Kisah Mualaf Amerika Robert Dickson Crane, Mulanya Muak terhadap Islam

Kamis, 08 Desember 2022 - 17:21 WIB
loading...
Kisah Mualaf Amerika Robert Dickson Crane, Mulanya Muak terhadap Islam
Robert Dickson Crane. Foto/Ilustrasi: YouTube
A A A
Robert Dickson Crane. Dia adalah mualaf asal Amerika Serikat yang pada mulanya menganggap Islam sangat buruk. "Saya tidak pernah memikirkan Islam secara serius. Yang saya ketahui tentang Islam hanyalah bahwa orang Muslim yang baik harus membunuh orang Kristen dan surga orang Muslim seperti rumah pelacuran. Saya sangat muak," ujarnya.

Steven Barbosa dalam bukunya berjudul "American Jihad, Islam After Malcolm X" menyebut Robert Dickson Crane adalah lulusan Harvard Law School . Dia pernah menjabat sebagai penasihat politik Luar negeri untuk Presiden Richard Nixon dari 1963 sampai 1968, dan untuk waktu yang sangat singkat menjabat wakil direktur Dewan Keamanan Nasional pada masa pemerintahan Nixon, serta menjadi duta besar Presiden Reagan untuk United Arab Emirates (UAE).

Selanjutnya, Crane memimpin Bagian Hukum di Dewan Muslim Amerika. Organisasi yang berpusat di Washington, D.C. ini mengkoordinnsi akfivitas yang tersebar di seluruh dunia untuk menentang dengan tegas diskriminasi terhadap kaum Muslimin, menimbulkan kesadaran politik orang-orang Muslim, dan membentuk konsensus tentang pokok persoalan yang ada dalam masyarakat Muslim.

Baca juga: Kisah Mualaf Amerika Idris Diaz Pergi Haji Dibiayai Orang Yahudi

Dia mengembangkan suatu strategi baru untuk "menanamkan pemikiran Islami dalam bentuk yang sistematis dan profesional ke dalam bentuk kebijaksanaan masa kini" di Washington.

Dasar pemikirannya bersifat teologis: Islam tidak memisahkan hal-hal yang sakral dan religius dari hal-hal yang sekular.

Dia dan para tradisionalis Islam lain, kata Steven Barbosa, berargumen bahwa orang Kristen menganggap penciptaan atau dunia sebagai "perbuatan dosa" dan "kejahatan" dan menggambarkan iman sebagai satu-satunya penyelamat. Demikian pula ajaran Buddha menganggap penciptaan atau dunia itu "jahat" dan penyelamatan hanya datang melalui penolakan hawa nafsu.

Dalam Islam, sebaliknya, penciptaan atau dunia dianggap sesuatu yang baik merupakan bukti kekuasaan dan kebesaran Allah, dan peran manusia adalah mengelola ciptaan tersebut dengan cara yang etis agar dapat melayani kebutuhan manusia.

Pada tahun 2011 Crane direkrut oleh "think-tank terbesar di dunia", Yayasan Qatar di Negara Bagian Qatar, untuk mengajar kursus tentang "Bagaimana Kebijakan Dibuat di Washington". Ketika dia tiba pada 1 Januari 2012, dia ditugaskan kembali menjadi profesor penuh dan Direktur pusat penelitian baru di Fakultas Studi Islam Qatar, berjudul Pusat Studi Pemikiran Islam dan Masyarakat Muslim, yang bertugas mempelajari asal-usul, canggih, dan skenario masa depan untuk apa yang disebut Musim Semi Arab.

Pada tanggal 1 Januari 2014, Crane diangkat sebagai Profesor Emeritus selama 18 bulan untuk menyelesaikan buku teks empat jilidnya, Islam dan Muslim: Esensi dan Praktik, sebagai model dan bagian dari proposal untuk Pusat Pendidikan Holistik untuk menghasilkan buku teks yang diedit tentang agama Kristen, Yudaisme, Budha, Konfusianisme, dan Agama Pribumi oleh para sarjana spiritual dalam agama-agama dunia ini.

Baca juga: Kisah Mualaf Amerika Serikat Rap Brown, Masuk Islam saat di Penjara

Keluarga Cherookee
Crane berbicara tentang pohon silsilah keluarga Cherookeenya, akarnya berawal dari Inggris abad tujuh belas, juga tentang diplomasi "strategi kejiwaan", koridor kekuasaan, dan sebuah perjamuan makan di Bahrain yang mengubah pemikirannya tentang Islam.

Keluarga Crane datang ke New Haven, Connecticut, pada 1636. Beberapa di antara mereka menetap di Elizabethtown (sekarang Elizabeth), New Jersey.

Berikut pengakuan Crane selengkapnya sebagaimana dinukil dalam buku yang diterjemahkan Sudirman Teba dan Fettiyah Basri menjadi "Jihad Gaya Amerika, Islam Setelah Malcolm X" (Mizan, 1995) tersebut.

Di pihak ibu saya, mengalir darah bangsa Eropa yang datang ke Amerika pada 1608 menumpang kapal kedua yang pergi ke Jamestown. Kapal itu penuh dengan tahanan. Keluarga ibu saya merupakan para pengutang yang dibebaskan dari penjara dengan syarat mereka harus bekerja selama tujuh tahun di negara jajahan. Ini hampir seperti sebuah hukuman mati.

Saya dilahirkan di Cambridge, Massachusetts. Ayah saya mengajar ekonomi di Harvard selama sepuluh tahun. Ayah dari ayah saya sendiri tidak berhasil lulus dari tingkat enam. Sebenarnya, dia adalah seorang gelandangan di tahun '80-an dan '90-an pada abad yang lalu.

Dia meninggalkan rumah setelah tingkat enam dan mengembara selama dua belas tahun. Dia menikahi nenek saya yang berasal dari suku Indian. Nenek memutuskan bahwa anak-anak mereka harus mendapatkan pendidikan yang baik.

Kedua anak lelakinya meraih gelar doktor, dan kedua putrinya meraih gelar sarjana. Mereka merupakan generasi pertama yang keluar dari pengembaraan dan tanah pertanian yang kotor di Indiana selatan-tengah.

Keluarga ibu saya sangat kaya. Ayah nenek saya adalah salah satu penyokong financial Universitas Northwestern. Ibu saya menyebut ayah seorang barbar. Mereka tidak dapat hidup bersama: dua orang yang mempunyai pandangan hidup yang sama sekali berbeda. Bagi yang seorang, satu-satunya yang menjadi masalah adalah uang; dan bagi yang lain, satu-satunya yang penting adalah menjalani hidup yang baik dan merasa puas dengan nasib.

Baca juga: Kisah Mualaf Amerika Suliaman El Hadi, Jihad Memberantas Kebodohan Lewat Syair
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.3770 seconds (10.177#12.26)