Polemik Wahabi: Pendirinya Hafal Al-Quran Sebelum Usia 10 Tahun
Selasa, 01 November 2022 - 13:16 WIB
loading...
A
A
A
Ulama Sunni dan penulis produktif yang sangat disegani di negara-negara Barat ini mengatakan jika mereka jujur, mestinya mereka mengatakan Muhammadi nisbat kepada namanya, yaitu Muhammad. Betapa pun begitu, ternyata Allah menghendaki nama wahabi sebagai nisbat kepada Al-Wahhaab (Yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari nama-nama Allah yang baik (Asmaa'ul Husnaa).
Tentang Muhammad bin Abdul Wahab, Syaikh Muhammad menjelaskan beliau dilahirkan di kota 'Uyainah, Nejed pada tahun 1115 H. Hafal Al-Quran sebelum berusia sepuluh tahun. Belajar kepada ayahandanya tentang fiqih Hanbali, belajar hadis dan tafsir kepada para Syaikh dari berbagai negeri, terutama di kota Madinah.
Beliau memahami tauhid dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Memelihara kemurnian tauhid dari syirik, khurafat dan bid'ah, sebagaimana banyak ia saksikan di Nejed dan negeri-negeri lainnya. "Demikian juga soal menyucikan dan mengkultuskan kubur, suatu hal yang bertentangan dengan ajaran Islam yang benar," ujar Syaikh Muhammad.
Ia mendengar banyak wanita di negerinya ber-tawassul dengan pohon kurma yang besar. Mereka berkata, "Wahai pohon kurma yang paling agung dan besar, aku menginginkan suami sebelum setahun ini."
Di Hejaz, ia melihat pengkultusan kuburan para sahabat, keluarga Nabi, (ahlul bait), serta kuburan Rasulullah SAW, hal yang sesungguhnya tidak boleh dilakukan, kecuali kepada Allah semata.
Di Madinah, beliau mendengar permohonan tolong (istighaatsah) kepada Rasulullah SAW, serta berdoa (memohon) kepada selain Allah, hal yang sungguh bertentangan dengan Al-Quran dan sabda Rasulullah SAW. Al-Quran menegaskan:
"Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi madharat kepadamu selain Allah, sebab jika berbuat (yang demikian itu), sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim." (QS Yunus: 106)
Baca juga: Cerita Gus Baha Didebat Orang Wahabi Soal Kelahiran Nabi
Syaikh Muhammad menegaskan zalim dalam ayat ini berarti syirik. Suatu kali, Rasulullah SAW berkata kepada anak pamannya, Abdullah bin Abbas: "Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah." (HR At-Tirmidzi)
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menyeru kaumnya kepada tauhid dan berdoa (memohon) kepada Allah semata, sebab Dialah Yang Mahakuasa dan Yang Maha Menciptakan, sedangkan selainNya adalah lemah dan tak kuasa menolak bahaya dari dirinya dan dari orang lain.
Adapun mahabbah (cinta kepada orang-orang saleh), adalah dengan mengikuti amal salehnya, tidak dengan menjadikannya perantara antara manusia dengan Allah, dan juga tidak menjadikannya sebagai tempat bermohon selain daripada Allah.
Tentang Muhammad bin Abdul Wahab, Syaikh Muhammad menjelaskan beliau dilahirkan di kota 'Uyainah, Nejed pada tahun 1115 H. Hafal Al-Quran sebelum berusia sepuluh tahun. Belajar kepada ayahandanya tentang fiqih Hanbali, belajar hadis dan tafsir kepada para Syaikh dari berbagai negeri, terutama di kota Madinah.
Beliau memahami tauhid dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Memelihara kemurnian tauhid dari syirik, khurafat dan bid'ah, sebagaimana banyak ia saksikan di Nejed dan negeri-negeri lainnya. "Demikian juga soal menyucikan dan mengkultuskan kubur, suatu hal yang bertentangan dengan ajaran Islam yang benar," ujar Syaikh Muhammad.
Ia mendengar banyak wanita di negerinya ber-tawassul dengan pohon kurma yang besar. Mereka berkata, "Wahai pohon kurma yang paling agung dan besar, aku menginginkan suami sebelum setahun ini."
Di Hejaz, ia melihat pengkultusan kuburan para sahabat, keluarga Nabi, (ahlul bait), serta kuburan Rasulullah SAW, hal yang sesungguhnya tidak boleh dilakukan, kecuali kepada Allah semata.
Di Madinah, beliau mendengar permohonan tolong (istighaatsah) kepada Rasulullah SAW, serta berdoa (memohon) kepada selain Allah, hal yang sungguh bertentangan dengan Al-Quran dan sabda Rasulullah SAW. Al-Quran menegaskan:
"Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi madharat kepadamu selain Allah, sebab jika berbuat (yang demikian itu), sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim." (QS Yunus: 106)
Baca juga: Cerita Gus Baha Didebat Orang Wahabi Soal Kelahiran Nabi
Syaikh Muhammad menegaskan zalim dalam ayat ini berarti syirik. Suatu kali, Rasulullah SAW berkata kepada anak pamannya, Abdullah bin Abbas: "Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah." (HR At-Tirmidzi)
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menyeru kaumnya kepada tauhid dan berdoa (memohon) kepada Allah semata, sebab Dialah Yang Mahakuasa dan Yang Maha Menciptakan, sedangkan selainNya adalah lemah dan tak kuasa menolak bahaya dari dirinya dan dari orang lain.
Adapun mahabbah (cinta kepada orang-orang saleh), adalah dengan mengikuti amal salehnya, tidak dengan menjadikannya perantara antara manusia dengan Allah, dan juga tidak menjadikannya sebagai tempat bermohon selain daripada Allah.
Lihat Juga :