Polemik Wahabi: Pendirinya Hafal Al-Quran Sebelum Usia 10 Tahun
Selasa, 01 November 2022 - 13:16 WIB
loading...
Muhammad bin Abdul Wahhab pendiri Wahabi. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Belakangan ini polemik mengenai Wahab i lumayan ramai. Hal ini menyusul keluarnya rekomendasi Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama atau PBNU agar pemerintah melarang penyebaran paham Wahabi. Rekomendasi ini dikeluarkan pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IX PBNU pada 25-27 Oktober 2022 lalu. Lalu, siapa sejatinya Wahabi dan pendiri Wahabi tersebut?
Nadirsyah Hosen menjelaskan Wahabi didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab . Pendiri Wahabi ini merupakan murid Ibn Qayyimal-Jauziyah . Ibn Qayyim sendiri merupakan murid Ibn Taimiyah . Ibn Taimiyah adalah pemuka mazhab Hanbali .
"Dari silsilah seperti itu, kita tahu bahwa sebenarnya pendapat ataupun kalau boleh disebut ajaran Wahabi itu sebenarnya bersumber dari mazhab Hanbali," ujar intelektual NU ini dalam tulisannya berjudul "Wahabi Bukan Sebuah Mazhab!"
Baca juga: Senja Kala Wahabi di Arab Saudi
Menurutnya, Imam Ahmad bin Hanbal terkenal sebagai Imam mazhab yang cukup ketat berpegang pada nash. Jarang sekali ia memainkan unsur logika dalam membahas suatu nash.
Imam Ahmad dalam ilmu kalam dikelompokkan sebagai penganut paham salafiyah; sebuah paham yang sebenarnya banyak berbeda dengan paham Asy'ariyah (yang diikuti di Indonesia itu).
"Dari sini kita sudah bisa menangkap bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab, pendiri Wahabi itu, sudah punya beban sejarah yang kontroversial, karena guru dari gurunya sendiri juga dianggap kontroversial. Dari sini pula kita bisa mengerti mengapa Muhammadiyah dan NU terlihat sangat susah untuk "bertemu". NU mengambil paham Asy'ariyah sedangkan Muhammadiyah, yang terpengaruh Wahabi, lebih cenderung pada paham Salaf," ujarnya.
Nadirsyah Hosen menjelaskan Wahabi hanyalah kelompok (harakah) biasa atau sebut saja semacam organisasi. Wahabi tak memiliki pendapat sendiri, karena ia sepenuhnya mengikuti mazhab Hanbali. Sama dengan NU yang tak bisa kita anggap sebagai mazhab tersendiri, karena NU merupakan organisasi yang pada hakekatnya banyak berpegang pada mazhab Syafi'i.
Sayangnya, kata Nadirsyah Hosen, Wahabi juga memasuki wilayah politik sehingga perbedaan kelompok ini dengan para ulama lainnya cukup diwarnai "perseteruan politik".
Baca juga: Mahfud MD: Paham Wahabi dan Salafi Tidak Cocok di Indonesia
Muhammad bin Abdul Wahab
Di sisi lain, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu dalam buku berjudul "Jalan Golongan yang Selamat" mengatakan musuh-musuh tauhid memberi gelar wahabi kepada setiap muwahhid (yang mengesakan Allah), nisbat kepada Muhammad bin Abdul Wahab.
Nadirsyah Hosen menjelaskan Wahabi didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab . Pendiri Wahabi ini merupakan murid Ibn Qayyimal-Jauziyah . Ibn Qayyim sendiri merupakan murid Ibn Taimiyah . Ibn Taimiyah adalah pemuka mazhab Hanbali .
"Dari silsilah seperti itu, kita tahu bahwa sebenarnya pendapat ataupun kalau boleh disebut ajaran Wahabi itu sebenarnya bersumber dari mazhab Hanbali," ujar intelektual NU ini dalam tulisannya berjudul "Wahabi Bukan Sebuah Mazhab!"
Baca juga: Senja Kala Wahabi di Arab Saudi
Menurutnya, Imam Ahmad bin Hanbal terkenal sebagai Imam mazhab yang cukup ketat berpegang pada nash. Jarang sekali ia memainkan unsur logika dalam membahas suatu nash.
Imam Ahmad dalam ilmu kalam dikelompokkan sebagai penganut paham salafiyah; sebuah paham yang sebenarnya banyak berbeda dengan paham Asy'ariyah (yang diikuti di Indonesia itu).
"Dari sini kita sudah bisa menangkap bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab, pendiri Wahabi itu, sudah punya beban sejarah yang kontroversial, karena guru dari gurunya sendiri juga dianggap kontroversial. Dari sini pula kita bisa mengerti mengapa Muhammadiyah dan NU terlihat sangat susah untuk "bertemu". NU mengambil paham Asy'ariyah sedangkan Muhammadiyah, yang terpengaruh Wahabi, lebih cenderung pada paham Salaf," ujarnya.
Nadirsyah Hosen menjelaskan Wahabi hanyalah kelompok (harakah) biasa atau sebut saja semacam organisasi. Wahabi tak memiliki pendapat sendiri, karena ia sepenuhnya mengikuti mazhab Hanbali. Sama dengan NU yang tak bisa kita anggap sebagai mazhab tersendiri, karena NU merupakan organisasi yang pada hakekatnya banyak berpegang pada mazhab Syafi'i.
Sayangnya, kata Nadirsyah Hosen, Wahabi juga memasuki wilayah politik sehingga perbedaan kelompok ini dengan para ulama lainnya cukup diwarnai "perseteruan politik".
Baca juga: Mahfud MD: Paham Wahabi dan Salafi Tidak Cocok di Indonesia
Muhammad bin Abdul Wahab
Di sisi lain, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu dalam buku berjudul "Jalan Golongan yang Selamat" mengatakan musuh-musuh tauhid memberi gelar wahabi kepada setiap muwahhid (yang mengesakan Allah), nisbat kepada Muhammad bin Abdul Wahab.
Lihat Juga :