Kisah Orientalis Hungaria Bermimpi Bertemu Nabi SAW Dibacakan Surat An-Naba' Ayat 6-9
Rabu, 28 Desember 2022 - 05:15 WIB
loading...
A
A
A
Saya duduk di dekat mimbar yang penuh perhiasan, sedangkan pada tiang-tiang di tengah Masjid penuh dengan sarang laba-laba sekelilingnya dengan aman.
Terdengarlah suara Adzan, sedang para Mukabbir berdiri di berbagai tempat dalam Mesjid untuk meneruskan suara Adzan ke tempat sejauh dapat dicapainya.
Selesai Adzan, maka berdirilah orang-orang yang bersembahyang yang jumlahnya hampir 4000, seakan-akan barisan tentara, memenuhi seruan Tuhan dengan berjajar rapat dan dengan tekun dan khusyuk. Saya sendiri termasuk salah seorang yang khusyuk itu. Kejadian itu sungguh-sungguh merupakan momentum yang agung.
Baca juga: Catatan Mualaf Jerman Wilfred Hoffman tentang Sejarah Organisasi Islam di Amerika
Selesai sembahyang, Abdul-Hay memegang tangan saya untuk berdiri di muka Mimbar. Saya berjalan hati-hati agar tidak menyentuh orang yang sedang duduk berbaris. Waktu peristiwa besar sudah dekat. Saya berdiri dekat tangga-tangga Mimbar, lalu saya berjalan di antara orang banyak yang saya lihat beribu-ribu kepala bersorban, seakan-akan sebuah kebun bunga.
Mereka semua pada melihat dengan penuh perhatian kepada saya. Saya berdiri dikelilingi para Ulama dengan jenggot jenggot mereka yang kelabu dan dengan penglihatan mereka yang memberi kekuatan. Lalu mereka mengumumkan tentang diri saya, suatu hal yang tidak dijanjikan sebelumnya.
Tanpa ragu-ragu saya naik ke mimbar sampai tangganya yang ketujuh, lalu saya menghadap kepada orang banyak yang seakan-akan tidak ada ujungnya dan seakan-akan lautan yang berombak. Semua tunduk merunduk kepada saya, di halaman Mesjid semua orang bergerak. Saya mendengar orang yang dekat kepada saya mengucapkan "MaasyaaAllah" berkali-kali disertai pandangan yang memancarkan rasa cinta kasih. Kemudian mulailah saya berbicara dalam bahasa Arab:
"Tuan-tuan yang terhormat! Saya datang dari negeri yang jauh untuk mencari ilmu yang tidak bisa didapat, di negeri saya. Saya datang untuk memenuhi hasrat jiwa saya, dan Tuan-tuan telah mengabulkan harapan saya itu."
Lalu saya berbicara tentang peredaran zaman yang dialami oleh Islam dalam sejarah dunia dan tentang beberapa mu'jizat yang Allah pergunakan untuk memperkuat Rasul-Nya SAW.
Baca juga: Kisah Mualaf Asal Amerika Serikat Samir Gustavo Jerez Ungkap Terorisme Militer di Negerinya
Saya juga kemukakan tentang keterbelakangan kaum Muslimin pada zaman akhir-akhir ini, tentang cara-cara yang mungkin bisa mengembalikan kebesaran mereka yang telah hilang dan tentang adanya sebagian orang Islam yang mengatakan bahwa segala sesuatu tergantung sepenuhnya kepada kehendak Allah SWT. Pada hal Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur'anul-Karim:
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum kecuali jika mereka sendiri mau mengubah keadaan dirinya.
Saya memusatkan pembicaraan saya kepada persoalan ini dengan mengemukakan ayat-ayat Kitabullah. Kemudian tentang peningkatan hidup yang suci atau takwa dan perlunya memerangi perbuatan dosa/ma'siat.
Selesai berbicara, lalu saya duduk. Saya berbicara dengan sepenuh perasaan, dan saya dengar orang-orang di seluruh pelosok mesjid pada berteriak: Allaahu Akbar!!! Terasalah pengaruh dan semangatnya yang merata ke seluruh tempat, dan saya tidak bisa mengingat-ingat lagi apa yang terjadi kemudian pada waktu itu, selain di atas mimbar Aslam memanggil dan memegang pergelangan tangan saya keluar dari Mesjid.
Saya bertanya kepadanya: "Mengapa terburu-buru?"
Orang-orang pada berdiri dan memeluk saya. Berapa banyak orang-orang miskin yang melihat dengan mata sayu kepada saya, meminta do'a restu dan mereka menginginkan dapat mencium kepala saya.
Baca juga: Kisah Perjalanan Muhammad Ali Menjadi Seorang Mualaf
Saya berseru kepada Allah supaya tidak membiarkan jiwa-jiwa yang tidak berdosa ini melihat kepada saya seakan-akan saya berderajat lebih tinggi dari pada mereka.
Pada hal saya ini tidak lebih dari salah satu binatang yang melata di bumi, atau seorang yang sedang kebingungan mencari kebenaran. Saya tidak berdaya dan tidak mampu, sama seperti makhluk-makhluk yang lain.
Saya merasa malu menghadapi harapan-harapan orang-orang suci itu, dan saya merasa seakan-akan saya telah menipu mereka. Alangkah beratnya beban yang numpuk pada bahu penguasa dan Sultan. Orang-orang pada menaruh kepercayaan dan minta pertolongan kepadanya dengan perkiraan bahwa penguasa itu dapat mengerjakan apa yang mereka sendiri tidak mampu.
Aslam mengeluarkan saya dari kerumunan dan pelukan saudara-saudara saya yang baru dan mendudukkan saya pada sebuah tonga (kendaraan beroda dua di India) dan membawa saya pulang ke rumah. Pada hari-hari berikutnya, orang berbondong-bondong menemui saya untuk menunjukkan suka cita, dan saya merasakan kecintaan dan kebaikan mereka itu cukup menjadi bekal selama hidup saya.
Baca juga: Ini Agama Suami Maudy Ayunda sebelum Mualaf
Terdengarlah suara Adzan, sedang para Mukabbir berdiri di berbagai tempat dalam Mesjid untuk meneruskan suara Adzan ke tempat sejauh dapat dicapainya.
Selesai Adzan, maka berdirilah orang-orang yang bersembahyang yang jumlahnya hampir 4000, seakan-akan barisan tentara, memenuhi seruan Tuhan dengan berjajar rapat dan dengan tekun dan khusyuk. Saya sendiri termasuk salah seorang yang khusyuk itu. Kejadian itu sungguh-sungguh merupakan momentum yang agung.
Baca juga: Catatan Mualaf Jerman Wilfred Hoffman tentang Sejarah Organisasi Islam di Amerika
Selesai sembahyang, Abdul-Hay memegang tangan saya untuk berdiri di muka Mimbar. Saya berjalan hati-hati agar tidak menyentuh orang yang sedang duduk berbaris. Waktu peristiwa besar sudah dekat. Saya berdiri dekat tangga-tangga Mimbar, lalu saya berjalan di antara orang banyak yang saya lihat beribu-ribu kepala bersorban, seakan-akan sebuah kebun bunga.
Mereka semua pada melihat dengan penuh perhatian kepada saya. Saya berdiri dikelilingi para Ulama dengan jenggot jenggot mereka yang kelabu dan dengan penglihatan mereka yang memberi kekuatan. Lalu mereka mengumumkan tentang diri saya, suatu hal yang tidak dijanjikan sebelumnya.
Tanpa ragu-ragu saya naik ke mimbar sampai tangganya yang ketujuh, lalu saya menghadap kepada orang banyak yang seakan-akan tidak ada ujungnya dan seakan-akan lautan yang berombak. Semua tunduk merunduk kepada saya, di halaman Mesjid semua orang bergerak. Saya mendengar orang yang dekat kepada saya mengucapkan "MaasyaaAllah" berkali-kali disertai pandangan yang memancarkan rasa cinta kasih. Kemudian mulailah saya berbicara dalam bahasa Arab:
"Tuan-tuan yang terhormat! Saya datang dari negeri yang jauh untuk mencari ilmu yang tidak bisa didapat, di negeri saya. Saya datang untuk memenuhi hasrat jiwa saya, dan Tuan-tuan telah mengabulkan harapan saya itu."
Lalu saya berbicara tentang peredaran zaman yang dialami oleh Islam dalam sejarah dunia dan tentang beberapa mu'jizat yang Allah pergunakan untuk memperkuat Rasul-Nya SAW.
Baca juga: Kisah Mualaf Asal Amerika Serikat Samir Gustavo Jerez Ungkap Terorisme Militer di Negerinya
Saya juga kemukakan tentang keterbelakangan kaum Muslimin pada zaman akhir-akhir ini, tentang cara-cara yang mungkin bisa mengembalikan kebesaran mereka yang telah hilang dan tentang adanya sebagian orang Islam yang mengatakan bahwa segala sesuatu tergantung sepenuhnya kepada kehendak Allah SWT. Pada hal Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur'anul-Karim:
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum kecuali jika mereka sendiri mau mengubah keadaan dirinya.
Saya memusatkan pembicaraan saya kepada persoalan ini dengan mengemukakan ayat-ayat Kitabullah. Kemudian tentang peningkatan hidup yang suci atau takwa dan perlunya memerangi perbuatan dosa/ma'siat.
Selesai berbicara, lalu saya duduk. Saya berbicara dengan sepenuh perasaan, dan saya dengar orang-orang di seluruh pelosok mesjid pada berteriak: Allaahu Akbar!!! Terasalah pengaruh dan semangatnya yang merata ke seluruh tempat, dan saya tidak bisa mengingat-ingat lagi apa yang terjadi kemudian pada waktu itu, selain di atas mimbar Aslam memanggil dan memegang pergelangan tangan saya keluar dari Mesjid.
Saya bertanya kepadanya: "Mengapa terburu-buru?"
Orang-orang pada berdiri dan memeluk saya. Berapa banyak orang-orang miskin yang melihat dengan mata sayu kepada saya, meminta do'a restu dan mereka menginginkan dapat mencium kepala saya.
Baca juga: Kisah Perjalanan Muhammad Ali Menjadi Seorang Mualaf
Saya berseru kepada Allah supaya tidak membiarkan jiwa-jiwa yang tidak berdosa ini melihat kepada saya seakan-akan saya berderajat lebih tinggi dari pada mereka.
Pada hal saya ini tidak lebih dari salah satu binatang yang melata di bumi, atau seorang yang sedang kebingungan mencari kebenaran. Saya tidak berdaya dan tidak mampu, sama seperti makhluk-makhluk yang lain.
Saya merasa malu menghadapi harapan-harapan orang-orang suci itu, dan saya merasa seakan-akan saya telah menipu mereka. Alangkah beratnya beban yang numpuk pada bahu penguasa dan Sultan. Orang-orang pada menaruh kepercayaan dan minta pertolongan kepadanya dengan perkiraan bahwa penguasa itu dapat mengerjakan apa yang mereka sendiri tidak mampu.
Aslam mengeluarkan saya dari kerumunan dan pelukan saudara-saudara saya yang baru dan mendudukkan saya pada sebuah tonga (kendaraan beroda dua di India) dan membawa saya pulang ke rumah. Pada hari-hari berikutnya, orang berbondong-bondong menemui saya untuk menunjukkan suka cita, dan saya merasakan kecintaan dan kebaikan mereka itu cukup menjadi bekal selama hidup saya.
Baca juga: Ini Agama Suami Maudy Ayunda sebelum Mualaf
(mhy)
Lihat Juga :