Prof Sohail Humayun Hashmi Mengaku Menjadi Muslim Tak Sengaja
Sabtu, 19 November 2022 - 19:43 WIB
loading...
A
A
A
Sesudah Perang Dunia II, gerakan antikolonialisme dipimpin oleh orang-orang yang ingin agar imperialis Barat meninggalkan negeri mereka. Tetapi pikiran itu lebih dimaksudkan agar mereka juga dapat seperti orang-orang Barat itu --mencapai status orang yang menjajah mereka.
Para pemimpin itu pada dasarnya ingin menggantikan peran penjajah itu, dan menindas rakyat di negeri mereka sendiri. Mereka ingin hidup enak, tinggal di vila-vila mewah.
Sayangnya, yang mereka lakukan adalah meniru-niru kaum imperialis dengan menerapkan nilai-nilai Barat; mulai memperlakukan agama (Islam) semata-mata sebagai urusan pribadi setiap orang.
Contoh yang amat popular adalah yang terjadi di Turki. Kejadiannya dimulai sekitar 1920-an, sebelum Perang Dunia II. Sampai-sampai pemerintah ikut campur tangan mengatur cara orang berpakaian; melarang rakyat berbusana tradisional, karena terkesan kampungan dan anti-nasionalis.
Hasilnya, negara mulai mengarahkan kehidupan rakyatnya ke hal-hal yang keterlaluan. Mulailah pemerintah bertindak otoriter, karena mereka begitu ngotot untuk mendidik rakyatnya sesuai dengan kemauan petinggi negara yang tentu saja sering kali bertentangan dengan budaya dan nilai-nilai setempat.
Ada suatu periode dalam pergerakan Islam pada permulaan abad ini, ketika ada upaya-upaya untuk menyelaraskan dunia modern dengan prinsip-prinsip Islam. Sayangnya, gerakan kaum modernis ini tak pernah menjadi sesuatu yang solid.
Baca juga: Kisah Prof Ali S Asani: Bukan Sekadar Jihad di Harvard
Pemikiran-pemikiran mereka lebih sering berkisar di kalangan kaum intelektual yang biasanya amat pandai dalam berteori. Teori-teori itu tak pernah dapat diterjemahkan dalam program-program yang dapat diimplementasikan dalam gerakan-gerakan politik.
Akhirnya peluang untuk memadukan Islam dengan kehidupan modern digarap oleh kelompok-kelompok yang mereka sebut fundamentalis. Mereka katakan: kita sudah coba sistem nasionalis, ternyata gagal.
Pemerintahan di negeri-negeri Muslim lebih menguntungkan kelompok kaya yang minoritas; sementara sebagian besar yang miskin harus hidup menderita karena kepapaannya.
Kondisi semacam ini merupakan lahan subur untuk menumbuhkan gerakan politik yang menentang sistem yang mapan itu. Dan Islam datang untuk memberi pemecahannya.
Islam memiliki etika sosial yang sangat tinggi dan kuat, yang selalu mengacu kepada kehidupan pribadi Nabi Muhammad SAW. Semasa hidupnya, Rasulullah tidak dikelilingi oleh kelompok elite Mekkah, melainkan oleh para mantan budak, masyarakat kelas bawah --merekalah yang pertama kali menjadi Muslim. Karena itu Islam senantiasa berpihak kepada orang-orang yang miskin dan papa. Dan ajaran inilah yang menjadi sumber dari gerakan-gerakan Islam semacam di atas.
Sesungguhnya mayoritas Muslim tidak sependapat dengan pikiran fundamentalisme. Karena yang dilakukan oleh kelompok itu tidak lebih dari ingin menggantikan peran dan dominasi elite pasca-kolonial dengan kelompok mereka sendiri.
Dengan itu mereka dapat menegakkan sistem politik secara top-down. Dan karena itu, situasinya seperti lingkaran setan yang sulit diurai ujung pangkalnya. Dengan menggunakan kalimat-kalimat retorik bernapaskan Islam, mereka menjanjikan penerapan nilai-nilai Islam yang universal. Bahkan jika dibutuhkan mereka siap untuk berperang membela Palestina.
Para pemimpin itu pada dasarnya ingin menggantikan peran penjajah itu, dan menindas rakyat di negeri mereka sendiri. Mereka ingin hidup enak, tinggal di vila-vila mewah.
Sayangnya, yang mereka lakukan adalah meniru-niru kaum imperialis dengan menerapkan nilai-nilai Barat; mulai memperlakukan agama (Islam) semata-mata sebagai urusan pribadi setiap orang.
Contoh yang amat popular adalah yang terjadi di Turki. Kejadiannya dimulai sekitar 1920-an, sebelum Perang Dunia II. Sampai-sampai pemerintah ikut campur tangan mengatur cara orang berpakaian; melarang rakyat berbusana tradisional, karena terkesan kampungan dan anti-nasionalis.
Hasilnya, negara mulai mengarahkan kehidupan rakyatnya ke hal-hal yang keterlaluan. Mulailah pemerintah bertindak otoriter, karena mereka begitu ngotot untuk mendidik rakyatnya sesuai dengan kemauan petinggi negara yang tentu saja sering kali bertentangan dengan budaya dan nilai-nilai setempat.
Ada suatu periode dalam pergerakan Islam pada permulaan abad ini, ketika ada upaya-upaya untuk menyelaraskan dunia modern dengan prinsip-prinsip Islam. Sayangnya, gerakan kaum modernis ini tak pernah menjadi sesuatu yang solid.
Baca juga: Kisah Prof Ali S Asani: Bukan Sekadar Jihad di Harvard
Pemikiran-pemikiran mereka lebih sering berkisar di kalangan kaum intelektual yang biasanya amat pandai dalam berteori. Teori-teori itu tak pernah dapat diterjemahkan dalam program-program yang dapat diimplementasikan dalam gerakan-gerakan politik.
Akhirnya peluang untuk memadukan Islam dengan kehidupan modern digarap oleh kelompok-kelompok yang mereka sebut fundamentalis. Mereka katakan: kita sudah coba sistem nasionalis, ternyata gagal.
Pemerintahan di negeri-negeri Muslim lebih menguntungkan kelompok kaya yang minoritas; sementara sebagian besar yang miskin harus hidup menderita karena kepapaannya.
Kondisi semacam ini merupakan lahan subur untuk menumbuhkan gerakan politik yang menentang sistem yang mapan itu. Dan Islam datang untuk memberi pemecahannya.
Islam memiliki etika sosial yang sangat tinggi dan kuat, yang selalu mengacu kepada kehidupan pribadi Nabi Muhammad SAW. Semasa hidupnya, Rasulullah tidak dikelilingi oleh kelompok elite Mekkah, melainkan oleh para mantan budak, masyarakat kelas bawah --merekalah yang pertama kali menjadi Muslim. Karena itu Islam senantiasa berpihak kepada orang-orang yang miskin dan papa. Dan ajaran inilah yang menjadi sumber dari gerakan-gerakan Islam semacam di atas.
Sesungguhnya mayoritas Muslim tidak sependapat dengan pikiran fundamentalisme. Karena yang dilakukan oleh kelompok itu tidak lebih dari ingin menggantikan peran dan dominasi elite pasca-kolonial dengan kelompok mereka sendiri.
Dengan itu mereka dapat menegakkan sistem politik secara top-down. Dan karena itu, situasinya seperti lingkaran setan yang sulit diurai ujung pangkalnya. Dengan menggunakan kalimat-kalimat retorik bernapaskan Islam, mereka menjanjikan penerapan nilai-nilai Islam yang universal. Bahkan jika dibutuhkan mereka siap untuk berperang membela Palestina.
Lihat Juga :