Kisah Muslim Pakistan di Amerika, Ibadah Bersama McDonalds
Jum'at, 23 Desember 2022 - 14:54 WIB
loading...
A
A
A
Sepulang kuliah, saya akan berlari ke McDonalds dan masak kentang goreng yang diiris memanjang. Saya tetap berpuasa sepanjang hari. Sementara saya menyajikan makanan dan minuman, saya tidak makan apa pun.
Itu memang jalan yang sangat berat untuk dilalui. Jika Anda tumbuh dewasa bersama agama Islam di negara Anda sendiri, Anda akan menemukan bahwa kebudayaan telah berbaur dengan agama. Ketika Anda berpuasa seluruh negara akan berpuasa, setiap orang mengubah gaya hidupnya.
Aktivitas dimulai pada jam yang berbeda dari biasanya, tutup pada jam yang berbeda; makanan disajikan pada jam yang berbeda; rumah makan dibuka pada jam yang berbeda. Tetapi di sini, hidup berjalan sebagaimana biasa. Andalah yang harus membuat penyesuaian.
Ketika Anda dilahirkan dalam agama Islam, Anda akan mempelajarinya dari lingkungan sekitar Anda, bukan hanya dari buku-buku, bukan hanya dari Al-Quran, tetapi juga dari para imam, teman, dan keluarga Anda.
Sekarang saya merasa sebagai seorang Muslim yang lebih baik dengan pemahaman yang jauh lebih baik tentang agama saya, dan saya merasa jauh lebih bahagia. Saya dapat memandang agama saya dalam cahaya yang sebenarnya. Saya tahu lebih banyak tentang apakah Islam sebenarnya. Saya mulai mempelajari apakah hadis itu, apakah Al-Quran, dan apakah kebudayaan. Dan Anda dapat memisahkan kebudayaan dari ajaran agama.
Perusahaan elektronik dan pesawat di daerah Selatan California memberhentikan sebagian besar insinyur elektronik dan penerbangannya ketika saya baru menyelesaikan studi. Kemudian McDonalds menawarkan pada saya sebuah jabatan di bagian manajemen. Saya memandang hal itu sebagai kesempatan. Sekarang saya telah bekerja dengan McDonalds selama lebih dari dua puluh tiga tahun.
Baca juga: Kisah Muslim Amerika Serikat Prof Sohail Humayun Hashmi Mengajarkan Islam di Rumah
Saya telah beberapa kali mengalami perubahan jabatan, dari seorang pesuruh menjadi manajer shift lalu manajer tetap. Kemudian saya bergabung dengan McDonalds Corporation, dan mengawasi lima restoran, kemudian bergeser lagi menjadi konsultan untuk McDonalds Corporation mengawasi pengoperasian sembilan restoran di daerah Los Angeles yang lebih besar.
Kemudian saya pindah ke Connecticut sebagai manajer yang berlisensi. Saya membawahi sebelas negara bagian. Pada dasarnya saya bertugas mewawancarai dan memilih usahawan yang ingin menjadi penyelenggara restoran McDonalds. Saya memasukkan mereka ke program latihan dan akhirnya menempatkan mereka di restoran.
Setelah itu saya pindah ke markas besar McDonalds International di Chicago. Saya membantu McDonalds membuka restoran-restoran di Malaysia, Philipina, dam Thailand, dan mengadakan perjalanan pertama ke Indonesia dan beberapa negara sekeliling Pasifik, termasuk Korea.
Yang merupakan negara-negara yang sebagian besar penduduknya beragama Islam adalah Malaysia, Indonesia, dan Singapura. Di Malaysia, restoran McDonalds menyajikan makanan halal. Ketika kami membuka restoran di Indonesia, semua orang di markas besar mengetahui bahwa ini pun harus merupakan restoran yang halal sebab sebagian besar penduduknya Muslim, hampir 98 persen. Maka restoran tersebut dibuka dengan menyajikan makanan 100 persen halal.
Potongan ayamnya yang halal dibuat di Amerika dan dikirimkan kepada mereka. Hal itu terjadi di Malaysia dan Indonesia. Saya mendukungnya. Sosis yang kami pergunakan adalah Sosis McMuffin --kami harus membuat produk yang sama dari daging sapi, sebagai ganti daging babi Canada, mengikuti standard McDonalds dan juga halal.
Saya juga berkesempatan untuk bekerja di Singapura. Di Singapura 30% penduduknya Muslim. Direktur pelaksana di sana adalah seorang Cina. Saya meyakinkannya bahwa dia akan kehilangan pelanggan jika tidak menyajikan makanan halal.
Saya tahu banyak orang Singapura yang pergi menyeberangi perbatasan ke Johor Baru, yang merupakan bagian dari Malaysia yang terdekat, untuk mendapatkan makanan halal McDonalds, karena mereka tahu McDonalds di sekitar Singapura tidak halal.
Baca juga: Kisah Mualaf Amerika Idris Diaz Pergi Haji Dibiayai Orang Yahudi
Itu memang jalan yang sangat berat untuk dilalui. Jika Anda tumbuh dewasa bersama agama Islam di negara Anda sendiri, Anda akan menemukan bahwa kebudayaan telah berbaur dengan agama. Ketika Anda berpuasa seluruh negara akan berpuasa, setiap orang mengubah gaya hidupnya.
Aktivitas dimulai pada jam yang berbeda dari biasanya, tutup pada jam yang berbeda; makanan disajikan pada jam yang berbeda; rumah makan dibuka pada jam yang berbeda. Tetapi di sini, hidup berjalan sebagaimana biasa. Andalah yang harus membuat penyesuaian.
Ketika Anda dilahirkan dalam agama Islam, Anda akan mempelajarinya dari lingkungan sekitar Anda, bukan hanya dari buku-buku, bukan hanya dari Al-Quran, tetapi juga dari para imam, teman, dan keluarga Anda.
Sekarang saya merasa sebagai seorang Muslim yang lebih baik dengan pemahaman yang jauh lebih baik tentang agama saya, dan saya merasa jauh lebih bahagia. Saya dapat memandang agama saya dalam cahaya yang sebenarnya. Saya tahu lebih banyak tentang apakah Islam sebenarnya. Saya mulai mempelajari apakah hadis itu, apakah Al-Quran, dan apakah kebudayaan. Dan Anda dapat memisahkan kebudayaan dari ajaran agama.
Perusahaan elektronik dan pesawat di daerah Selatan California memberhentikan sebagian besar insinyur elektronik dan penerbangannya ketika saya baru menyelesaikan studi. Kemudian McDonalds menawarkan pada saya sebuah jabatan di bagian manajemen. Saya memandang hal itu sebagai kesempatan. Sekarang saya telah bekerja dengan McDonalds selama lebih dari dua puluh tiga tahun.
Baca juga: Kisah Muslim Amerika Serikat Prof Sohail Humayun Hashmi Mengajarkan Islam di Rumah
Saya telah beberapa kali mengalami perubahan jabatan, dari seorang pesuruh menjadi manajer shift lalu manajer tetap. Kemudian saya bergabung dengan McDonalds Corporation, dan mengawasi lima restoran, kemudian bergeser lagi menjadi konsultan untuk McDonalds Corporation mengawasi pengoperasian sembilan restoran di daerah Los Angeles yang lebih besar.
Kemudian saya pindah ke Connecticut sebagai manajer yang berlisensi. Saya membawahi sebelas negara bagian. Pada dasarnya saya bertugas mewawancarai dan memilih usahawan yang ingin menjadi penyelenggara restoran McDonalds. Saya memasukkan mereka ke program latihan dan akhirnya menempatkan mereka di restoran.
Setelah itu saya pindah ke markas besar McDonalds International di Chicago. Saya membantu McDonalds membuka restoran-restoran di Malaysia, Philipina, dam Thailand, dan mengadakan perjalanan pertama ke Indonesia dan beberapa negara sekeliling Pasifik, termasuk Korea.
Yang merupakan negara-negara yang sebagian besar penduduknya beragama Islam adalah Malaysia, Indonesia, dan Singapura. Di Malaysia, restoran McDonalds menyajikan makanan halal. Ketika kami membuka restoran di Indonesia, semua orang di markas besar mengetahui bahwa ini pun harus merupakan restoran yang halal sebab sebagian besar penduduknya Muslim, hampir 98 persen. Maka restoran tersebut dibuka dengan menyajikan makanan 100 persen halal.
Potongan ayamnya yang halal dibuat di Amerika dan dikirimkan kepada mereka. Hal itu terjadi di Malaysia dan Indonesia. Saya mendukungnya. Sosis yang kami pergunakan adalah Sosis McMuffin --kami harus membuat produk yang sama dari daging sapi, sebagai ganti daging babi Canada, mengikuti standard McDonalds dan juga halal.
Saya juga berkesempatan untuk bekerja di Singapura. Di Singapura 30% penduduknya Muslim. Direktur pelaksana di sana adalah seorang Cina. Saya meyakinkannya bahwa dia akan kehilangan pelanggan jika tidak menyajikan makanan halal.
Saya tahu banyak orang Singapura yang pergi menyeberangi perbatasan ke Johor Baru, yang merupakan bagian dari Malaysia yang terdekat, untuk mendapatkan makanan halal McDonalds, karena mereka tahu McDonalds di sekitar Singapura tidak halal.
Baca juga: Kisah Mualaf Amerika Idris Diaz Pergi Haji Dibiayai Orang Yahudi
Lihat Juga :