Catatan Mualaf Jerman Wilfred Hoffman: Khurafat dalam Kajian Misteri Angka-Angka
Senin, 05 Desember 2022 - 15:04 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Kisah Mualaf Jerman Murad Wilfred Hoffman Pergi Haji
Dalam konteks ini, Scheidle cukup jujur mengutip beberapa alinea dari "Karya Para Nabi" (3:13,26 dan 427,30) agar mengingatkan pembaca bahwa orang Kristen, Yahudi, dan Syria awalnya berbeda dengan yang berlatar belakang Helenisme dan Latin --memandang Almasih sebagai hamba Allah saja. Bahkan, ia juga mengakui bahwa Kristen Semit Asli sama dengan Islam.
Yang membuat optimistis, ia sebagai salah seorang pakar teologi Kristen, setelah kajiannya terhadap sejarah yang menyedihkan terhadap Gereja Nestoris, sampai pada kesimpulan ini. Sayangnya, berpijak dari khurafat angka-angka, ia mengurangi kredibilitas Nabi Muhammad dengan menganggapnya sebagai penulis dan seniman ulung. Itu karena, Allah-lah yang mendesain bangunan Al-Qur'an.
Jujur saja, setelah halaman 34 dari buku ini, tidak ada yang layak dibaca, tatkala ia berkata, "Dan ketika huruf-huruf adalah angka-angka, maka kita menambahkan nilai-nilai yang sepadan dengannya."
Sampai batas ini, hilanglah unsur ilmiah dan klenik pun dimulai. Alangkah sombongnya ia ketika mengatakan bahwa alfabet Ibrani tidak mewakili sistem nilai angka-angka yang datang dari Allah saja, akan tetapi juga membatasi sistem nilai angka dalam alfabet Arab.
Kalau boleh aku bertanya mengapa huruf alif bernilai 1, huruf ta bernilai 400, dan huruf ra bernilai 200, pada saat ia hanya bernilai 5? Lagi pula siapa yang memutuskan bahwa angka 55 menunjuk pada kesempurnaan yang tinggi? Demi Allah, beri aku jawaban.
Baca juga: Catatan Mualaf Jerman Wilfred Hoffman tentang Sejarah Organisasi Islam di Amerika
Sungguh aneh apabila Anda perhatikan cara kerja para pakar linguistik Qiblaniyah. Salah satu permainan mereka adalah membuat ramalan-ramalan yang keterlaluan, yang kadang terwujud ketika mereka selalu mengubah gaya dan tolok ukur perhitungan sampai berhenti pada angka yang memiliki makna simbolis. Ini adalah hasil yang terjamin dari segi ilmiah, selama penganut-penganut Qiblaniyah memberikan perkiraan nilai simbolis bagi setiap susunan angka.
Hal berikut mungkin membantu menyingkap metode-metode mereka.
1. Terdapat 86 surat-surat Makiyah (dalam Al-Qur'an), maka konsep yang memaksa dirinya sendiri adalah bahwa simbol angka memainkan peranannya, karena 86 adalah nilai angka bagi "Ilahim", Allah dalam bahasa Ibrani (hlm. 38).
2. Menurut penilaian kami, bahwa teka-teki rahasia itu adalah ungkapan dari tanda-tanda "memutar-mutar otak" untuk melindungi ayat-ayat berikutnya. (hlm.205).
Jelaslah bahwa seperti itulah, orang-orang yang bergelut dengan ramalan-ramalan semacam ini akan maju terus dalam mewujudkan keberhasilannya dalam bidang kebatinan.
Dalam konteks ini, Scheidle cukup jujur mengutip beberapa alinea dari "Karya Para Nabi" (3:13,26 dan 427,30) agar mengingatkan pembaca bahwa orang Kristen, Yahudi, dan Syria awalnya berbeda dengan yang berlatar belakang Helenisme dan Latin --memandang Almasih sebagai hamba Allah saja. Bahkan, ia juga mengakui bahwa Kristen Semit Asli sama dengan Islam.
Yang membuat optimistis, ia sebagai salah seorang pakar teologi Kristen, setelah kajiannya terhadap sejarah yang menyedihkan terhadap Gereja Nestoris, sampai pada kesimpulan ini. Sayangnya, berpijak dari khurafat angka-angka, ia mengurangi kredibilitas Nabi Muhammad dengan menganggapnya sebagai penulis dan seniman ulung. Itu karena, Allah-lah yang mendesain bangunan Al-Qur'an.
Jujur saja, setelah halaman 34 dari buku ini, tidak ada yang layak dibaca, tatkala ia berkata, "Dan ketika huruf-huruf adalah angka-angka, maka kita menambahkan nilai-nilai yang sepadan dengannya."
Sampai batas ini, hilanglah unsur ilmiah dan klenik pun dimulai. Alangkah sombongnya ia ketika mengatakan bahwa alfabet Ibrani tidak mewakili sistem nilai angka-angka yang datang dari Allah saja, akan tetapi juga membatasi sistem nilai angka dalam alfabet Arab.
Kalau boleh aku bertanya mengapa huruf alif bernilai 1, huruf ta bernilai 400, dan huruf ra bernilai 200, pada saat ia hanya bernilai 5? Lagi pula siapa yang memutuskan bahwa angka 55 menunjuk pada kesempurnaan yang tinggi? Demi Allah, beri aku jawaban.
Baca juga: Catatan Mualaf Jerman Wilfred Hoffman tentang Sejarah Organisasi Islam di Amerika
Sungguh aneh apabila Anda perhatikan cara kerja para pakar linguistik Qiblaniyah. Salah satu permainan mereka adalah membuat ramalan-ramalan yang keterlaluan, yang kadang terwujud ketika mereka selalu mengubah gaya dan tolok ukur perhitungan sampai berhenti pada angka yang memiliki makna simbolis. Ini adalah hasil yang terjamin dari segi ilmiah, selama penganut-penganut Qiblaniyah memberikan perkiraan nilai simbolis bagi setiap susunan angka.
Hal berikut mungkin membantu menyingkap metode-metode mereka.
1. Terdapat 86 surat-surat Makiyah (dalam Al-Qur'an), maka konsep yang memaksa dirinya sendiri adalah bahwa simbol angka memainkan peranannya, karena 86 adalah nilai angka bagi "Ilahim", Allah dalam bahasa Ibrani (hlm. 38).
2. Menurut penilaian kami, bahwa teka-teki rahasia itu adalah ungkapan dari tanda-tanda "memutar-mutar otak" untuk melindungi ayat-ayat berikutnya. (hlm.205).
Jelaslah bahwa seperti itulah, orang-orang yang bergelut dengan ramalan-ramalan semacam ini akan maju terus dalam mewujudkan keberhasilannya dalam bidang kebatinan.
Lihat Juga :