Kisah Mualaf Asal Amerika Serikat Samir Gustavo Jerez Ungkap Terorisme Militer di Negerinya
Kamis, 10 November 2022 - 13:31 WIB
loading...
A
A
A
Yang sedang saya ceritakan itu berkaitan dengan sekelompok anggota Marinir yang baru saja menonton adegan rekan-rekan mereka yang tewas akibat serangan bom bunuh diri di Beirut. Saya dapat merasakan apa-apa yang mereka rasakan. Saya mendengar ada yang berkomentar, "Rasanya kita benar-benar perlu turun tangan untuk menghancurkan mereka. Dengan begitu, dunia ini akan menjadi aman dan damai."
Sebenarnya sulit juga untuk menyalahkan mereka. Program-program pemutaran film semacam itu adalah satu-satunya sarana mereka untuk mengenal Islam dan Muslim. Dan terus terang, sebelum saya mengetahui apa-apa tentang Islam, ingin rasanya saya bertemu dengan salah satu teroris di sebuah pesawat dan membunuhnya sebelum mereka sempat membajak pesawat itu.
Lantas saya bertanya kepada instruktur, "Anda bilang bahwa Yaser Arafat adalah seorang teroris. Bagaimana dengan Mafia?"
"Mafia bukanlah teroris. Menurut pemerintah AS, terorisme diciptakan oleh Yaser Arafat pada 1968," jawab instruktur itu.
Baca juga: Ini Agama Suami Maudy Ayunda sebelum Mualaf
Merasa tak puas, saya menantangnya, "Anda yakin dengan pernyataan itu?"
"Ya, saya yakin," jawabnya.
Saya bertanya lagi, "Apakah ini gambaran terorisme global. Kenapa yang dipertontonkan hanya tentang Timur Tengah, padahal terorisme muncul di seluruh dunia?"
"Saya kira film itu sudah bagus, dan sesuai dengan kondisi sebenarnya," katanya.
Sekitar tujuh sampai delapan pertanyaan muncul dalam diskusi sesudah pemutaran film itu. Ketika waktu istirahat, saya dekati dia. "Saya bersedia melakukan riset kecil-kecilan untuk memperdalam pengetahuan tentang terorisme. Bolehkah saya mendapatkan satu rekaman film itu? Saya yakin itu akan sangat bermanfaat."
"Oh, tentu saja; " jawabnya sambil memberikan kaset film itu.
Langsung saja saya kirimkan kaset itu ke hagian audiovisual untuk direkam.
Tiga pekan lamanya saya harus menunggu untuk bertemu dengan salah satu pejabat di pangkalan itu. Ketika tiba saatnya untuk bertemu, dia hanya memberi saya waktu tiga menit, seraya menekankan bahwa dia tak mau berurusan dengan soal-coal keagamaan maupun politik. Dia juga mengatakan bahwa walau apa pun yang terjadi dia tak akan menghilangkan film itu dari program pelatihan.
Saya tak menemukan organisasi yang memperjuangkan hak-hak umat Islam untuk tidak diperlakukan sewenang-wenang. Akhirnya saya hubungi American-Arab Anti-Discrimination Commitee (ADC).
Sebenarnya sulit juga untuk menyalahkan mereka. Program-program pemutaran film semacam itu adalah satu-satunya sarana mereka untuk mengenal Islam dan Muslim. Dan terus terang, sebelum saya mengetahui apa-apa tentang Islam, ingin rasanya saya bertemu dengan salah satu teroris di sebuah pesawat dan membunuhnya sebelum mereka sempat membajak pesawat itu.
Lantas saya bertanya kepada instruktur, "Anda bilang bahwa Yaser Arafat adalah seorang teroris. Bagaimana dengan Mafia?"
"Mafia bukanlah teroris. Menurut pemerintah AS, terorisme diciptakan oleh Yaser Arafat pada 1968," jawab instruktur itu.
Baca juga: Ini Agama Suami Maudy Ayunda sebelum Mualaf
Merasa tak puas, saya menantangnya, "Anda yakin dengan pernyataan itu?"
"Ya, saya yakin," jawabnya.
Saya bertanya lagi, "Apakah ini gambaran terorisme global. Kenapa yang dipertontonkan hanya tentang Timur Tengah, padahal terorisme muncul di seluruh dunia?"
"Saya kira film itu sudah bagus, dan sesuai dengan kondisi sebenarnya," katanya.
Sekitar tujuh sampai delapan pertanyaan muncul dalam diskusi sesudah pemutaran film itu. Ketika waktu istirahat, saya dekati dia. "Saya bersedia melakukan riset kecil-kecilan untuk memperdalam pengetahuan tentang terorisme. Bolehkah saya mendapatkan satu rekaman film itu? Saya yakin itu akan sangat bermanfaat."
"Oh, tentu saja; " jawabnya sambil memberikan kaset film itu.
Langsung saja saya kirimkan kaset itu ke hagian audiovisual untuk direkam.
Tiga pekan lamanya saya harus menunggu untuk bertemu dengan salah satu pejabat di pangkalan itu. Ketika tiba saatnya untuk bertemu, dia hanya memberi saya waktu tiga menit, seraya menekankan bahwa dia tak mau berurusan dengan soal-coal keagamaan maupun politik. Dia juga mengatakan bahwa walau apa pun yang terjadi dia tak akan menghilangkan film itu dari program pelatihan.
Saya tak menemukan organisasi yang memperjuangkan hak-hak umat Islam untuk tidak diperlakukan sewenang-wenang. Akhirnya saya hubungi American-Arab Anti-Discrimination Commitee (ADC).
Lihat Juga :