Muhasabah Bukan Teori, Segera Lakukan
Rabu, 11 Januari 2023 - 10:24 WIB
loading...
Sebagai seorang muslim, kita dianjurkan melakukan muhasabah setiap hari, hal ini untuk meringankan kita saat dihisab kelak. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Bagi seorang hamba, melakukan muhasabah terhadap dirinya harus dilakukan setiap hari. Waktu yang terbaik untuk muhasabah adalah di kala hening dan sepi seusai Sholat Tahajud. Sambil berzikir, hendaknya seseorang mengingatkan kepada dirinya sendiri tentang hakikat hidup dan penciptaan dia di dunia, ke mana ia akan kembali setelah kematian, dan selama ini sibuk dengan amal akhirat atau melupakan akhirat dan mengejar dunia?
Muhasabah akan membantu seorang hamba menjadi orang bertakwa. Muhasabah akan membantu seseorang menghadapi berbagai rintangan yang ia temukan dalam pencariannya bekal takwa tersebut. Muhasabah akan memotivasi dirinya lebih giat beribadah mendekat kepada Allah Ta'ala daripada sekadar menjalani rutinitas kehidupan.
Baca juga: Ayat-ayat Al-Qur'an tentang Anjuran Muhasabah Diri
Saking pentingnya muhasabah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa-nya, memberi nasehat penting bahwa setiap muslim harus menyiapkan dan meluangkan waktu khusus untuk bermuhasabah. Dan jangan menunda muhasabah, yakni hendaklah setiap jiwa melihat apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok.
Berkata Ibnu Taimiyah, hendaklah seorang hamba segera memiliki waktu-waktu khusus menyendiri untuk berdoa, shalat, merenung, muhasabah, dan memperbaiki hatinya. Sebab muhasabah merupakan perintah dari AllahSubhaanahu wa Ta’ala. Muhasabah bukan teori tapi harus dilakukan.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr : 18)
Dengan muhasabah maka masalah dan problem kehidupan bisa ditemukan solusinya. Seorang akan merenungi sudah sampai mana bekal yang ia siapkan untuk kampung abadi akhirat kelak? Bagaimana jika ia tiba-tiba meninggal, siapkah? Apa kekurangan dirinya sehingga bisa dia perbaiki? Apakah akhlaknya sudah bagus atau akhlaknya buruk? Apakah ia sudah mempelajari agama sebagai jalan utama masuk surga dan dijauhkan dari neraka? Dan perenungan lainnya.
Nabi Shallalahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :
"Orang yang pandai dan cerdas itu adalah, orang yang mampu mengevaluasi dirinya dan beramal (mencurahkan semua potensi) untuk kepentingan seteIah mati. Sedangkan orang yang lemah ialah, orang yang mengikuti hawa nafsunya kemudian berangan-angan kosong kepada Allah.” (HR.Tirmidzi)
Harus disadari bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menunjukkan kepada kita perkara yang agung. yaitu muhasabah. Barang siapa melakukan muhasabah, maka ia akan mengetahui ketaatan maupun kemaksiatan yang telah ia kerjakan. Sehingga, apabila ia melakukan ketaatan, hendaklah diteruskan. Dan apabila melakukan kemaksiatan, maka ia wajib untuk berhenti dan meninggalkannya.
Muhasabah juga sangat membantu seseorang untuk istiqamah di jalan Allah Ta’ala. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma : ”Barang siapa yang dihisab oleh Allah, maka sesungguhnya Allah akan mengadzabnya”.
Muhasabah akan membantu seorang hamba menjadi orang bertakwa. Muhasabah akan membantu seseorang menghadapi berbagai rintangan yang ia temukan dalam pencariannya bekal takwa tersebut. Muhasabah akan memotivasi dirinya lebih giat beribadah mendekat kepada Allah Ta'ala daripada sekadar menjalani rutinitas kehidupan.
Baca juga: Ayat-ayat Al-Qur'an tentang Anjuran Muhasabah Diri
Saking pentingnya muhasabah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa-nya, memberi nasehat penting bahwa setiap muslim harus menyiapkan dan meluangkan waktu khusus untuk bermuhasabah. Dan jangan menunda muhasabah, yakni hendaklah setiap jiwa melihat apa yang telah ia persiapkan untuk hari esok.
Berkata Ibnu Taimiyah, hendaklah seorang hamba segera memiliki waktu-waktu khusus menyendiri untuk berdoa, shalat, merenung, muhasabah, dan memperbaiki hatinya. Sebab muhasabah merupakan perintah dari AllahSubhaanahu wa Ta’ala. Muhasabah bukan teori tapi harus dilakukan.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَـنْظُرْ نَـفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِۢمَا تَعْمَلُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr : 18)
Dengan muhasabah maka masalah dan problem kehidupan bisa ditemukan solusinya. Seorang akan merenungi sudah sampai mana bekal yang ia siapkan untuk kampung abadi akhirat kelak? Bagaimana jika ia tiba-tiba meninggal, siapkah? Apa kekurangan dirinya sehingga bisa dia perbaiki? Apakah akhlaknya sudah bagus atau akhlaknya buruk? Apakah ia sudah mempelajari agama sebagai jalan utama masuk surga dan dijauhkan dari neraka? Dan perenungan lainnya.
Nabi Shallalahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :
"Orang yang pandai dan cerdas itu adalah, orang yang mampu mengevaluasi dirinya dan beramal (mencurahkan semua potensi) untuk kepentingan seteIah mati. Sedangkan orang yang lemah ialah, orang yang mengikuti hawa nafsunya kemudian berangan-angan kosong kepada Allah.” (HR.Tirmidzi)
Harus disadari bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menunjukkan kepada kita perkara yang agung. yaitu muhasabah. Barang siapa melakukan muhasabah, maka ia akan mengetahui ketaatan maupun kemaksiatan yang telah ia kerjakan. Sehingga, apabila ia melakukan ketaatan, hendaklah diteruskan. Dan apabila melakukan kemaksiatan, maka ia wajib untuk berhenti dan meninggalkannya.
Muhasabah juga sangat membantu seseorang untuk istiqamah di jalan Allah Ta’ala. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma : ”Barang siapa yang dihisab oleh Allah, maka sesungguhnya Allah akan mengadzabnya”.
Lihat Juga :