Dinasti Timuriyah, Kekaisaran yang Didirikan Sisa Pasukan Mongol yang Masuk Islam
Sabtu, 24 Desember 2022 - 07:13 WIB
loading...
A
A
A
Madrasah Ulugh Beg menjadi salah satu perguruan tinggi terbaik pada abad ke-15. Kampus ini berhasil mencetak sejumlah sarjana terkenal pada zamannya. Di antaranya adalah filsuf dan penyair besar Persia, Abdul Rahman Jami.
Warisan Dinasti Timuriyah lainnya yang masih dapat dijumpai di Samarkand adalah Masjid Bibi Khanym. Nama tempat ibadah yang selesai dibangun pada 1404 ini diambil dari nama istri Timur Lenk, Bibi Khanym.
Dinding luar masjid ini memiliki panjang 167 meter dan lebar 109 meter. Sementara, tinggi kubah utamanya mencapai 40 meter, dan pintu masuknya setinggi 35 meter. Ada marmer besar dengan kaligrafi Islam yang berdiri anggun di tengah-tengah halaman. Sayangnya, gempa besar yang terjadi pada 1897 merusak sebagian besar bangunan ini.
Selain Madrasah Ulugh Beg dan masjid, masih banyak lagi peninggalan megah Dinasti Timuriyah di Samarkand. Ini menjadi salah satu alasan ditetapkannya kota tersebut sebagai “World Heritage City” (Kota Warisan Dunia) oleh UNESCO pada 2001.
Peneliti dari Museum Kesenian Metropolitan, Suzan Yalman, dalam artikelnya “The Art of the Timurid Period (1370-1507 M)” menulis Timur Lenk memang dikenang sebagai pemimpin yang sukses. Dalam tempo 35 tahun, dia bersama pasukannya berhasil menaklukkan seluruh Asia Tengah. Luas wilayah keseluruhan yang dikuasai mencapai 4,4 juta km persegi.
Timur Lenk meninggal dunia pada 1405, ketika dia dan tentaranya tengah mempersiapkan rencana untuk menyerang Tiongkok. Tetapi, bakat dan kepiawaiannya memimpin negara itu tidak diwarisi oleh para penguasa Timuriyah periode pasca-Timur Lenk.
Takhta kerajaan selanjutnya dipegang oleh putra bungsu Timur Lenk, Shahrukh Mirza, yang memerintah sejak 1405-1447. Namun, raja yang baru ini ternyata tidak mampu menjaga pencapaian yang sudah ditorehkan ayahnya.
Baca juga: Ibnu Taimiyah (2): Obrak-abrik Tempat Mabuk-mabukan dan Perang Melawan Tartar
Sejumlah wilayah barat yang telah dikuasai sebelumnya jatuh ke tangan kelompok Kara Koyunlu dari suku Turkmen. Tidak hanya itu, beberapa pangeran Timuriyah berikutnya juga terlibat perselisihan internal sehingga mereka pun berusaha membangun kerajaan sendiri-sendiri.
Kondisi tersebut ikut melemahkan kekaisaran dari dalam. Pada akhirnya, hanya Khurasan dan Transoksiana yang tetap berada dalam kekuasaan Timuriyah. Selepas periode Shahrukh Mirza, dinasti ini diperintah oleh anggota keluarga Timuriyah dalam wilayah yang terpisah-pisah.
Warisan Dinasti Timuriyah lainnya yang masih dapat dijumpai di Samarkand adalah Masjid Bibi Khanym. Nama tempat ibadah yang selesai dibangun pada 1404 ini diambil dari nama istri Timur Lenk, Bibi Khanym.
Dinding luar masjid ini memiliki panjang 167 meter dan lebar 109 meter. Sementara, tinggi kubah utamanya mencapai 40 meter, dan pintu masuknya setinggi 35 meter. Ada marmer besar dengan kaligrafi Islam yang berdiri anggun di tengah-tengah halaman. Sayangnya, gempa besar yang terjadi pada 1897 merusak sebagian besar bangunan ini.
Selain Madrasah Ulugh Beg dan masjid, masih banyak lagi peninggalan megah Dinasti Timuriyah di Samarkand. Ini menjadi salah satu alasan ditetapkannya kota tersebut sebagai “World Heritage City” (Kota Warisan Dunia) oleh UNESCO pada 2001.
Peneliti dari Museum Kesenian Metropolitan, Suzan Yalman, dalam artikelnya “The Art of the Timurid Period (1370-1507 M)” menulis Timur Lenk memang dikenang sebagai pemimpin yang sukses. Dalam tempo 35 tahun, dia bersama pasukannya berhasil menaklukkan seluruh Asia Tengah. Luas wilayah keseluruhan yang dikuasai mencapai 4,4 juta km persegi.
Timur Lenk meninggal dunia pada 1405, ketika dia dan tentaranya tengah mempersiapkan rencana untuk menyerang Tiongkok. Tetapi, bakat dan kepiawaiannya memimpin negara itu tidak diwarisi oleh para penguasa Timuriyah periode pasca-Timur Lenk.
Takhta kerajaan selanjutnya dipegang oleh putra bungsu Timur Lenk, Shahrukh Mirza, yang memerintah sejak 1405-1447. Namun, raja yang baru ini ternyata tidak mampu menjaga pencapaian yang sudah ditorehkan ayahnya.
Baca juga: Ibnu Taimiyah (2): Obrak-abrik Tempat Mabuk-mabukan dan Perang Melawan Tartar
Sejumlah wilayah barat yang telah dikuasai sebelumnya jatuh ke tangan kelompok Kara Koyunlu dari suku Turkmen. Tidak hanya itu, beberapa pangeran Timuriyah berikutnya juga terlibat perselisihan internal sehingga mereka pun berusaha membangun kerajaan sendiri-sendiri.
Kondisi tersebut ikut melemahkan kekaisaran dari dalam. Pada akhirnya, hanya Khurasan dan Transoksiana yang tetap berada dalam kekuasaan Timuriyah. Selepas periode Shahrukh Mirza, dinasti ini diperintah oleh anggota keluarga Timuriyah dalam wilayah yang terpisah-pisah.
(mhy)
Lihat Juga :