Kiyai Ahmad Syahrin: Istri Seperti Ini Wajar Ditangisi Para Suami
Jum'at, 23 Desember 2022 - 17:13 WIB
loading...
A
A
A
Sahabat itu berkata: "Padahal kenyataannya, di rumahku, ia tidak pernah melihat daging kecuali dalam satu atau dua bulan sekali saja. Sehari-hari lebih banyak makan sayur dan bahkan kami sering kekurangan makan."
Mendengar cerita sahabatnya itu, Syaikh Abu Ishaq ikut tercengang. Betap tidak, sosok istri shalehah itu telah mengangkat derajat suaminya di hadapan keluarganya dan menjadikannya besar (berarti) di mata mereka.
Ia kuat menahan lapar, akan tetapi ia tidak kuat jika ada seorang pun mengetahui kemiskinannya lalu merendahkan suaminya. Ia terus bersabar dengan apa yang ada, dan justru sering menasehati suaminya dengan janji Allah agar bersabar dengan ujian hidup. Padahal dia mampu untuk meminta kepada orang tuanya yang kaya raya.
Sahabat itu kemudian melanjutkan pembicaraannya kepada Syaikh: "Apakah sekarang anda akan mencela tangisanku kepadanya?" Syakh Abu Ishaq menjawab: "Tidak, justru para suami harus menangis untuk istri yang seperti ini."
Sahabat Syaikh kembali berkata: "Jika saya menceritakan semua tentang kesalehannya, tentang puasa dan sholatnya, ketakwaannya dan kemuliaan akhlaknya baik kepadaku atau kepada orang lain, mungkin saya tidak mampu menceritakannya."
Syaikh Abu Ishaq pun kemudian menundukkan kepalanya dan turut menitikkan air mata. Nabi shollallohu 'alaihi wasallam pernah bersabda:
اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
Artinya: "Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah isteri yang shalihah." (HR Muslim dari Abdullah bin 'Amr)
Hikmah
Ada yang bertanya, bukankah istri tersebut berbohong? Kan berbohong dosa? Kiyai Ahmad Syahrin mengatakan, ini jenis tauriyah. Tauriyah itu mengucapkan suatu kalimat yang memiliki lebih dari satu makna. Orang yang mendengar akan memahami makna yang dekat, sedangkan si pembicara bermaksud makna yang jauh dengan tujuan mengecoh.
Hukum tauriyah dibolehkan jika untuk kemaslahatan yang lebih besar. Contoh tauriyah, ada seorang Syaikh ditemui oleh seseorang yang akan dibunuh, ia minta agar tidak diberi tahu persembunyiannya.
Mendengar cerita sahabatnya itu, Syaikh Abu Ishaq ikut tercengang. Betap tidak, sosok istri shalehah itu telah mengangkat derajat suaminya di hadapan keluarganya dan menjadikannya besar (berarti) di mata mereka.
Ia kuat menahan lapar, akan tetapi ia tidak kuat jika ada seorang pun mengetahui kemiskinannya lalu merendahkan suaminya. Ia terus bersabar dengan apa yang ada, dan justru sering menasehati suaminya dengan janji Allah agar bersabar dengan ujian hidup. Padahal dia mampu untuk meminta kepada orang tuanya yang kaya raya.
Sahabat itu kemudian melanjutkan pembicaraannya kepada Syaikh: "Apakah sekarang anda akan mencela tangisanku kepadanya?" Syakh Abu Ishaq menjawab: "Tidak, justru para suami harus menangis untuk istri yang seperti ini."
Sahabat Syaikh kembali berkata: "Jika saya menceritakan semua tentang kesalehannya, tentang puasa dan sholatnya, ketakwaannya dan kemuliaan akhlaknya baik kepadaku atau kepada orang lain, mungkin saya tidak mampu menceritakannya."
Syaikh Abu Ishaq pun kemudian menundukkan kepalanya dan turut menitikkan air mata. Nabi shollallohu 'alaihi wasallam pernah bersabda:
اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
Artinya: "Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah isteri yang shalihah." (HR Muslim dari Abdullah bin 'Amr)
Hikmah
Ada yang bertanya, bukankah istri tersebut berbohong? Kan berbohong dosa? Kiyai Ahmad Syahrin mengatakan, ini jenis tauriyah. Tauriyah itu mengucapkan suatu kalimat yang memiliki lebih dari satu makna. Orang yang mendengar akan memahami makna yang dekat, sedangkan si pembicara bermaksud makna yang jauh dengan tujuan mengecoh.
Hukum tauriyah dibolehkan jika untuk kemaslahatan yang lebih besar. Contoh tauriyah, ada seorang Syaikh ditemui oleh seseorang yang akan dibunuh, ia minta agar tidak diberi tahu persembunyiannya.
Lihat Juga :