Kisah Mualaf Asal Amerika Serikat Samir Gustavo Jerez Ungkap Terorisme Militer di Negerinya
Kamis, 10 November 2022 - 13:31 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Mualaf, Begini Respon Marcell Siahaan Dipanggil Antum
Saya bawa rekaman film itu ke ADC, dan mereka kemudian mengirimkannya ke kantor cabangnya di Washington. Kantor Washington menggelar sebuah konferensi pers.
Mereka juga menulis surat kepada Komandan Korps Marinir, dan mengirim rekaman film itu kepada Menteri Pertahanan dan Komandan Pangkalan Militer tempat saya bertugas. Komandan pangkalan memberi jawaban yang cukup melegakan, "Kami tidak akan memutar film itu sambil menunggu penelaahan lanjutan."
Media massa lantas memunculkan isu ini, dan memberitakan bahwa Korps Marinir akhirnya bersedia melakukan perbaikan. Mereka telah memutuskan untuk tidak memutar film itu lagi.
Sayangnya, kami bukanlah grup pertama yang menyaksikan film tersebut. Telah banyak kelompok-kelompok sebelum kami yang menonton pemutaran film itu; di pangkalan ini maupun pangkalan-pangkalan militer lainnya. Banyak anggota militer yang tak suka dengan tindakan tersebut, karena mereka senang menonton film itu.
Saya kemudian memasukkan pengaduan setebal 200 halaman, dan menggelar konperensi pers di Islamic Education Center, Walnut, California. Konferensi pers itu diliput dan disiarkan oleh stasiun TV setempat. Hingga kini kami masih menunggu jawaban atas pengaduan saya.
Saya berharap kaset itu akan dihancurkan. Dan saya juga berharap kejadian ini akan membuat semua lebih waspada, baik kaum Muslimin maupun orang-orang yang bukan Muslim.
Bayangkan, betapa banyak anggota Marinir seperti saya yang telah berkeliling dunia, termasuk Somalia yang merupakan negeri Muslim, tapi telah diajarkan untuk membenci kaum Muslimin. Karena itu saya masih mengharapkan adanya sebuah program pelatihan ulang untuk memberikan pemahaman yang lebih baik tentang Islam.
Saya sadar bahwa ini merupakan harapan yang berlebihan, tetapi saya pikir hal itu memang benar-benar dibutuhkan. Itulah harapan saya.
Baca juga: Kisah Mualaf Jerman Murad Wilfred Hoffman Pergi Haji
Sepucuk surat dari Komite Anti-Diskriminnsi Arab-Amerika (ADC) yang ditujukan kepada Jenderal Carl E. Munday Jr., Komandan Korps Marinir AS, tertanggal 8 Pebruari 1993, menyoroti pernyataan-pernyataan Korps Marinir AS yang mengemukakan bahwa menurut laporan dari Biro Keamanan Diplomatik Deplu AS, hanya 8 dari 233 insiden anti-AS pada 1990 yang ada kaitannya dengan negara-negara Timur Tengah.
Surat itu juga mengemukakan bahwa menurut laporan Deplu AS 1990 tentang "Pole Terorisme Global", terorisme lebih banyak terjadi di negara-negara Amerika Latin (762) dan Asia (96), ketimbang di Timur Tengah (hanya 63 kali), dan menyatakan bahwa ketidakakuratan dalam film itu memang tak dapat dipungkiri.
Timur Tengah didefinisikan sebagai "sarang teroris" dan anak-anak Palestina disebutnya sebagai "Teroris masa depan", dan bahwa Muslim disamakan dengan "jutaan orang yang bersedia mati untuk mencapai tujuan (dengan cara kekerasan)."
Baca juga: Mualaf Jerman Murad Hoffman Bicara tentang Pluralisme dalam Islam
Saya bawa rekaman film itu ke ADC, dan mereka kemudian mengirimkannya ke kantor cabangnya di Washington. Kantor Washington menggelar sebuah konferensi pers.
Mereka juga menulis surat kepada Komandan Korps Marinir, dan mengirim rekaman film itu kepada Menteri Pertahanan dan Komandan Pangkalan Militer tempat saya bertugas. Komandan pangkalan memberi jawaban yang cukup melegakan, "Kami tidak akan memutar film itu sambil menunggu penelaahan lanjutan."
Media massa lantas memunculkan isu ini, dan memberitakan bahwa Korps Marinir akhirnya bersedia melakukan perbaikan. Mereka telah memutuskan untuk tidak memutar film itu lagi.
Sayangnya, kami bukanlah grup pertama yang menyaksikan film tersebut. Telah banyak kelompok-kelompok sebelum kami yang menonton pemutaran film itu; di pangkalan ini maupun pangkalan-pangkalan militer lainnya. Banyak anggota militer yang tak suka dengan tindakan tersebut, karena mereka senang menonton film itu.
Saya kemudian memasukkan pengaduan setebal 200 halaman, dan menggelar konperensi pers di Islamic Education Center, Walnut, California. Konferensi pers itu diliput dan disiarkan oleh stasiun TV setempat. Hingga kini kami masih menunggu jawaban atas pengaduan saya.
Saya berharap kaset itu akan dihancurkan. Dan saya juga berharap kejadian ini akan membuat semua lebih waspada, baik kaum Muslimin maupun orang-orang yang bukan Muslim.
Bayangkan, betapa banyak anggota Marinir seperti saya yang telah berkeliling dunia, termasuk Somalia yang merupakan negeri Muslim, tapi telah diajarkan untuk membenci kaum Muslimin. Karena itu saya masih mengharapkan adanya sebuah program pelatihan ulang untuk memberikan pemahaman yang lebih baik tentang Islam.
Saya sadar bahwa ini merupakan harapan yang berlebihan, tetapi saya pikir hal itu memang benar-benar dibutuhkan. Itulah harapan saya.
Baca juga: Kisah Mualaf Jerman Murad Wilfred Hoffman Pergi Haji
Sepucuk surat dari Komite Anti-Diskriminnsi Arab-Amerika (ADC) yang ditujukan kepada Jenderal Carl E. Munday Jr., Komandan Korps Marinir AS, tertanggal 8 Pebruari 1993, menyoroti pernyataan-pernyataan Korps Marinir AS yang mengemukakan bahwa menurut laporan dari Biro Keamanan Diplomatik Deplu AS, hanya 8 dari 233 insiden anti-AS pada 1990 yang ada kaitannya dengan negara-negara Timur Tengah.
Surat itu juga mengemukakan bahwa menurut laporan Deplu AS 1990 tentang "Pole Terorisme Global", terorisme lebih banyak terjadi di negara-negara Amerika Latin (762) dan Asia (96), ketimbang di Timur Tengah (hanya 63 kali), dan menyatakan bahwa ketidakakuratan dalam film itu memang tak dapat dipungkiri.
Timur Tengah didefinisikan sebagai "sarang teroris" dan anak-anak Palestina disebutnya sebagai "Teroris masa depan", dan bahwa Muslim disamakan dengan "jutaan orang yang bersedia mati untuk mencapai tujuan (dengan cara kekerasan)."
Baca juga: Mualaf Jerman Murad Hoffman Bicara tentang Pluralisme dalam Islam
(mhy)
Lihat Juga :