Kisah Prof Leon, Ilmuwan yang Jadi Mualaf karena Keagungan Islam
Kamis, 15 Desember 2022 - 13:46 WIB
loading...
Salah satu keagungan Islam ialah bahwa Islam itu berdiri di atas akal dan pikiran. Foto/Ilusttrasi: Ist
A
A
A
Nama dan titel lengkapnya setelah memeluk Islam adalah Prof Haroon Mustapha Leon MA PhD LLD FSP. Tokoh yang banyak memperoleh gelar keilmuan ini bersyahadat pada tahun 1882. Beliau adalah anggota kehormatan dari bermacam-macam masyarakat kaum cendekiawan Eropa dan Amerika.
Ahli yang menonjol dalam bidang ilmu bahasa-bahasa (philologist) ini telah menulis beberapa artikel tentang asal-usul bahasa dari berbagai bangsa (Etymology of The Men's Language). Karyanya diakui mutunya oleh lembaga-lembaga kaum cendekiawan, sehingga The Potomac University ( Amerika Serikat ) menganugerahkan gelar MA kepadanya.
Prof Leon juga seorang geologist dan sering memberikan ceramah keilmuan dan kesusasteraan di muka berbagai kalangan terpelajar. Beliau menjabat Sekretaris Jendral Universitas "La Societe Internasionale de Philologie, Sciences et Beaux-Arts" yang didirikan pada tahun 1875, dan redaktur majalah ilmiah "The Philomate" yang diterbitkan di London.
Berikut penuturan Leon sebagaimana dinukil dalam buku berjudul "Mengapa Kami Memilih Islam" oleh Rabithah Alam Islamy Mekkah yang dialih bahasakan Bachtiar Affandie (PT Alma'arif, Bandung 1981)
Baca juga: Kisah Perjalanan Muhammad Ali Menjadi Seorang Mualaf
Salah satu keagungan Islam ialah bahwa Islam itu berdiri di atas akal dan pikiran, dan tidak menuntut supaya para penganutnya membekukan kemampuan mereka berpikir.
Dalam hal ini Islam berbeda dengan kepercayaan-kepercayaan lain yang mengharuskan kepada para pengikutnya supaya percaya saja secara membuta kepada aliran-aliran dan dogma-dogma tertentu, cukup dengan menyerahkan diri kepada kekuasaan Gereja. Sedangkan Islam menganjurkan supaya orang berpikir lebih dahulu sebelum sampai kepada iman.
Rasulullah SAW yang mulia telah bersabda: "Allah tidak mencipta sesuatu yang lebih baik dari pada akal. Keuntungan yang Allah berikan adalah atas perhitungan akal, dan ilmu pengetahuan/pengertian adalah 'anak' dari akal."
Di lain kesempatan, beliau telah bersabda: "Sungguh saya katakan kepadamu bahwa orang yang melakukan sembahyang, puasa, membayar zakat, haji dan lain-lain amal saleh, tidak akan diberi pahala lebih dari kekuatan akal dan pikirannya."
Perumpamaan tentang talent/bakat yang dikemukakan oleh Sayidina Isa as (Yesus) cocok sepenuhnya dan sejalan tepat dengan ajaran Islam yang selengkapnya berbunyi: "Cobalah dulu segala sesuatu, dan peganglah kuat-kuat sesuatu yang baik."
Ahli yang menonjol dalam bidang ilmu bahasa-bahasa (philologist) ini telah menulis beberapa artikel tentang asal-usul bahasa dari berbagai bangsa (Etymology of The Men's Language). Karyanya diakui mutunya oleh lembaga-lembaga kaum cendekiawan, sehingga The Potomac University ( Amerika Serikat ) menganugerahkan gelar MA kepadanya.
Prof Leon juga seorang geologist dan sering memberikan ceramah keilmuan dan kesusasteraan di muka berbagai kalangan terpelajar. Beliau menjabat Sekretaris Jendral Universitas "La Societe Internasionale de Philologie, Sciences et Beaux-Arts" yang didirikan pada tahun 1875, dan redaktur majalah ilmiah "The Philomate" yang diterbitkan di London.
Berikut penuturan Leon sebagaimana dinukil dalam buku berjudul "Mengapa Kami Memilih Islam" oleh Rabithah Alam Islamy Mekkah yang dialih bahasakan Bachtiar Affandie (PT Alma'arif, Bandung 1981)
Baca juga: Kisah Perjalanan Muhammad Ali Menjadi Seorang Mualaf
Salah satu keagungan Islam ialah bahwa Islam itu berdiri di atas akal dan pikiran, dan tidak menuntut supaya para penganutnya membekukan kemampuan mereka berpikir.
Dalam hal ini Islam berbeda dengan kepercayaan-kepercayaan lain yang mengharuskan kepada para pengikutnya supaya percaya saja secara membuta kepada aliran-aliran dan dogma-dogma tertentu, cukup dengan menyerahkan diri kepada kekuasaan Gereja. Sedangkan Islam menganjurkan supaya orang berpikir lebih dahulu sebelum sampai kepada iman.
Rasulullah SAW yang mulia telah bersabda: "Allah tidak mencipta sesuatu yang lebih baik dari pada akal. Keuntungan yang Allah berikan adalah atas perhitungan akal, dan ilmu pengetahuan/pengertian adalah 'anak' dari akal."
Di lain kesempatan, beliau telah bersabda: "Sungguh saya katakan kepadamu bahwa orang yang melakukan sembahyang, puasa, membayar zakat, haji dan lain-lain amal saleh, tidak akan diberi pahala lebih dari kekuatan akal dan pikirannya."
Perumpamaan tentang talent/bakat yang dikemukakan oleh Sayidina Isa as (Yesus) cocok sepenuhnya dan sejalan tepat dengan ajaran Islam yang selengkapnya berbunyi: "Cobalah dulu segala sesuatu, dan peganglah kuat-kuat sesuatu yang baik."
Lihat Juga :