Dinasti Timuriyah, Kekaisaran yang Didirikan Sisa Pasukan Mongol yang Masuk Islam
Sabtu, 24 Desember 2022 - 07:13 WIB
loading...
Pasukan Mongol: Sejumlah wilayah barat yang telah dikuasai sebelumnya jatuh ke tangan kelompok Kara Koyunlu dari suku Turkmen. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Dinasti Timuriyah adalah kekaisaran yang didirikan sisa pasukan Mongol yang masuk Islam. Ini adalah dinasti Islam Sunni. Kekuasaannya di Asia Tengah meliputi seluruh Asia Tengah, Iran, Afganistan dan Pakistan, dan juga sebagian dari India, Mesopotamia dan Kaukasus. Kekaisaran ini didirikan oleh penakluk legendaris Tamerlane ( Timur Lenk ) pada abad ke-14.
Asal mula Dinasti Timuriyah kembali ke konfederasi nomaden Mongolia yang dikenal sebagai Barlas. Yang adalah sisa-sisa tentara Mongol milik Jenghis Khan.
Setelah menaklukkan Asia Tengah, Barlas menetap di Turketan. Wilayah ini kemudian dikenal sebagai Mogulistan - Tanah Mongol. Mereka bercampur dengan Turki dan orang yang berbahasa lokal di sana, sehingga pada pemerintahan Timuriyah Barlas diturkisasikan dalam hal bahasa dan adat.
Selain itu, dengan mengadopsi Islam, Turki Asia Tengah mengadopsi adat sastra dan tinggi Persia yang mendominasi Asia Tengah sejak awal pengaruh Islam.
David J. Roxburgh dalam The Persian Album, 1400-1600: From Dispersal to Collection menyebut sastra Persia berpengaruh dalam asimilasi elit Timuriyah dengan adat kesopan-santunan Persia-Islam.
Baca juga: Kisah Sultan Iltutmish Menghalau Tentara Mongol dari India
Seni Islam
Setelah menguasai Transoksiana pada 1370, Timur Lenk lantas mendirikan kerajaannya dengan Samarkand (kota yang terletak di Uzbekistan sekarang) sebagai pusatnya.
Sebagai seorang pemimpin, Timur Lenk memiliki minat yang tinggi terhadap seni. Bahkan, semasa hidupnya, sang raja kerap membawa sejumlah perajin atau seniman dari berbagai daerah yang ditaklukkannya ke ibu kota Samarkand. Karenanya, tidak mengherankan bila pada kemudian hari Dinasti Timuriyah juga tercatat sebagai salah satu kerajaan yang paling cemerlang dalam sejarah seni Islam.
Meski usia Kekaisaran Timuriyah yang luas itu sendiri relatif singkat, namun keturunan dinasti tersebut tetap memainkan peranan penting sebagai penyokong utama kesenian Islam di kawasan Transoksiana. Ketika ibu kota dipindahkan ke Herat (Afghanistan sekarang) pada 1505, kerajaan ini berhasil menjadi pusat kebudayaan Islam terkemuka di Asia Tengah.
Para penguasa Timuriyah menaruh perhatian besar terhadap budaya Persia. Mereka membujuk para seniman, arsitek, dan sastrawan untuk berkontribusi membentuk peradaban megah. Tidak sedikit pula kalangan pejabat Timuriyah memesan salinan naskah tentang seni dan arsitektur Persia untuk dijadikan sebagai koleksi di perpustakaan-perpustakaan milik mereka.
Sepanjang era kejayaannya, banyak pangeran Timuriyah membantu pembangunan berbagai lembaga keagamaan, seperti masjid, madrasah, dan tempat perkumpulan sufi atau tarekat. Beberapa bukti peninggalannya masih dapat kita saksikan sampai hari ini. Antara lain, Madrasah Ulugh Beg yang dibangun pada 1417-1420 dengan gaya arsitektur Islam yang khas.
Kompleks Madrasah Ulugh Beg berada di kawasan situs kota tua Registan, Samarkand. Sekolah ini diapit oleh sejumlah menara tinggi. Di halamannya yang berbentuk persegi berdiri sebuah masjid dan ruangan kuliah yang dibatasi oleh asrama tempat para siswa tinggal selama menjalani pendidikan.
Baca juga: Apakah Yajuj dan Majuj Bangsa Mongol? Simak Penjelasannya
Asal mula Dinasti Timuriyah kembali ke konfederasi nomaden Mongolia yang dikenal sebagai Barlas. Yang adalah sisa-sisa tentara Mongol milik Jenghis Khan.
Setelah menaklukkan Asia Tengah, Barlas menetap di Turketan. Wilayah ini kemudian dikenal sebagai Mogulistan - Tanah Mongol. Mereka bercampur dengan Turki dan orang yang berbahasa lokal di sana, sehingga pada pemerintahan Timuriyah Barlas diturkisasikan dalam hal bahasa dan adat.
Selain itu, dengan mengadopsi Islam, Turki Asia Tengah mengadopsi adat sastra dan tinggi Persia yang mendominasi Asia Tengah sejak awal pengaruh Islam.
David J. Roxburgh dalam The Persian Album, 1400-1600: From Dispersal to Collection menyebut sastra Persia berpengaruh dalam asimilasi elit Timuriyah dengan adat kesopan-santunan Persia-Islam.
Baca juga: Kisah Sultan Iltutmish Menghalau Tentara Mongol dari India
Seni Islam
Setelah menguasai Transoksiana pada 1370, Timur Lenk lantas mendirikan kerajaannya dengan Samarkand (kota yang terletak di Uzbekistan sekarang) sebagai pusatnya.
Sebagai seorang pemimpin, Timur Lenk memiliki minat yang tinggi terhadap seni. Bahkan, semasa hidupnya, sang raja kerap membawa sejumlah perajin atau seniman dari berbagai daerah yang ditaklukkannya ke ibu kota Samarkand. Karenanya, tidak mengherankan bila pada kemudian hari Dinasti Timuriyah juga tercatat sebagai salah satu kerajaan yang paling cemerlang dalam sejarah seni Islam.
Meski usia Kekaisaran Timuriyah yang luas itu sendiri relatif singkat, namun keturunan dinasti tersebut tetap memainkan peranan penting sebagai penyokong utama kesenian Islam di kawasan Transoksiana. Ketika ibu kota dipindahkan ke Herat (Afghanistan sekarang) pada 1505, kerajaan ini berhasil menjadi pusat kebudayaan Islam terkemuka di Asia Tengah.
Para penguasa Timuriyah menaruh perhatian besar terhadap budaya Persia. Mereka membujuk para seniman, arsitek, dan sastrawan untuk berkontribusi membentuk peradaban megah. Tidak sedikit pula kalangan pejabat Timuriyah memesan salinan naskah tentang seni dan arsitektur Persia untuk dijadikan sebagai koleksi di perpustakaan-perpustakaan milik mereka.
Sepanjang era kejayaannya, banyak pangeran Timuriyah membantu pembangunan berbagai lembaga keagamaan, seperti masjid, madrasah, dan tempat perkumpulan sufi atau tarekat. Beberapa bukti peninggalannya masih dapat kita saksikan sampai hari ini. Antara lain, Madrasah Ulugh Beg yang dibangun pada 1417-1420 dengan gaya arsitektur Islam yang khas.
Kompleks Madrasah Ulugh Beg berada di kawasan situs kota tua Registan, Samarkand. Sekolah ini diapit oleh sejumlah menara tinggi. Di halamannya yang berbentuk persegi berdiri sebuah masjid dan ruangan kuliah yang dibatasi oleh asrama tempat para siswa tinggal selama menjalani pendidikan.
Baca juga: Apakah Yajuj dan Majuj Bangsa Mongol? Simak Penjelasannya
Lihat Juga :