Sejarah Kekhalifahan Kordoba: Era Spanyol, Prancis, dan Portugal di Bawah Kekuasaan Muslimin
Jum'at, 16 Desember 2022 - 18:25 WIB
loading...
A
A
A
Masa Pembangunan
Abdurrahman ad-Dakhil mampu menguasai Spanyol setelah mengalahkan Yusuf al-Fihri, Gubernur Andalusia (nama Spanyol saat itu). Masa pemerintahannya dikenal oleh para ahli sejarah dengan masa pembangunan besar-besaran.
Dia membangun kota menjadi lebih indah, membuat pipa air agar masyarakat ibu kota memperoleh air bersih, kemudian mendirikan tembok yang kuat di sekeliling kota Cordoba dan istana.
Abdurrahman Ad Dakhil juga membuat taman yang dinamakan Al-Rusafah di luar kawasan Kordoba, menjadikan Kordoba sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan yang paling menarik di wilayah Eropa, dan sebagai tandingan dari Baghdad yang berada di bagian Timur.
Kontribusi yang diberikan olehnya dalam bidang penulisan ilmu menarik orang-orang untuk belajar ke istananya. Selain itu, Abdurrahman Ad Dakhil juga mendirikan beberapa universitas, di antaranya Universitas Cordova, Universitas Toledo dan Universitas Sevilla, juga membangun masjid Cordoba yang megah. Pada tahun 1236 masjid ini dijadikan gereja yang kini dikenal dengan nama La Mazquita.
Baca juga: Kisah Tumbangnya Dinasti Umayyah, 300 Anggota Keluarganya Dieksekusi Mati
Gambaran Cordoba
Sedikit gambaran tentang Cordoba: Di abad ke-10, populasi Cordoba mencapai 500 ribu jiwa. Bandingkan dengan jumlah penduduk Paris yang hanya 38 ribu saat itu.
Kota Cordoba memiliki 700 masjid, 60 ribu rumah mewah dan 70 perpustakaan. Perpustakaan ini dikelola secara profesional dengan mempekerjakan para peneliti dan memiliki 500 ribu manuskrip. Cordoba saat itu memiliki 900 tempat mandi umum dan jalanan Cordoba tercatat sebagai jalanan pertama di Eropa yang memiliki penerangan kota.
Lima mil dari kota terdapat kediaman khalifah, Madinat al-Zahra. Bangunan ini dibangun dari batu-batu berkelas seperti onyx. Pembangunannya membutuhkan waktu 40 tahun dengan biaya sepertiga dari penerimaan Cordoba. Sebelum dihancurkan di abad ke-11, tempat ini tercatat sebagai salah satu keajaiban era tersebut.
Ketika Hisham II, yang merupakan cucu Abdurrahman, mewarisi tahta tahun 976 pada usia 12 tahun, tugas tersebut diwalikan kepada Ibnu Abi Amir. Ia dikenal juga dengan nama Al Mansur dan memegang hak tersebut selama tahun 981-1002. Selama 20 tahun, kekuasaan utama kekhalifahan ada di tangan penguasa diktator ini.
Kekhalifahan Cordoba tidak berlangsung lama dalam kepemimpinan Al Mansur. Lawan politik mulai menuntut hak atas tahta. Demikian juga dengan para bangsawan dan komandan tentara. Tuntutan ini menceraiberaikan kekuasaan Cordoba atas Spanyol. Beberapa wilayah seperti Sevilla, Granada, Valaencia, dan Zaragoza menjadi lebih kuat. Meski demikian pergolakan di antara mereka semakin menguat.
Baca juga: 7 Keutamaan Muawiyah yang Mengagumkan, Sahabat Pendiri Dinasti Umayyah
Sementara di sisi lain, kekuasaan wilayah Kristen kian menguat. Pada tahun 1469, terjadi pernikahan antara Ferdinand dari Aragon (1452-1516) dan Isabella dari Castile (1451-1504). Pernikahan ini mengukuhkan kekuatan kelompok Kristen.
Sejarah sendiri mencatat Ferdinand dan Isabella sebagai pasangan yang memulai penghancuran Islam di Spanyol. Tahun 1492, Ferdinand dan Isabella menguasai Granada dan mengukuhkan diri mereka sebagai Raja Katolik. Tahun ini juga ditandai sebagai tahun pengusiran orang Islam keturunan Arab di Spanyol.
Sebenarnya, dibanding negara Eropa lainnya saat itu, Spanyol adalah negara yang heterogen. Dan heterogenitas ini dijaga dengan baik pada masa kejayaan Islam. Tapi, ketika kekuasaan Islam jatuh, masyarakat Muslim khususnya di Granada diberikan pilihan. Meninggalkan tempat tinggalnya, atau pindah menjadi pemeluk Kristen.
Abdurrahman ad-Dakhil mampu menguasai Spanyol setelah mengalahkan Yusuf al-Fihri, Gubernur Andalusia (nama Spanyol saat itu). Masa pemerintahannya dikenal oleh para ahli sejarah dengan masa pembangunan besar-besaran.
Dia membangun kota menjadi lebih indah, membuat pipa air agar masyarakat ibu kota memperoleh air bersih, kemudian mendirikan tembok yang kuat di sekeliling kota Cordoba dan istana.
Abdurrahman Ad Dakhil juga membuat taman yang dinamakan Al-Rusafah di luar kawasan Kordoba, menjadikan Kordoba sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan yang paling menarik di wilayah Eropa, dan sebagai tandingan dari Baghdad yang berada di bagian Timur.
Kontribusi yang diberikan olehnya dalam bidang penulisan ilmu menarik orang-orang untuk belajar ke istananya. Selain itu, Abdurrahman Ad Dakhil juga mendirikan beberapa universitas, di antaranya Universitas Cordova, Universitas Toledo dan Universitas Sevilla, juga membangun masjid Cordoba yang megah. Pada tahun 1236 masjid ini dijadikan gereja yang kini dikenal dengan nama La Mazquita.
Baca juga: Kisah Tumbangnya Dinasti Umayyah, 300 Anggota Keluarganya Dieksekusi Mati
Gambaran Cordoba
Sedikit gambaran tentang Cordoba: Di abad ke-10, populasi Cordoba mencapai 500 ribu jiwa. Bandingkan dengan jumlah penduduk Paris yang hanya 38 ribu saat itu.
Kota Cordoba memiliki 700 masjid, 60 ribu rumah mewah dan 70 perpustakaan. Perpustakaan ini dikelola secara profesional dengan mempekerjakan para peneliti dan memiliki 500 ribu manuskrip. Cordoba saat itu memiliki 900 tempat mandi umum dan jalanan Cordoba tercatat sebagai jalanan pertama di Eropa yang memiliki penerangan kota.
Lima mil dari kota terdapat kediaman khalifah, Madinat al-Zahra. Bangunan ini dibangun dari batu-batu berkelas seperti onyx. Pembangunannya membutuhkan waktu 40 tahun dengan biaya sepertiga dari penerimaan Cordoba. Sebelum dihancurkan di abad ke-11, tempat ini tercatat sebagai salah satu keajaiban era tersebut.
Ketika Hisham II, yang merupakan cucu Abdurrahman, mewarisi tahta tahun 976 pada usia 12 tahun, tugas tersebut diwalikan kepada Ibnu Abi Amir. Ia dikenal juga dengan nama Al Mansur dan memegang hak tersebut selama tahun 981-1002. Selama 20 tahun, kekuasaan utama kekhalifahan ada di tangan penguasa diktator ini.
Kekhalifahan Cordoba tidak berlangsung lama dalam kepemimpinan Al Mansur. Lawan politik mulai menuntut hak atas tahta. Demikian juga dengan para bangsawan dan komandan tentara. Tuntutan ini menceraiberaikan kekuasaan Cordoba atas Spanyol. Beberapa wilayah seperti Sevilla, Granada, Valaencia, dan Zaragoza menjadi lebih kuat. Meski demikian pergolakan di antara mereka semakin menguat.
Baca juga: 7 Keutamaan Muawiyah yang Mengagumkan, Sahabat Pendiri Dinasti Umayyah
Sementara di sisi lain, kekuasaan wilayah Kristen kian menguat. Pada tahun 1469, terjadi pernikahan antara Ferdinand dari Aragon (1452-1516) dan Isabella dari Castile (1451-1504). Pernikahan ini mengukuhkan kekuatan kelompok Kristen.
Sejarah sendiri mencatat Ferdinand dan Isabella sebagai pasangan yang memulai penghancuran Islam di Spanyol. Tahun 1492, Ferdinand dan Isabella menguasai Granada dan mengukuhkan diri mereka sebagai Raja Katolik. Tahun ini juga ditandai sebagai tahun pengusiran orang Islam keturunan Arab di Spanyol.
Sebenarnya, dibanding negara Eropa lainnya saat itu, Spanyol adalah negara yang heterogen. Dan heterogenitas ini dijaga dengan baik pada masa kejayaan Islam. Tapi, ketika kekuasaan Islam jatuh, masyarakat Muslim khususnya di Granada diberikan pilihan. Meninggalkan tempat tinggalnya, atau pindah menjadi pemeluk Kristen.
Lihat Juga :