Sejarah Masuknya Islam di Korea dan Perkembangannya
Jum'at, 30 Desember 2022 - 22:13 WIB
loading...
Masjid Pusat Seoul di Hannam-dong, Seoul Korea Selatan memberi kontribusi terhadap perkembangan pesat Islam di Korea. Foto/dok presstv
A
A
A
Sejarah masuknya Islam di Korea dan perkembangannya menarik untuk diketahui. Korea merupakan negara yang terletak di semenanjung Korea di Asia Timur laut.
Negara ini terbagi menjadi dua setelah Perang Dunia ke-2 Tahun 1945 yaitu Republik Rakyat Demokratik Korea (Korea Utara) dan Republik Korea di bagian selatan (Korea Selatan). Kehidupan beragama di Korea cukup beragam, didominasi Budha, Kristen, Konfusianisme (agama teradisional) dan Islam menjadi agama minoritas.
Adapun Korea Selatan didominasi Buddha, Kristen, agama tradisional (Shamanisme). Namun warga yang tidak terafiliasi dengan agama apapun mencapai 46 persen. Sedangkan Korea Utara lebih banyak atheis sesuai ideologi Komunis mereka. Meski demikian warga Korea Utara ada yang menganut Budha dan Kristen.
Warga Korea yang beragama Islam bisa dikatakan sedikit, sehingga menjadi salah satu agama minoritas di sana. Warga muslim Korea diperkirakan mencapai 100 ribu hingga 200 ribu orang. Sebagian besar mereka adalah para imigran.
Sejarah masuknya Islam di Korea dimulai sejak pecahnya perang Korea pada 25 Juni 1950. Zubercoch dan Abdul Rahman yang ikut serta dalam Perang Korea sebagai anggota dinas militer Korea mulai memperkenalkan Islam.
Tentara Turki PBB itu ditempatkan di Korea. Selama pengabdiannya ia membangun gubuk Quonset yang digunakan sebagai Masjid, tempat mendakwahkan ajaran Islam kepada warga Korea.
Sebagai langkah awal menuju karya Islam yang efektif di Korea, para ikhwan Muslim awal mengorganisir sebuah masyarakat Muslim Korea. Umat Islam ini memilih Almarhum Muhammad Umar Kim Jin Kyu sebagai presiden.
Kemudian, para pemimpin Muslim Korea diundang untuk mengunjungi Negara-negara Islam dan beberapa Muslim Korea dikirim ke Muslim College di Malaysia untuk dilatih sebagai pekerja dan pemimpin Islam masa depan.
Dikutip dari islamawareness, delegasi Malaysia yang dipimpin Wakil Menteri Tunku Abdul Razak dan istrinya, mengunjungi lokasi masjid yang diusulkan. Belakangan Haji Mohammad Nuh, seorang pejabat pemerintah Malaysia, melihat perlunya didirikan tempat yang permanen untuk melakukan kegiatan dakwah.
Maka, dengan sumbangan pemerintah Malaysia sebesar $33.000, ia menyerahkan uang tersebut kepada komunitas Muslim Korea untuk membangun sebuah masjid pada tahun 1963. Sayangnya, pembangunan masjid itu tidak dapat diselesaikan karena berbagai alasan di antaranya adalah inflasi.
Negara ini terbagi menjadi dua setelah Perang Dunia ke-2 Tahun 1945 yaitu Republik Rakyat Demokratik Korea (Korea Utara) dan Republik Korea di bagian selatan (Korea Selatan). Kehidupan beragama di Korea cukup beragam, didominasi Budha, Kristen, Konfusianisme (agama teradisional) dan Islam menjadi agama minoritas.
Adapun Korea Selatan didominasi Buddha, Kristen, agama tradisional (Shamanisme). Namun warga yang tidak terafiliasi dengan agama apapun mencapai 46 persen. Sedangkan Korea Utara lebih banyak atheis sesuai ideologi Komunis mereka. Meski demikian warga Korea Utara ada yang menganut Budha dan Kristen.
Warga Korea yang beragama Islam bisa dikatakan sedikit, sehingga menjadi salah satu agama minoritas di sana. Warga muslim Korea diperkirakan mencapai 100 ribu hingga 200 ribu orang. Sebagian besar mereka adalah para imigran.
Sejarah masuknya Islam di Korea dimulai sejak pecahnya perang Korea pada 25 Juni 1950. Zubercoch dan Abdul Rahman yang ikut serta dalam Perang Korea sebagai anggota dinas militer Korea mulai memperkenalkan Islam.
Tentara Turki PBB itu ditempatkan di Korea. Selama pengabdiannya ia membangun gubuk Quonset yang digunakan sebagai Masjid, tempat mendakwahkan ajaran Islam kepada warga Korea.
Sebagai langkah awal menuju karya Islam yang efektif di Korea, para ikhwan Muslim awal mengorganisir sebuah masyarakat Muslim Korea. Umat Islam ini memilih Almarhum Muhammad Umar Kim Jin Kyu sebagai presiden.
Kemudian, para pemimpin Muslim Korea diundang untuk mengunjungi Negara-negara Islam dan beberapa Muslim Korea dikirim ke Muslim College di Malaysia untuk dilatih sebagai pekerja dan pemimpin Islam masa depan.
Dikutip dari islamawareness, delegasi Malaysia yang dipimpin Wakil Menteri Tunku Abdul Razak dan istrinya, mengunjungi lokasi masjid yang diusulkan. Belakangan Haji Mohammad Nuh, seorang pejabat pemerintah Malaysia, melihat perlunya didirikan tempat yang permanen untuk melakukan kegiatan dakwah.
Maka, dengan sumbangan pemerintah Malaysia sebesar $33.000, ia menyerahkan uang tersebut kepada komunitas Muslim Korea untuk membangun sebuah masjid pada tahun 1963. Sayangnya, pembangunan masjid itu tidak dapat diselesaikan karena berbagai alasan di antaranya adalah inflasi.
Lihat Juga :