Citra Buruk Islam di Eropa Menurut John Louis Esposito
Sabtu, 24 Desember 2022 - 14:48 WIB
loading...
A
A
A
Gambaran atau karikatur yang menjelek-jelekkan Muhammad dan Islam diciptakan -atau lebih tepatnya, dikarang- dengan tidak memperhatikan ketepatan. Acapkali kepercayaan dan praktik seperti politeisme, memakan daging babi, minum minuman keras, dan promiskuitas seksual -yang sangat bertentangan dengan kepercayaan dasarnya- diarahkan kepada Islam dan Muhammad.
Muhammad difitnah sebagai pembohong dan anti-Kristus yang menggunakan sihir dan keajaiban untuk mencoba menghancurkan gereja. Seperti diakui oleh penulis (non-Muslim) sebuah biografi awal Nabi Muhammad yang diterbitkan di Barat, "Adalah aman untuk mengatakan hal-hal jelek tentang seseorang yang kejahatannya melampaui segala perbuatan jahat yang dapat dikatakan."
Epik besar pada saat itu menyebarkan kebodohan dan distorsi, yang menggambarkan kaum Muslim yang menyembah patung sedang menyembah Tuhan mereka, Muhammad, "di sinagog (dengan demikian semakin mendekatkan Islam kepada kepercayaan Yahudi yang tidak dapat diterima) atau di mahomeri."
Maxime Rodinson dalam "Western Image" berkata: "Fiksi murni, yang sasarannya hanya untuk menarik perhatian pembaca dicampur aduk dalam proporsi yang beraneka ragam dengan kesalahpahaman yang mengobarkan kebencian musuh."
Pada masa Reformasi, setelah berabad-abad dalam ketakutan dan permusuhan, Islam terbukti merupakan alat yang tepat dalam serangan-serangan polemik di antara kaum Kristen, lambang bahaya anti-Kristus.
Baca juga: Menerka Awal Mula Penyebaran Islam di Eropa Timur
Martin Luther memandang Islam "dalam gaya abad pertengahan, sebagai suatu gerakan kekerasan untuk melayani anti-Kristus; itu tidak dapat diubah karena tertutup bagi akal; hanya dapat dihentikan dengan pedang dan bahkan dengan suatu usaha yang sulit."
Pada abad-abad berikutnya, Islam terus dipergunakan sebagai sesuatu yang jelek bagi para penulis yang mengunggulkan prinsip dan kebajikan Pencerahan.
Fanaticism, or Muhammad the Prophet karya Voltaire menggambarkan Nabi Muhammad sebagai tiran yang teokratis. Ernest Renan, dalam sebuah kuliah yang sering dikutip, mengunggulkan sains dan nalar serta kemajuan manusia, dengan mengatakan bahwa Islam tidak sesuai dengan sains, dan bahwa kaum Muslim tidak mampu belajar ataupun membuka diri terhadap gagasan-gagasan baru.
Stereotip tradisi agama yang statis, irasional, tidak ada kemajuan dan antimodern ini diabadikan oleh para pakar dan teori pembangunan dalam abad ke-20.
Walaupun dunia Islam dan Kristen sangat membanggakan agama dan kekayaan tradisi belajar dan peradaban mereka, dinamika sejarah hubungan Islam-Kristen kerap menjumpai kedua umat tersebut bersaing, dan terkadang terperangkap dalam peperangan, untuk mendapatkan kekuasaan, tanah dan jiwa.
Muhammad difitnah sebagai pembohong dan anti-Kristus yang menggunakan sihir dan keajaiban untuk mencoba menghancurkan gereja. Seperti diakui oleh penulis (non-Muslim) sebuah biografi awal Nabi Muhammad yang diterbitkan di Barat, "Adalah aman untuk mengatakan hal-hal jelek tentang seseorang yang kejahatannya melampaui segala perbuatan jahat yang dapat dikatakan."
Epik besar pada saat itu menyebarkan kebodohan dan distorsi, yang menggambarkan kaum Muslim yang menyembah patung sedang menyembah Tuhan mereka, Muhammad, "di sinagog (dengan demikian semakin mendekatkan Islam kepada kepercayaan Yahudi yang tidak dapat diterima) atau di mahomeri."
Maxime Rodinson dalam "Western Image" berkata: "Fiksi murni, yang sasarannya hanya untuk menarik perhatian pembaca dicampur aduk dalam proporsi yang beraneka ragam dengan kesalahpahaman yang mengobarkan kebencian musuh."
Pada masa Reformasi, setelah berabad-abad dalam ketakutan dan permusuhan, Islam terbukti merupakan alat yang tepat dalam serangan-serangan polemik di antara kaum Kristen, lambang bahaya anti-Kristus.
Baca juga: Menerka Awal Mula Penyebaran Islam di Eropa Timur
Martin Luther memandang Islam "dalam gaya abad pertengahan, sebagai suatu gerakan kekerasan untuk melayani anti-Kristus; itu tidak dapat diubah karena tertutup bagi akal; hanya dapat dihentikan dengan pedang dan bahkan dengan suatu usaha yang sulit."
Pada abad-abad berikutnya, Islam terus dipergunakan sebagai sesuatu yang jelek bagi para penulis yang mengunggulkan prinsip dan kebajikan Pencerahan.
Fanaticism, or Muhammad the Prophet karya Voltaire menggambarkan Nabi Muhammad sebagai tiran yang teokratis. Ernest Renan, dalam sebuah kuliah yang sering dikutip, mengunggulkan sains dan nalar serta kemajuan manusia, dengan mengatakan bahwa Islam tidak sesuai dengan sains, dan bahwa kaum Muslim tidak mampu belajar ataupun membuka diri terhadap gagasan-gagasan baru.
Stereotip tradisi agama yang statis, irasional, tidak ada kemajuan dan antimodern ini diabadikan oleh para pakar dan teori pembangunan dalam abad ke-20.
Walaupun dunia Islam dan Kristen sangat membanggakan agama dan kekayaan tradisi belajar dan peradaban mereka, dinamika sejarah hubungan Islam-Kristen kerap menjumpai kedua umat tersebut bersaing, dan terkadang terperangkap dalam peperangan, untuk mendapatkan kekuasaan, tanah dan jiwa.
Lihat Juga :