kita dapat mengakui bahwa untuk tahap-tahap penciptaan alam, al-Quran menunjukkan jarak waktu yang sangat panjang yang jumlahnya enam," katanya.
Sains modern tidak memungkinkan manusia untuk mengatakan bahwa proses kompleks yang berakhir dengan terciptanya alam dapat dihitung 'enam'. Tetapi Sains modern sudah menunjukkan secara formal bahwa persoalannya adalah beberapa periode yang sangat panjang, sehingga arti 'hari' sebagai yang kita pahami sangat tidak sesuai.
Baca juga: Proses Penciptaan Adam, Izrail Dapat Tugas Baru: Pencabut Nyawa
Suatu paragraf yang sangat panjang dan membicarakan penciptaan alam merangkaikan riwayat tentang kejadian-kejadian di bumi dengan kejadian-kejadian di langit; yaitu surat 41 (Fussilat) ayat 9 sampai 12 sebagai berikut:
"Katakanlah Hai Muhammad, sesungguhnya patutkah kamu tidak percaya kepada zat yang menciptakan bumi dalam dua periode, dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya. Ia adalah Tuhan semesta alam. Dan Ia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan(penghuni)-nya dalam empat masa yang sama (cukup) sesuai bagi segala yang memerlukannya.
"Arti yang paling terpakai daripada "yaum" adalah "hari," tetapi kita harus bersikap lebih teliti. Yang dimaksudkan adalah terangnya waktu siang dan bukan waktu antara terbenamnya matahari sampai terbenamnya lagi," ujar Maurice Bucaille.
Kata jamak "ayyam", kata Maurice Bucaille, dapat berarti beberapa hari akan tetapi juga dapat berarti waktu yang tak terbatas, tetapi lama. Arti kata "ayyam" sebagai periode juga tersebut di tempat lain dalam Quran, surat 32 (Sajdah) ayat 5: "Dalam suatu hari yang panjangnya seribu tahun dari perhitungan kamu."
Dalam ayat lain, surat 70 (Al-Ma'arij) ayat 4, kita dapatkan: "Dalam suatu hari yang panjangnya lima puluh ribu tahun."
Baca juga: Tafsir Al-Fatihah Ayat 4: Peringatan Tentang Hari Pembalasan
Berarti Periode
Maurice Bucaille menjelaskan bahwa kata "'yaum" dapat berarti "periode" yang sangat berbeda dengan "hari" telah menarik perhatian ahli-ahli tafsir kuno yang tentu saja tidak mempunyai pengetahuan tentang tahap-tahap terjadinya alam seperti yang kita miliki sekarang.
Maka Abussu'ud, ahli tafsir abad XVI M tidak dapat menggambarkan hari yang ditetapkan oleh astronomi dalam hubungannya dengan berputarnya bumi dan mengatakan bahwa untuk penciptaan alam diperlukan suatu pembagian waktu, bukan dalam "hari" yang biasa kita pahami, akan tetapi dalam "peristiwa-peristiwa" atau dalam bahasa Arabnya "naubat."
Ahli-ahli Tafsir modern mempergunakan lagi interpretasi tersebut. Yusuf Ali (1934) dalam tafsirnya (bahasa Inggris), selalu mengartikan "hari" dalam ayat-ayat tentang tahap-tahap penciptaan alam, sebagai periode yang panjang, atau "age."
"Kita dapat mengakui bahwa untuk tahap-tahap penciptaan alam, al-Quran menunjukkan jarak waktu yang sangat panjang yang jumlahnya enam," katanya.
Sains modern tidak memungkinkan manusia untuk mengatakan bahwa proses kompleks yang berakhir dengan terciptanya alam dapat dihitung 'enam'. Tetapi Sains modern sudah menunjukkan secara formal bahwa persoalannya adalah beberapa periode yang sangat panjang, sehingga arti 'hari' sebagai yang kita pahami sangat tidak sesuai.
Baca juga: Proses Penciptaan Adam, Izrail Dapat Tugas Baru: Pencabut Nyawa
Suatu paragraf yang sangat panjang dan membicarakan penciptaan alam merangkaikan riwayat tentang kejadian-kejadian di bumi dengan kejadian-kejadian di langit; yaitu surat 41 (Fussilat) ayat 9 sampai 12 sebagai berikut:
"Katakanlah Hai Muhammad, sesungguhnya patutkah kamu tidak percaya kepada zat yang menciptakan bumi dalam dua periode, dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya. Ia adalah Tuhan semesta alam. Dan Ia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan(penghuni)-nya dalam empat masa yang sama (cukup) sesuai bagi segala yang memerlukannya.
Lihat Juga :